Bunda & Ananda

Pentingkah Tes Kecerdasan bagi Perkembangan Anak?

Dr. Drs. I Made Darmada, M. Pd.

Manusia diklasifikasikan sebagai Homo sapiens (manusia ingin tahu) yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Berbicara tentang manusia dan otak berkemampuan tinggi, ini berarti bersentuhan antara manusia sebagai individu dan intelegensi.

Manusia sebagai individu, dijelaskan Dr. Drs. I Made Darmada, M. Pd. tidak dapat diparsialkan, dipisahkan, dan manusia itu unik. Individu harus dipandang sebagai pribadi yang utuh, tidak terlepas dari satu kesatuan yang memiliki sifat  sebagai makhluk individu dan sosial. Individu juga merupakan satu kesatuan antara jasmani dan rohani. Manusia sebagai insan Tuhan. “Pengertian individu ini sangat jelas menandakan bahwa manusia memiliki keragaman karakaterisik yang patut kita ketahui sebagai dasar memahami individu sebagai makhluk berintelegensi,” ujar Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) IKIP PGRI Bali ini.

Individu dalam keragaman karakteristiknya, dapat juga dipilah menjadi beberapa aspek di antaranya: individu pada akhir masa kanak-kanak (late childhood) yaitu pada usia enam tahun sampai matang secara seksual atau individu tingkat sekolah dasar; dan keragaman paling penting yaitu kecakapan (ability) dan kepribadian. Selanjutnya, faktor-faktor yang mempengaruhi keragaman individu dapat dijadikan kunci penentu individu: pembawaan (heredity) yang bersifat alamiah (nature); lingkungan (environmental) yaitu faktor di luar individu yang merupakan kondisi yang memungkinkan terjadinya proses perkembangan; dan, waktu (time) yaitu saat tibanya kematangan (maturation).

Setelah individu memahami keragaman karakteristiknya, selanjutnya individu harus mengetahui makna dari perkembangan yang terdiri dari tiga aspek yaitu, pertumbuhan, perkembangan, dan kematangan. Hal ini dapat dijelaskan bahwa pertumbuhan berkaitan dengan perubahan alamiah secara kuantitatif dan menyangkut peningkatan ukuran secara struktur biologis.

Perkembangan terkait dengan proses perubahan dalam pertumbuhan pada suatu waktu sebagai fungsi kematangan dan interaksinya dengan lingkungan yang dicerminkan dari perubahan psikologis. Kematangan terkait dengan perubahan yang terjadi pada masa-masa tertentu yang merupakan titik kulminasi dari suatu fase pertumbuhan, dan kesiapan awal dari suatu fungsi psikofisik untuk menjalankan fungsinya. “Setelah dipahami individu dalam pertumbuhan dan perkembangan serta kematangan secara singkat, baru kita menelusuri konsep intelengensi/kecerdasan,” ucapnya.

Konsep intelegensi diuraikan menjadi empat. Pertama, intelegensi sebagai kemampuan mental umum yang mendasari kemampuan untuk mengatasi kerumitan kognitif. Kedua, intelegensi berkaitan dengan beberapa kemampuan, di antaranya kemampuan pemecahan masalah, kemampuan berpikir abstrak, keahlian dalam pembelajaran. Ketiga, intelegensi tidak hanya terdiri dari satu faktor yang umum saja (general factor) tetapi juga terdiri dari faktor-faktor yang lebih spesifik. Keempat, intelegensi sebagai potensi bawaan (potential ability) yang dikaitkan dengan keberhasilan individu dalam bidang akademik di sekolah.

Selanjutnya, ada beberapa temuan berupa hasil penelitian menggambarkan bahwa  lingkungan  sangat menentukan individu terkait dengan intelegensinya. Made Darmada mengungkapkan beberapa hasil temuan. Pertama, pengalaman sekolah mempengaruhi perkembangan inteligensi. Kedua, anak-anak yang memiliki pengalaman pendidikan prasekolah sebelum memasuki SD menunjukkan kemajuan yang lebih besar dalam rata-rata IQ mereka daripada anak-anak yang tidak mengikuti prasekolah. Ketiga, eksperimen terhadap anak kembar identik yang dibesarkan di lingkungan keluarga dan sekolah yang berbeda ternyata IQ yang tadinya identik menunjukkan  adanya perbedaan sekitar 15 butir. Keempat, semakin baik tinggi kualitas lingkungan rumah, cenderung semakin tinggi pula IQ anak.

