Connect with us

Sehat

Kenali Sifilis agar Segera Diobati

Published

on

dr. I Ketut Widiyasa, M.P.H.

Banyak yang mengetahui tentang penyakit kelamin tapi sepertinya banyak yang lebih tidak peduli ataupun tidak takut tertular. Gaya hidup yang buruk dan sering menjurus ke hubungan intim seperti sudah biasa di era kekinian. Sifilis erat sekali kaitanya dengan HIV/AIDS. Apa itu penyakit sifilis?

Sifilis merupakan salah satu penyakit menular seksual (PMS). Penyebabnya kuman treponema pallidum. “Pentingnya mengenali sifilis sejak fase awal munculnya penyakit ini karena sangat membantu dalam upaya penyembuhannya, penularan serta pencegahan risiko penyakit yang lebih berat juga dapat dideteksi,” ujar dr. I Ketut Widiyasa, M.P.H.
Menurutnya, diperlukan upaya yang serius dari semua pihak seperti dokter, pusat pelayanan kesehatan baik dari tingkat dasar hingga pelayanan tingkat lanjut (rumah sakit) bahkan kesadaran dari orang-orang yang berisiko tinggi menderita sifilis/PMS lainnya untuk bersama-sama mengatasi permasalahan ini.

Dokter  RS Bali Mandara ini mengatakan, pemerintah melalui Departemen Kesehatan hingga Puskesmas maupun LSM telah berupaya melakukan upaya skrining pada orang-orang yang berisiko. Namun, di sisi lain, diperlukan kesadaran yang tinggi dari mereka yang berisiko untuk datang memeriksakan diri secara teratur untuk mencegah penularan dan risiko yang lebih berat dari penyakit sifilis ini.
Di Amerika Serikat, para pejabat kesehatan melaporkan lebih dari 36.000 kasus sifilis tahun 2006, termasuk 9.756 kasus sifilis primer dan sekunder. Tahun 2006, setengah dari semua kasus sifilis yang dilaporkan dari 20 kabupaten dan 2 kota, dan sebagian besar kasus ini terjadi pada pasien berusia 20 sampai 39 tahun. Insiden sifilis pada wanita tertinggi pada usia 20 sampai 24 tahun dan pada laki-laki 35 sampai 39 tahun. Kasus sifilis kongenital pada bayi baru lahir meningkat dari 2005 sampai 2006, dari 339 kasus baru yang dilaporkan pada tahun 2005 menjadi 349 kasus pada tahun 2006. Pada kurun waktu yang sama, jumlah kasus sifilis yang dilaporkan meningkat 11,8%. Tahun 2006, 64% dari kasus sifilis dilaporkan terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria.
Sedangkan data yang diperoleh oleh Kementrian Kesehatan Republik Indonesia melalui Surveilans Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) tahun  2011, juga menunjukkan angka yang serupa. Hasil STBP tersebut mendapatkan angka kejadian sifilis adalah sebagai berikut, sifilis diderita oleh waria 25%, pekerja seks langsung 10%, pria yang berhubungan seks sesama pria 10%, pekerja seks tidak langsung 3%, dan narapidana 3%.
Ia menjelaskan, sifilis ditularkan dari orang ke orang melalui kontak langsung dengan luka sifilis. Luka terjadi terutama pada alat kelamin eksternal, vagina, anus, atau dubur. Luka juga dapat terjadi pada bibir dan mulut. Penularan kuman penyebab sifilis ini dapat terjadi selama hubungan seks vaginal, anal, ataupun oral. Selain itu, wanita hamil yang menderita penyakit ini dapat menularkan ke bayi di dalam kandungannya.

