Mozaik

Safety Jadi Prioritas

‘Malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih’.  Pepatah itu menggambarkan datangnya bencana tanpa diduga. Kadang sekalipun kita sudah berusaha berhati-hati namun malapetaka datang di luar dugaan. Di dunia entertainment pun hal itu kadang terjadi. Suatu yang sudah diperhitungkan masak-masak untuk menghindari hal-hal tak diinginkan, kadang malah berakhir tragis.

Salah satu peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan adalah kasus kecelakaan stuntman Edison Wardhana dalam pertunjukan berbahaya kreasi ilusionis Demian Aditya yang ditayangkan sebuah stasiun televisi. Dalam pertunjukan yang diberi label ‘Death Drop’ itu,  Edison yang menjadi pemeran pengganti  Demian, terjebak dalam peti   yang  terjun bebas dari ketinggian. Edison terluka parah dan sempat koma. Beruntunglah, akhirnya Edison berhasil melewati masa kritisnya, dan berangsur membaik lewat serangkaian operasi.

Demian dalam jumpa pers baru-baru ini menjelaskan, kejadian menyedihkan itu benar-benar di luar perkiraan karena sesungguhnya dia bersama timnya telah mempersiapkan dan memperhitungkan secara matang segalanya, khususnya dari aspek keamanan. Tapi ibarat malang tak dapat ditolak untung tak dapat diraih, musibah itu datang.

“Semua persiapan kami sudah sesuai SOP, termasuk masalah safety-nya sudah dipersiapkan matang-matang. Tapi di luar dugaan kami mengalami musibah. Kami tidak menyalahkan siapa-siapa, saya yang bertanggung jawab,” ucap Demian yang sampai kini masih fokus pada penanganan kesehatan Edison.

Bicara kecelakaan kerja ataupun cedera dalam bekerja memang tak dapat dihindari sekalipun segala persiapan menyangkut safety telah dilakukan. Itu juga diakui oleh Iko Uwais, aktor laga Indonesia yang tengah naik daun. Bermain di film laga, kata Iko,  memiliki potensi untuk terkena cedera, memar atau bahkan bisa fatal. Karena itu unsur safety selalu menjadi perhatian penting dan semua yang terlibat harus memahami tekniknya. Sudah begitupun, tak jarang, masih terjadi masalah seperti cedera atau luka akibat pukulan yang nyasar atau karena lainnya.

“Namun kita di sini selalu berupaya meminimalisir hal-hal seperti itu. Kadang kita sudah hati-hati, waspada, masih juga kena satu-dua pukulan nyasar,” ungkap pemeran film ‘Beyond the Skyaline’ yang mengaku pernah mengalami cedera yang lumayan serius saat syuting sebuah film. Padahal boleh dibilang, Iko bukan hanya menguasai dengan baik ilmu bela diri tapi dia juga tahu persis bagaimana pengamanan saat melakukan adegan ekstrem.

“Kalau kena pukulan nyasar pernah, bahkan bukan pernah lagi tapi sering hahaha. Jadi walaupun kita terlatih, pasti pernah lah mengalami. Tapi kita kan dalam melakukan adegan-adegan ekstrem berupaya seminimal mungkin meminimalisir. Semua yang berpengalaman pasti melakukan itu. Namun kadang ada saja kejadiannya.Misalnya saat benturan-benturan seperti adegan memukul, kita tidak bohong-bohong memukulnya. Cuma kan ada area-areanya, juga kontrolnya. Full body contact, pukul di area badan. Kita sudah percaya dengan tim partner kita. Mereka tahulah. Kecuali wajah, kita cover. Cuma ya begitulah, kalau sudah di lapangan ada saja, satu-dua kali kena juga. Ya tidak sengaja,” ungkap Iko yang juga sempat terluka saat syuting film ‘Headshot’.

Tapi cedera cukup parah sempat dialami Iko saat syuting The Raid 1, yang membuat dengkulnya bergeser. “Ligamen saya agak robek,” ujar Iko tentang pengalamannya beberapa tahun lalu. Gara-gara kejadian itu, Iko terpaksa harus menjalani proses penyembuhan selama tiga minggu.

“Kejadiannya waktu itu pas saya dibanting—sebenarnya sih itu sudah biasa ya—Cuma saat itu jatuhnya tidak seperti biasanya. Biasanya jatuhnya dilepas dan saya kontrol supaya aman. Nah ketika kejadian itu, pas dibanting kemudian jatuh, lalu fighter-nya menarik lagi. Jadi otomatis slidingnya bukan seperti biasanya. Akhirnya ligamen saya robek,” papar mantan atlet sepak bola itu. Soal safety, tegas Iko, selalu berupaya dilakukannya. Dengan teknik safety, seharusnya apapun dan bagaimana jatuhnya, tidak berakibat fatal.

PELAJARI TEKNIKNYA

Lain lagi dengan cerita Julie Estelle Gasnier. Artis yang  berlatar belakang model dan bintang iklan ini boleh dibilang cukup nekat terjun ke dunia film laga sekalipun tidak memiliki latar belakang bela diri. Menurutnya, film laga memiliki tantangan tersendiri yang berbeda dengan film-film yang biasa diperankannya.

“Main film action tantangannya berbeda dibanding film drama ataupun komedi. Kalau drama tantangannya adalah emosi, sedang action tantangannya emosi dan fisik,” ujar Julie yang sedang menyelesaikan syuting tahap akhir dalam film laga terbarunya ‘The Night Comes for Us’ yang bakal tayang 2018 mendatang.

Yang pasti, tutur Julie, semua adegan sudah diperhitungkan masak-masak termasuk unsur safety-nya. Tim fighter sudah tahu apa yang harus dilakukan. Jadi sekalipun dalam tampilan di layar lebar seolah perkelahian benar terjadi, namun sebenarnya untuk adegan-adegan itu ada koreografi-nya.

“Sejauh ini belum pernah cedera berat. Sebelum syuting kita selalu latihan safety. Misalnya bagaimana jatuh yang aman, cara memberi pukulan dan menghadapi pukulan, dll. Jadi kita belajar teknik-tekniknya,” jelas pemeran ‘Arni Kumalasari’ dalam film ‘Gerbang Neraka’ yang rela tubuhnya memar-memar akibat aksi full body contact.

Untuk film laga ‘The Night Comes for Us’ ini,  Julie  belum bisa bercerita banyak, hanya saja untuk film ini dia mengaku perlu beberapa bulan untuk berlatih bela diri karena dia akan melakukan adegan fight dalam film itu. “Latihan fisik, beladiri, stamina kemudian koreografinya,” tutur artis yang namanya melejit dibelantika perfilman setelah membintangi film ‘Alexandria’ 2005 lalu.(Diana Runtu)

To Top