Di sisi  lain, bahwa kesulitan individu dalam belajar harus dipahami dalam memperoleh pengalaman belajarnya. Katakanlah kasus kesulitan belajar secara individual, sehingga dimungkinkan ada beberapa sumber penyebab kesulitan belajar tersebut. Di antaranya, pertama, kemampuan dasar atau potensi yang terdiri dari intelegensi, dan  bakat. Kedua, yang bukan bersifat potensial yaitu kurangnya memiliki keterampilan dan pengetahuan dasar yang diperlukan dari suatu bidang studi/spektrum keahlian. Ketiga, aspek fisik yaitu kesehatan, gangguan pancaindra, kecacatan lainnya yang berdampak menyulitkan dalam belajar. Keempat, emosional yaitu kecemasan, phobia, penyesuaian/adaptasi yang salah. Kelima, kurang minat dan motivasi belajar. Keenam, sikap dan kebiasaan belajar yang negatif. Ketujuh, kurang konsentrasi. “Berikutnya, kurang mampu menyesuaikan diri, dan masih perlu dicari lagi kesulitan belajar di zaman now ini,” jelasnya.

TEST IQ JADI BASIC

Kemampuan individu diakses dari hasil temuan praksis di lapangan, dan hasil-hasil penelitian para pakar serta hasil pengamatan Made Darmada di beberapa lembaga formal maupun non formal. Bahkan, pada komunitas/masyarakat (informal), kehebatannya dapat digambarkan melalui tes IQ. Karena itu, ia menegaskan pengambaran hasil tes IQ dapat dijadikan modal awal atau basic spot bagi individu untuk dapat tumbuh kembang sesuai dengan potensinya.

Penerapan tes IQ paling tidak bertujuan untuk memberikan gambaran nyata tentang akademik bagi individu. Penggambaran akademik melalui tes IQ hanya dapat mengukur kemampuan verbal/linguistik dan matematika/critical pada individu. Kenyataan di lapangan bahwa pelaku/tester IQ selain hanya untuk mengetahui hasilnya.Tester IQ seyogyanya yang terpenting melihat dampak dari hasil tester IQ tersebut. “Berbicara tentang dampak dari hasil tester  IQ di zaman now harus di barengi dengan follow up nya.

 

Hasil tes IQ dapat memberikan dampak positif/solusi bagi individu bila diinterpretasikan dengan benar sesuai dengan tujuan peruntukannya. Dalam perkembangan zaman zonasi ini terkait dengan rekrutmen peserta didik baru, pengambil kebijakan harus memposisikan anak yang belajar sesuai dengan potensinya. Made Darmada berpendapat bahwa betapa penting tes IQ yang dibarengi pula dengan tes minat/bakat, serta tes kreativitas dalam upaya menjadikan anak bangsa yang unggul.

Hasil tes IQ akan dapat mengetahui kemampuan verbal dan kritikel anak bangsa ini.  Hasil test bakat/minat akan dapat mengetahui kemampuan terkait dengan spektrum keahliannya/penjurusan yang menghasilkan anak bangsa yang kooperatif dan  mampu berkolaboratif. Selanjutnya, yang lebih penting lagi dilakukan tes kreativitas yang berujung pada anak bangsa yang kompetitif.

“Seyogianya lembaga pendidikan melakukan ketiga tes tersebut untuk menjawab tantangan zaman ekonomi kreatif ini. Zaman ini pasti kita menangkan dengan elegan karena kita adalah adi budaya dalam budaya adiluhung ini. Amerika boleh jaya dalam keadi-dayaan, tetapi kita Indonesia jaya dalam keadibudayaan. Karena itu, mari kita kawal individu anak bangsa ini dengan baik dan benar,” ujarnya.

Kejayaan dapat diraih melalui pendidikan berbasis pada kekuatan generasi penerus yang berotak cemerlang yang dapat melahirkan ide, gagasan, dan konsep yang dapat direlialitkan secara unggul sehingga diyakini menakjubkan peradaban sesuai dengan zamannya. (Inten Indrawati)

To Top