Inspirasi

Putu Nuniek Hutnaleontina: Ilmu tak Pernah Habis

Dalam hidup ini diperlukan seorang guru yang bisa menuntun kita dan memberikan role model yang positif. Menjadi seorang guru, sangatlah mulia meski  tanggung jawabnya berat. Sosok guru adalah mereka yang  bisa di ‘gugu, ditiru dan dipercaya’. Jika salah dalam bertindak akan menjadi bumerang bagi dirinya.

Jika seseorang sudah berlabel ‘guru’ maka ia harus memiliki kesadaran yang mendalam bahwa dirinya adalah ‘guru’. Terlepas dari beratnya menjadi guru, ada kenikmatan tersendiri menjalankann tugas mulia ini, karena memberikan bimbingan dan memotivasi agar apa yang diharapkan sang murid tercapai. Begitu disampaikan Putu Nuniek Hutnaleontina, salah seorang guru yoga di Denpasar.

Magister Akuntasi lulusan Unud ini menuturkan menjadi seorang guru perlu passion untuk berbagi ilmu kepada siapa saja. Sepintar apapun seseorang, jika mereka tidak memiliki passion untuk menjadi guru, maka ilmu yang dimiliki orang tersebut tidak akan sampai pada orang lain.

Nana, begitu panggilannya mengatakan kalau dirinya menjadi guru yoga bermula dari ketertarikannya pada manfaat yoga. Ia mengenal yoga dari sang tante, Amrita di tahun 2011. “ Tante saya seorang guru yoga dan dosen di salah satu Universitas swasta di Bali. Sebelumnya tante Amrita belajar yoga di Makasar, dan  akhirnya pindah ke Bali.  “Saya sangat dekat dengan tante Amrita, pada saat mengajar yoga saya pasti ikut kelasnya. Kadang kala tante mengajar kelas private yang notabene tidak boleh ada orang lain.tapi saya tetap ikut, menjadi tukang gulung matras yoga,” katanya terbahak.

Hingga suatu ketika, sang tante nyeletuk, “Nana, kamu jadi guru yoga saja. Gerakan asanamu bagus dan sepertinya cocok menjadi guru yoga”. Namun Nana menjawab  hal tersebut mustahil. “Mana mungkin saya bisa jadi guru yoga. Guru yoga harus seperti tante yang percaya diri dan good looking,” ujar Nana. sambil mengatakan percakapan itu berlalu begitu saja. Dan, tanpa disadarinya kata tantenya terbukti benar dan sekarang ia telah menjadi seorang “Guru Yoga”.

Menurut Nana, sebelum menjadi guru yoga, ia mengalami hal yang membuatnya sadar pentingnya hidup ini. Ia mengalami kecelakaan lalu lintas dan kakinya patah  dan hampir setahun tidak bisa berjalan.  “Pada saat tidak bisa berjalanlah, saya menemukan sesuatu yang tercerahkan, melalui membaca tentang filsafat yoga dan video orang yang lumpuh bisa berjalan karena melakukan yoga asanas,” kata Nana. Ia akhirnya mencoba mempelajari   dan mempraktekkannya untuk kesembuhan kakinya, baik secara psikis  maupuk fisik. “Ternyata benar yoga membuat saya berubah, bangkit dari kesedihan dan  berjalan. Setelah benar-benar pulih saya  pun melakukan petualangan beryoga untuk diri sendiri,” ungkap dosen di Unhi ini.

Di Denpasar ia juga menemukan guru yoga bernama Manohara dan Vidya. “Kedua guru ini yang mengajarkan yoga dan untuk penyembuhan kaki saya. Selanjutnya berdasarkan info dari Guru Vidya, penghobi travelling ini pun bertualang ke berbagai  tempat yoga, mulai dari Sanur, Kuta hingga Ubud, Nana bertemu dengan berbagai guru yoga, baik lokal maupun asing.

Tahun 2015,  Nana merasa asyik beryoga. Ia pun selalu mem-posting aktivitasnya belajar yoga di berbagai tempat. Rupanya, hal ini diperhatikan oleh salah seorang dosen Arsitektur Udayana, Widyastuti dan memintanya untuk melatih yoga di banjarnya. Nana mengaku senang sekaligus khawatir dengan tawaran itu, karena belum memiliki pengalaman. “Bu Widya selalu menyemangati  dan menantang dengan hal-hal yang out of the box, salah satunya  ya menjadi guru yoga ini,” cetusnya.

Nana mengakui jika pertama kali mengajar ia merasa sangat kacau, namun beruntung peserta tidak ngeh kalau dirinya sangat grogi. Kini, seiring waktu Nana pun semakin terbiasa mengajar khususnya  ‘yoga asanas’ bahkan sampai kepada makna kehidupan. Ia pun semakin di kenal berkat promosi dari mulut ke mulut. “Pada saat menjadi guru yoga saya merasakan apa yang saya beri (ilmu), saya juga mendapatkan ilmu dan pengalaman dari murid saya. “I’m impossibel menjadi I’m possible”,” lanjut Nana yang tengah menempuh program doktor Ilmu Ekonomi di Unud ini.

Tahun 2016 , Nana memperoleh beasiswa untuk mendapatkan sertifikat yoga di School of Sacred Arts (SOSA) adalah sekolah aliansi yoga yang menawarkan pelatihan, retreat, dan lokakarya  yang diakui seluruh dunia. “Walaupun saya sekarang sudah menjadi guru yoga yang memiliki sertifikat,  Saya tetap masuk berbagai kelas yoga dan menjadi murid.Tujuannya, agar saya tetap memiliki kerendahan hati bahwa ilmu itu tidak akan pernah habisnya, Di atas langit masih ada langit,” ujarnya.

Pengalaman menjadi seorang guru yoga katanya sangat luar biasa, tidak hanya sebatas mengajarkan gerakan-gerakan asanas (jasmani) yoga saja, melainkan melaksanakan filosofi yoga itu sendiri dimana belajar untuk mengendalikan proses berpikir, menggali kesadaran dalam diri dan berdamai pada diri sendiri. Semua itu tentang keseimbangan hidup di dunia ini. “Mari temukan keseimbangan dalam hidup ini dengan melakukan Yoga. Healthy life, body and mind,” tandasnya.

 (Sri Ardhini)

To Top