Inspirasi

Ernie Djohan: Konser 55 Tahun Berkarya untuk Bangsa

ernie djohan dengan latar belakangi teluk bayur

‘Generasi now’ mungkin tidak seberapa kenal dengan sosok nenek cantik ini. Tapi generasi 1960 hingga 1980-an pasti mengingatnya dengan baik penyanyi legendaris yang memulai debutnya di panggung hiburan sejak masih kanak-kanak dan masih eksis hingga kini. Ya dialah Ernie Djohan, ‘Si Teluk Bayur’ , begitulah julukannya.

Ernie Djohan baru saja menggelar konser meriah di Ballroom Jakarta Theater, Jakarta, bertajuk “55 Tahun Berkarya untuk Bangsa”. Konser ini  menyajikan 22 tembang hits Ernie selama 55 tahun kariernya, di mana kebanyakan lagu tersebut dinyanyikannya sendiri maupun berduet dengan Marcell Siahaan dan Lucky Octavian.

Ketahanan stamina Ernie dalam menyanyi selama hampir dua jam dengan kualitas suara yang tetap terjaga baik mengundang decak kagum para fansnya. Wajar saja penggemarnya mengacungkan jempol, pasalnya saat ini usia Ernie yang  akrab disapa dengan  ‘Mama Nie’ telah 66 tahun 8 bulan.  Tidak banyak penyanyi  seusianya yang bisa melakukan itu, bahkan di kalangan penyanyi berusia muda sekalipun.

“She is so strong,” ujar seorang penonton kepada temannya sembari menyebut beberapa waktu lalu dia sempat menonton konser seorang penyanyi yang terlihat ‘ngos-ngosan’ membawakan delapan lagu.  Tapi Ernie Djohan sepertinya ‘fine-fine’ saja.

“Saya nggak cape tuh. Because this is what i love,” ungkapnya sambil tersenyum. Sebenarnya, ungkap Ernie,  ketika ia berulang tahun ke 66 pada April lalu, dia ingin menggelar konser. Namun karena suatu sebab, rencananya itu tidak terwujud. Dan dia sungguh tak menyangka kalau kesempatan untuk konser yang diinginkannya itu justru datang sekarang. “Manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Akhirnya baru sekarang bisa terwujud,” ucap Ernie yang tetap cantik dan awet muda di usia 66 tahun.

Di masa jayanya, selain berkiprah di industri musik Indonesia, Ernie juga sempat menjajal dunia perfilman. Film pertamanya adalah ‘Belaian Kasih’ tahun 1966. Selanjutnya ia berturut-turut ia tampil dalam tujuh film lainnya. Terakhir tahun 1976,  ia tampil dalam film bergenre komedi   ‘Ateng Sok Tahu’.

Meski menyukai dunia akting, namun Ernie memilih fokus pada  menyanyi. Sepanjang kariernya setidaknya ia merekam 17 album musik pop, terakhir album yang diluncurkannya bertajuk  ‘Hujan’ yang direkam tahun 2012. Menyanyi adalah panggilan jiwa, begitu kata Ernie. Karena itu meski usianya telah lanjut dia tetap menyanyi dan menerima panggilan show di berbagai tempat.

“Menyanyi itu ibaratnya sudah panggilan jiwa, ya. Sebenarnya keluarga, ya anak, cucu, sudah melarang saya (show) . Mereka maunya saya istirahat saja di rumah. Tapi yang namanya passion kan susah ya. Biar dilarang tetap saja nekat,” ungkap Ernie yang dalam konser ’55 Tahun Berkarya untuk Bangsa’ juga menyanyikan sejumlah lagu dalam berbagai bahasa., seperti,   ‘Speedy Gonzales’ (Meksiko), Dil Deko Deko Dil (India), Wakare (Jepang), Dans (Belanda) serta Jambalaya (AS).

Selain menyanyikan lagu-lagu hitsnya, konser tersebut juga dipakai Ernie untuk merilis single terbarunya berjudul ‘Alhamdulilah’. Lagu yang enak didengar ini dinyanyikannya bersama Lucky Octavian.

“Lagu ini prosesnya cepat. Jadi untuk konser ‘55 Tahun Berkarya untuk Bangsa’, saya dikasih single. Tapi saya perlu partner untuk menyanyikannya. Akhirnya duet sama Lucky. Jadi hari itu dikasih lagu, trus dipelajari, dan langsung rekam,” jelasnya tentang lagu ‘Alhamdulilah’ yang merupakan ungkapan  syukur atas limpahan  berkat Tuhan yang diterima sepanjang hidupnya.

Berbeda dari kebanyakan penyanyi Indonesia, Ernie Djohan justru mulai merintis kariernya di dunia menyanyi saat ia menetap di Singapura mengikuti tempat bertugas ayahnya yang seorang diplomat. “Ada yang bilang saya go international, padahal tepatnya bukan seperti itu. Saya ini berkarier di luar (luar negeri) bukan karena go international. Tapi saya memang tinggal di luar negeri. Jadi saya berkarier di luar baru kemudian ‘pulang kandang’ (kembali ke Tanah Air),” tuturnya.