BACA  Biduran jangan Digaruk

Sifilis tidak dapat menyebar melalui kontak dengan kursi toilet, pegangan pintu, kolam renang, bak air panas, bathtub, pakaian bersama, atau peralatan makan. ”Banyak orang terinfeksi dengan sifilis tidak memiliki gejala apapun selama bertahun-tahun, namun tetap berisiko untuk  menderita komplikasi jika tidak diobati dengan segera dan tepat,” jelasnya. Meskipun penularan biasanya terjadi dari luka sifilis, banyak dari luka sifilis ini tidak dapat dikenali baik oleh pasien maupun dokter. Artinya, penularan dapat terjadi dari orang-orang yang tidak menyadari  mereka sedang terinfeksi sifilis.
Sifilis primer ini biasanya ditandai dengan munculnya luka tunggal yang disebut chancre, atau mungkin pula muncul beberapa luka. Waktu antara terjadinya infeksi sifilis dan awal gejala pertama berkisar dari 10 sampai 90 hari (rata-rata 21 hari). Chancre ini biasanya berupa luka yang berbatas tegas, bulat, kecil, dan pasien tidak mengeluhkan sakit/nyeri pada luka tersebut. Luka ini dapat terjadi di tempat di mana kuman sifilis masuk ke dalam tubuh. Luka ini dapat berlangsung selama 3 sampai 6 minggu, dan dapat sembuh tanpa pengobatan. Namun, jika pengobatan yang tepat tidak diberikan, maka infeksi dapat berkembang ke tahap sekunder.
Stadium sekunder ini ditandai dengan adanya ruam (kemerahan) pada kulit dan lesi pada selaput lendir. Tahap ini biasanya dimulai dengan munculnya ruam pada satu atau lebih bagian tubuh. Ruam biasanya tidak gatal. Ruam akibat sifilis sekunder ini dapat muncul saat chancre menyembuh atau beberapa minggu setelahnya. Ruam akibat sifilis sekunder biasanya ruam kasar, berwarna merah, atau bintik-bintik coklat kemerahan baik pada telapak tangan dan bagian bawah kaki. Namun, ruam dengan penampilan yang berbeda dapat terjadi pada bagian lain dari tubuh, kadang-kadang mirip dengan ruam yang disebabkan oleh penyakit lain. Terkadang ruam akibat sifilis sekunder begitu samar sehingga sering terabaikan.
Selain ruam, gejala sifilis sekunder dapat berupa demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit tenggorokan, rambut rontok, sakit kepala, penurunan berat badan, nyeri otot, dan kelelahan. Tanda-tanda dan gejala sifilis sekunder akan berakhir dengan atau tanpa pengobatan. Namun, jika tidak diobati, infeksi ini akan berlanjut menjadi sifilis fase late  dan laten.
Sifilis stadium laten (tersembunyi) dimulai ketika gejala primer dan sekunder menghilang. Tanpa pengobatan, orang yang terinfeksi akan terus menderita sifilis meskipun tidak ada keluhan atau gejala. Tahap laten bisa berlangsung selama bertahun-tahun.
Sifilis stadium lanjut dapat terjadi pada sekitar 15% dari orang-orang yang tidak pernah diobati dan dapat muncul 10-20 tahun setelah infeksi pertama kali diperoleh. Pada stadium lanjut ini, penyakit ini selanjutnya dapat merusak organ dalam penderita, termasuk otak, saraf, mata, jantung, pembuluh darah, hati, tulang, dan sendi. ”Tanda dan gejala dari sifilis stadium lanjut ini antara lain berkurangnya koordinasi gerakan otot, kelumpuhan, mati rasa, kebutaan yang munculnya bertahap, dan demensia (pikun). Kerusakan ini mungkin cukup serius dan dapat menyebabkan kematian,” ujar dr. Widiyasa.
Ia menyatakan, bakteri sifilis dapat menginfeksi bayi selama selama di dalam kandungan. Tergantung pada berapa lama seorang wanita hamil telah terinfeksi, dia mungkin memiliki risiko tinggi mengalami kelahiran mati (bayi lahir mati) atau melahirkan bayi yang meninggal sesaat setelah lahir. ”Bayi yang terinfeksi dapat lahir tanpa tanda-tanda atau gejala penyakit. Namun, jika tidak segera diobati, bayi dapat memiliki masalah yang serius setelah beberapa minggu kemudian. Bayi yang tidak diobati segera dapat menjadi mengalami tumbuh kembang yang terhambat, mengalami kejang, atau mati,” paparnya. (Wirati Astiti)

Advertisement

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sehat

Hadapi Gelombang Ketiga Covid, Indonesia Siapkan Molnupiravir

Published

on

Menkes Budi Gunadi Sadikin memberikan keterangan pers usai mengikuti Ratas mengenai Evaluasi PPKM, Senin (15/11/2021) siang, di Istana Merdeka, Jakarta. (Foto: Humas Setkab/Agung)

Jakarta (cybertokoh.com)-

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta agar semua pihak mewaspadai libur Natal dan Tahun Baru 2022. Jangan sampai terjadi terjadi lonjakan kasus. Monitor ketat harus terus-menerus dilakukan. Berdasarkan observasi Kementerian Kesehatan minggu lalu, terdapat 126 Kabupaten/Kota yang mengalami peningkatan kasus. Bahkan ada yang mengalami kenaikan hingga tiga minggu berturut-turut.

