Jelita

Pribadi yang Cantik di Tahun Baru

Nyoman Wiraadi Tria Ariani, S.Psi., M.Psi.

Mendengar kata tahun baru, apa yang terlintas dibenak kita? Pesta kembang api? Makan-makan? Begadang tengah malam? Liburan? Resolusi? Apa pun itu pasti setiap orang memiliki makna tersendiri mengenai momen tahun baru. Apa sudah sebagian besar resolusi tahun 2017 tercapai? Atau malah ada yang hanya wacana? Ataukah hanya membuat resolusi yang sama dari tahun ke tahun,  tapi belum terwujud juga?

Menurut Psikolog, Nyoman Wiraadi Tria Ariani, S.Psi., M.Psi., banyak sekali pertanyaan yang dapat diajukan ke diri sendiri sebagai bahan evaluasi untuk melihat sudah sejauh mana kita melangkah. “Jika kita belum melangkah sama sekali, maka kemungkinan ada hal yang menghambatnya. Pernahkah kita sadari, penghambat utama langkah kita adalah diri kita sendiri.  Mari kita bercermin dahulu, melihat ke dalam diri sendiri, dan cobalah untuk jujur saat kita melakukan introspeksi diri,” ujarnya.

Ia mengatakan, jujur menjadi penting,  supaya kita mendapat gambaran diri yang sesungguhnya. Sadarkah kita bahwa “hari ini” adalah jawaban dari doa masa lalu yang pernah kita ucapkan baik secara sadar maupun hanya sekadar bercanda. “Hati-hatilah dalam berucap, karena semesta alam ini bisa mendengar seluruhnya. Begitu pula, apa yang kita ucapkan “hari ini” bisa terjadi di masa depan. Oleh karena itu, kita harus senantiasa mempersiapkan diri dengan segala hal yang akan terjadi. Ia menegaskan, perlu diingat, pikiran kita inilah yang lebih menarik pengalaman-pengalaman untuk membenarkan apa yang kita percayai sehingga evaluasi diri atau yang lebih dikenal dengan introspeksi diri merupakan hal penting yang harus dilakukan karena berfungsi sebagai controler dan reminder dalam kehidupan kita. “Introspeksi diri yang paling baik adalah yang paling jujur dan penuh kesadaran. Semakin banyak kita memahami apa yang telah/sedang/akan kita lakukan, maka kita akan semakin memahami siapa diri kita ini,” katanya.

Jadi, bagaimana cara melakukan introspeksi diri secara penuh kejujuran dan kesadaran?

Yang pertama, bertanya pada diri sendiri tentang diri ini agar kita semakin mengetahui apa kelemahan dan kekuatan di dalam diri kita. Kedua, mendengarkan orang lain, karena dengan mendengarkan pendapat orang lain, kita bisa melihat diri ini dari sisi yang berbeda. Ketiga, aktif mencari informasi mengenai diri sendiri. Mirip dengan mendengarkan orang lain, tapi cara ini lebih luas lagi karena sasarannya orang-orang yang baru kita kenali, karena mereka bisa menilai hal-hal yang mungkin belum kita ketahui. Keempat, dengan meningkatkan keterbukaan diri, karena akan mendapatkan hal-hal baru yang akan semakin memperkaya informasi mengenai diri kita, dan dapat mengasah kemampuan diri kita dalam berinteraksi sosial.

Lalu, bagaimana cara agar kita dapat memperbaharui kualitas diri ini,  sehingga bisa hidup lebih bahagia dan sehat secara mental maupun fisik. Pertama, aktif bergerak secara alami. “Yang dimaksud bergerak secara alami itu sebetulnya badan kita ini tak perlu dipaksakan untuk bergerak lewat olahraga, tetapi kita bisa aktif bergerak sehari-hari seperti memilih naik tangga dibanding lift, rutin menyapu, membereskan rumah, dan sebagainya,” ujarnya.

Ia memberi contoh sederhana, mencuci pakaian sendiri tanpa bantuan mesin cuci karena saat mencuci baju, melatih koordinasi gerak kedua tangan, yaitu tangan kanan menyikat baju dan tangan kiri memegang baju supaya tidak bergerak saat disikat. Lalu setelah mencuci, saat menjemur ini melatih koordinasi gerakan kaki dan tangan, yaitu ketika mengambil baju di ember, maka kedua kaki ditekukkan lalu kedua tangan mengambil baju dan diletakkan di-hanger kemudian digantung di tempat penjemuran. Kedua, kita perlu mengetahui tujuan hidup kita, karena dengan memiliki tujuan hidup maka akan menambah value dalam hidup ini. Setiap kita bertindak akan memiliki pegangan sehingga hidup ini mengarah ke tujuan yang ingin dituju. Ketiga, me-time. “Secara rutin, selalu miliki waktu khusus untuk diri sendiri, seperti melakukan hal-hal kita sukai dan menikmati hobi. Gali diri kita lebih dalam melalui waktu-waktu seperti ini, sesekali lepaskan diri kita dari apa pun di luar sana. Contohnya, saya selalu bernyanyi untuk melepaskan penat sekaligus mengeluarkan unek-unek dalam diri, dan membantu merilekskan pikiran saya,” sarannya.

Keempat yang harus dilakukan, tahu kapan harus berhenti. Gunakanlah aturan 80%,  maksudnya, berhenti makan saat perut terasa 80% kenyang, jangan sampai kekenyangan. Beristirahatlah saat tenaga sudah mulai habis. Menepilah ketika lelah berlari. Jangan memaksakan atau memforsir tubuh karena akan menjadi sumber penyakit.

Hal penting lainnya, kata dia, adalah  jaga pola makan. Hal yang klise, tetapi membuahkan efek yang luar biasa bagi tubuh kita. “Memiliki kesadaran untuk memilih makanan sehat yang akan berdampak pada kesehatan jangka panjang kita. Ingat, sehat itu mahal. Jangan sampai tabungan kita terkuras untuk membayar biaya penyembuhan sakit kita,” kata asesor psikologi ini.

Menurut perempuan usia 26 tahun ini, menjaga  hubungan dengan keluarga/teman-teman terdekat sangat bagus karena mereka merupakan support system terbaik ketika kita sedang terpuruk. “Kita membutuhkan bantuan orang lain untuk mendukung, menyemangati, dan meyakinkan kita bahwa kita bisa melewati masalah hidup. Selain itu,  bergabung ke dalam kelompok yang kita butuhkan dapat membuat kita lebih bahagia, sehat secara mental dan fisik,” ucapnya.

Ia juga menyarankan,  berani mengatakan tidak. Katakan tidak pada hal-hal yang enggan kita lakukan. Jangan menjadi “orang yang gak enakan” karena akan mempersulit hidup kita.

Tips lain, berteman atau berkumpullah dengan orang-orang yang tepat, orang-orang yang membuat kita bahagia dan sehat mental maupun fisik. Jangan sampai kita terjebak dalam toxic relationship, sehingga berpengaruh ke dalam kualitas diri dan hidup kita. “Pilah dan pilihlah teman yang bisa saling menguatkan, yang saling membahagiakan, kelilingi diri kita dengan orang-orang yang berdampak positif dalam hidup kita. Kalau ada teman yang hanya suka bergosip dan memberikan pengaruh negatif kepada Anda, sudah saatnya Anda tinggalkan,” ujarnya. Jadi, apakah Anda  sudah siap melangkah di Tahun Baru 2018? (Wirati Astiti)

To Top