Ayahnya, Djohan Bakharudin adalah seorang diplomat yang pada tahun 1953 ditugaskan di Belanda. Maka Ernie yang ketika itu baru berusia 2 tahun pun menetap di negeri kincil angin itu selama hampir lima tahun. Setelah itu sang ayah yang keturunan Raja Pagaruyung Batu Sangkar, Padang, kembali memboyong keluarganya ke Singapura tempat dimana dia ditugaskan.

Saat di Singapuralah Ernie yang berangkat remaja mulai rajin mengikuti lomba menyanyi, salah satunya adalah ajang Singapore’s  All School Talentime dimana ia berhasil  meraih juara pertama.  Tahun 1962 boleh dibilang adalah awal karier menyanyi Ernie Djohan. Pada tahun itu,  saat usianya baru 11 tahun, sebuah perusahaan rekaman ‘Philips Singapura’ menawarkan rekaman lagu berbahasa Inggris dan Melayu. Sejak itu karier menyanyi Ernie terus menanjak. Dia sering diundang menyanyi di berbagai tempat.

Sayangnya kiprahnya di Negeri Singa itu tak bisa berlangsung lama karena pecahnya konfrontasi Indonesia-Malaysia tahun 1963. Bung Karno memanggil pulang semua diplomatnya baik yang berada di Malaysia maupun Singapura. Maka Ernie yang tengah naik daun di negeri jiran pun pulang ke Tanah Air.

Saat Ernie kembali ke Tanah Air, ada seorang penyanyi yang seumuran Ernie tengah berkibar namanya. Dia adalah Lilis Suryani (almh). “Usianya tidak berbeda jauh dengan saya. Saya lebih muda tiga tahun. Kemudian saya dan Lilis Suryani sering diundang Bung Karno menyanyi di Istana menghibur tamu-tamu negara. Jadi  boleh dibilang saya lah penyanyi Istana paling kecil yang menyanyi di Istana ketika itu. Oleh Bung Karno, saya dan Lilis Suryani diberi julukan ‘Pelopor Penyanyi Cilik Indonesia’,” tutur Ernie yang masih mengingat lagu pertamanya di hadapan Bung Karno.

“Gembira ria burung berkicau di pagi hari. Itu lagu pertama saya di depan Bung Karno. Lagu itu direkam di Singapura oleh Philips diiringi orkes Saiful Bahri (alm),” tambah ibu dari Shanna Daniela dan Achyat Iman Zacharias, ini. Menurut Ernie, menyanyi di depan Bung Karno adalah salah satu kenangan yang paling berkesan dalam hidupnya.

Perjalanan hidup juga perjalanan kariernya, dirasakan Ernie sangat luar biasa dan penuh berkah. “Sepanjang hidup ini saya merasakan mendapat banyak nikmat dari Tuhan yang tak terhitung banyaknya. Saya sungguh bersyukur untuk semua itu,” kata Ernie yang dalam konser itu juga meluncurkan buku tentang perjalanan kariernya berjudul : ‘Ernie Djohan, Dongeng Jazirah si Teluk Bayur’. Buku ini ditulis oleh Tamara Geraldine. (Diana Runtu)

 

Kisah Lagu “Teluk Bayur’

Tentang lagu “Teluk Bayur” yang melambungkan namanya, Ernie pun menuturkan sebuah kisah yang tak banyak orang tahu. Lagu “Teluk Bayur” yang dirilis tahun 1965 itu,  sebenarnya bukanlah andalan hits albumnya. Lagu tersebut tidak diprediksi bakal terkenal. Namun yang terjadi sebaliknya. Di luar dugaan justru lagu itulah yang melejit. Ini membuat dirinya kaget tak terkira.

“Waktu itu saya juga semua orang yang terlibat dalam album itu kaget, ‘Lho kok lagu itu ya yang melejit’. Jadi ceritanya begini. Lagu “Teluk Bayur” itu bisa dibilang sebagai ‘lagu pelengkap penderita’, sama sekali tidak dicanangkan untuk menjadi hits. Zaman dulu itu, kan, lagu ada delapan atau 12. Nah saya baru punya tujuh lagu, kurang satu. Lalu Zaenal Arifin menciptakan satu lagu saat itu juga yakni  “Teluk Bayur” untuk melengkapi. Langsung saya hafalin dan nyanyikan. Eh, lho, kok malah lagu itu jadi hits…ya kok bisa?  Saya benar-benar heran. Nggak nyangka sama sekali. Tapi apapun, itu adalah berkah Tuhan, alhamdulilah. Karena lagu itu, saya menjadi penyanyi Indonesia pertama yang menerima Golden Record,” tutur Ernie Djohan tentang lagu “Teluk Bayur” yang hingga kini masih dinyanyikan orang. (Diana Runtu)

To Top