Dalam Ratas, Senin (15/11), perkembangan kasus Covid-19 di Indonesia juga termasuk yang dibahas. “Dalam Ratas, Presiden menyampaikan, alhamdulilah kasus sudah menurun. Tapi, kita harus ekstra waspada terutama menghadapi Nataru,” ujar Budi Sadikin mengutip pernyataan Presiden yang juga meminta dilakukan montor ketat terhadap daerah-daerah yang mengalami kenaikan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Budi juga menyinggung tentang obat Molnupiravir yang diharapkan tiba di Indonesia pada akhir tahun ini.
Molnupiravir merupakan salah satu obat antivirus yang semula dikembangkan untuk penyakit influenza, namun kemudian obat ini diperkirakan efektif dalam penanganan Covid-19. Cara kerja obat ini adalah dengan memicu kesalahan dalam proses perbanyakan virus di dalam tubuh.

Advertisement

Mengutip website resmi WHO, Molnupiravir merupakan obat antivirus oral yang berdasarkan hasil penelitian dapat mengurangi risiko rawat inap pada pasien Covid-19 bergejala ringan hingga sedang sebesar 50%. Jika nantinya obat ini disetujui penggunaannya, maka Molnupiravir akan menjadi obat oral pertama untuk pasien Covid ringan dan sedang. Saat ini Molnupiravir sedang menunggu emergency use authorization (EUA) dari FDA (Food and Drug Administration) atau BPOM Amerika Serikat.

BACA  Langkah Diet yang Sehat

“Mudah-mudahan tidak ada gejolak. Tapi kalau pun ada gelombang baru, kita sudah siap dengan obat-obatannya. Kita sedang menunggu terbitnya EUA yang diharapkan akan keluar diawal Desember ini,” jelas Budi.

Selain Molnupiravir, lanjutnya, Pihak Kemenkes dan BPOM juga terus mengkaji obat-obatan lainnya yang bisa mengurangi risiko untuk masuk rumah sakit bagi orang-orang yang terkena Covid-19.

Vaksinasi Covid-19 dan Prokes
Dalam kesempatan tersebut, Menteri Budi juga menjelaskan tentang capaian vaksinasi Covid-19. Pihaknya menyambut gembira dengan capaian saat ini yakni sudah 216 juta suntikan yang diberikan kepada 130,6 juta rakyat Indonesia, 84,5 juta sudah mendapat vaksin dosis lengkap.

“Vaksinasi kita terus bertengger antara 1,6 hingga 2 juta suntikan per-hari. Diperkirakan, sampai akhir tahun mungkin bisa mencapai total sekitar 290 juta sampai 300 juta suntikan,” jelasnya.

Advertisement

Secara detail berdasarkan data Kementerian Kesehatan, per 15 November 2021, cakupan vaksinasi dosis pertama telah mencapai 130,62 juta orang (62,72%) dari 208,2 juta orang. Capaian vaksinasi dosis kedua telah mencapai lebih 84,55 juta (40,6%). Dosis ketiga atau booster bagi tenaga kesehatan telah diberikan pada sekitar 1,19 juta orang (81,11%).

BACA  Ayo Bercerita, Upaya Cegah Bunuh Diri

Jika melihat target WHO yang menyebut setiap negara untuk memvaksinasi sekurangnya 40% dari populasi pada akhir 2021 dan 70% pada pertengahan tahun 2022 maka Indonesia menjadi salah satu negara yang mencapai target (akhir tahun) lebih cepat. Namun begitu ada hal yang harus diingat bahwa cakupan vaksinasi bukan solusi tunggal untuk menekan kasus Covid. Tanpa dibarengi dengan pelaksanaan Protokol Kesehatan yang ketat, kasus Covid tetap berpotensi meningkat.

Hal tersebut juga disampaikan Direktur Jenderal WHO Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam konferensi pers perkembangan Covid-19 yang digelar WHO akhir pekan lalu. Ia mengingatkan tentang tengah melonjaknya kasus Covid di sejumlah negara, baik itu negara dengan tingkat vaksinasi rendah maupun negara-negara yang cakupan vaksinasi-nya tinggi.

“Ini adalah pengingat, seperti yang telah kami katakan berulang kali, bahwa vaksin tidak menggantikan kebutuhan akan tindakan pencegahan lainnya. Vaksin mengurangi risiko rawat inap, penyakit parah, dan kematian, tetapi tidak sepenuhnya mencegah penularan,” ujarnya.

