Kolom

E-KTP

Bu Amat mendengar banyak sekali seloroh menimbun Ketua DPR yang sudah menjadi tersangka kasus E-KTP. Nama, tiang listrik yang ditabrak mobilnya menjadi bahan tertawaan. Proses hukum masih belum terjadi, tapi hukuman moral seperti sudah dilaksanakan.
“Aku sedih,” kata Bu Amat.
Amat tersirap. Ia menghampiri istrinya dan melotot.
“Sedih? Kenapa? Itu mega korupsi, Bu! Menyangkut penilepan triliunan uang rakyat yang  dilakukan oleh topnya wakil rakyat dengan perencanaan yang sangat cermat. Hukumannya mestinya 10 kali lebih berat daripada kalau seandainya itu dilakukan oleh oknum biasa. Kita semua menyambut usaha KPK menyingkap skandal itu dengan gembira. Itu sebabnya muncul berjubel komentar, di WA kata Ami, sebagai lontaran perasaan kesal, sakit, hancur-luluh dari rakyat karena ditipu mentah-mentah oleh wakil yang dipilihnya sendiri. Dan itu sudah bagus sekali, ketimbang rakyat ngamuk bikin kerusuhan. Itu tanda rakyat sudah semakin dewasa, karena mampu meredam, menahan, mengalihkan kemarahannya dengan guyonan, pelesetan atau sindiran halus, sebagaimana layaknya kita orang berkepribadian Timur. Tapi bapak jadi terkejut, karena Ibu kok bilang sedih? Sedih apa? Sedih kenapa? Sedih mendengar koruptor diseret mempertanggung-jawahkan dosanya? Kenapa? Apa karena mengingat dia punya anak-istri cantik yang akan menderita kalau ia dihukum?  Tapi jutaan rakyat jelata, yang punya duit itu juga punya anak-istri lebih banyak, lebih miskin. Kita yang tidak punya mobil, perusahaan, tabungan, jabatan, tidak punya apa-apa kecuali mimpi  dan tetap seterusnya tak akan punya apa pun, sementara dia, walaupun misalnya nanti divonis bersalah dan dihukum, pasti masih ada sepukul dua pukul tetelan korupsi E-KTP-nya  yang triliunan itu, yang pastilah berhasil disembunyikannya, akan tetap hidup enak, naik mobil dan sepuluh tahun lagi, kalau rakyat sudah lupa, karena teler dihajar kesulitan hidup, dia bisa mencalonkan diri lagi menduduki kursi untuk kembali mengisap darah rakyat, karena itu sudah gen-nya!”
Amat langsung capek, setelah nyerocos sepanjang itu dengan emosional. Ia duduk, menikmati apa yang baru dilontarkannya. Sambil menunggu pukulan balasan dari istrinya.
Tapi Bu Amat tidak menjawab. Amat menunggu sampai 15 menit, tetap saja istrinya bisu.  Ia meneruskan pekerjaannya, seakan tak tersentuh oleh ceramah suaminya.
Akhirnya Amat penasaran. Ia terpaksa menuntut jawaban.
“Ibu kok diam? Jawabanmu apa?”
Bu Amat yang sedang menggosok kaca jendela menjawab tak acuh.
“Jawaban apa?”
“Terhadap seranganku, kok Ibu tega-teganya  bilang sedih?”
“Kenapa tidak?”
“Jadi tetap sedih?”
“Kenapa tidak?”
Amat terkejut.
“Aduh! Bagaimana sih Ibu ini?!”
“Bagaimana, bagaimana?”
Kok pro koruptor?”
“Siapa yang pro koruptor?”
“Waktu Bapak dulu hampir kena demam DB sampai panas badan 40 derajat saja, ibu idak sedih, ini sama tersangka koruptor kok sedih?!”
Bu Amat berhenti menggosok kaca jendela. Ia berpaling pada suaminya.
“Waktu itu saya panik, mana sempat sedih. Kalau pun saya sedih, nanti siapa yang menunggui Bapak di Rumah Sakit. Ya, tidak?”
“Jadi karena sibuk?”
“Ya!”
“Sekarang kan juga sibuk ngelap kaca, kok bisa sedih?”
Bu Amat kembali menggosok kaca jendela, tapi sembari menjawab.
“Bagaimana tidak sedih, Pak! Uang  rakyat, sebanyak itu, cukup kali untuk hidup seluruh penduduk di Bali satu tahun, lagi diproses hanyutnya, lha kita kok malah lebih banyak ketawa-ketawanya guyonan, seperti kurang hiburan. Saya perhatikan selalu begitu. Dalam banyak kasus besar, kita lupa pada persoalan pokoknya, lebih seneng ketawa-ketawanya. Lihat saja di sekitar kita, mereka yang kebanyakan suka mengetawakan orang lain, biasanya tak becus kerja. Saya sedih orang muda sekarang lebih banyak bercanda. Itu kenapa, seperti untuk menutupi kekurangan saja! Makin banyak ketawa, makin banyak yang mau ditutupi! Apa betul kita sejelek itu?”
Amat terhenyak. Lalu berbisik pada dirinya sendiri.
“Makin banyak yang mau ditutupi berarti makin banyak kekurangan, makin rentan ketidakmampuan!”

To Top