Beberapa negara di Eropa, paparnya, saat ini memulai lagi dengan pembatasan-pembatasan guna menekan penularan dan mengurangi tekanan pada sistem kesehatan mereka. “Kami terus merekomendasikan penggunaan masker, jaga jarak yang disesuaikan dan proporsional. Juga pencegahan kerumunan, dll. Dan tentunya, mendapatkan vaksinasi bagi yang belum vaksin,” jelasnya.

Advertisement

Setiap negara, tegasnya, harus terus-menerus memonitor perkembangan situasinya dan mengambil langkah-langkah yang disesuaikan dengan keadaannya. Dengan tindakan yang tepat, setiap negara akan bisa menjaga keseimbangan antara menjaga transmisi tetap rendah dan menjaga masyarakat dan ekonomi mereka tetap terbuka.

BACA  Sifilis dan HIV

Dr Maria Van Kerkhove, yang merupakan Pimpinan Teknis Covid-19 juga mengingatkan tentang pentingnya disiplin Prokes, bukan hanya vaksin. “Kami melihat di seluruh Eropa, di seluruh dunia, penularan meningkat. Transmisi didorong oleh begitu banyak faktor saat ini. Variannya, peningkatan pergaulan sosial yang dimulai beberapa bulan lalu,” ujarnya.

Pola yang kita lihat terjadi di seluruh Eropa, jelasnya, sama dengan yang terjadi di seluruh dunia. “Jadi, jika Anda mencabut aturan seputar penggunaan masker, menjaga jarak, menghindari keramaian, dll, maka Anda akan melihat virus berkembang dan itulah yang terjadi sekarang,” tegasnya.

Ingat, varian Delta masih ada. Varian ini 100% lebih mudah menular daripada varian sebelumnya. “Ini adalah virus paling menular yang pernah kita lihat sejauh ini,” ujar Maria. (Diana Runtu)

Advertisement
Continue Reading

Sehat

Vaksinasi Lindungi Diri, Keluarga, dan Masyarakat

Published

on

Suasana vaksinasi Covid-19 untuk warga Badung (cybertokoh/Humas Pemkab Badung)

Badung (cybertokoh.com) –

Vaksinasi menjadi salah parameter dalam pengendalian Covid-19. Berbagai upaya dilakukan pemerintah dalam menyukseskan vaksinasi. Sinergi dengan TNI/Polri, berbagai organisasi kemasyarakatan, serta instansi swasta pun digencarkan.

“Saya sudah tidak sabar untuk vaksinasi. Setelah proses transfusi darah selesai, barulah bisa vaksinasi Covid-19,” ungkap Iga Ardhini, warga Badung. Ia menuturkan dirinya sangat ingin vaksinasi, namun karena harus menjalani kemoterapi dan transfusi, vaksinasi pun tertunda.

Karena belum vaksinasi, aplikasi PeduliLindungi yang sudah diunduh di ponsel pun belum bisa dimanfaatkan. Jika harus bepergian, pengusaha tanaman hias ini harus membawa surat keterangan dokter.

Advertisement

Tak sabar ingin segera vaksinasi juga diungkapkan Mahendrayana. “Dosis kedua dijadwalkan Desember. Karena dosis belum lengkap kadang ada rasa khawatir. Inginnya cepat-cepat vaksin dosis kedua,” ungkap pria yang gemar bersepeda ini.

Ia pun disiplin menerapkan protokol kesehatan jika harus keluar rumah. Memakai masker medis, membawa hand sanitizer, serta selalu menjaga jarak menjadi standarnya. Ayah satu putra ini juga memilih bersepeda sebagai olahraga untuk menjaga tubuh tetap sehat dan bugar.

BACA  Ayo Bercerita, Upaya Cegah Bunuh Diri

“Di masa pandemi ini penting bagi kita untuk melindungi diri, melindungi keluarga, dan melindungi masyarakat. Hal paling sederhana yang bisa kita lakukan adalah disiplin prokes dan ikut vaksinasi yang sudah disediakan pemerintah,” ujarnya Minggu (14/11).

Terkait vaksinasi, Indonesia kedatangan dua tahap sekaligus vaksin guna mendukung
program vaksinasi nasional. Dalam dua hari kedatangan tahap ke-121 dan ke-122 ini, sebanyak 8 juta vaksin Sinovac dalam bentuk jadi tiba di tanah air.

Menurut Juru Bicara Vaksinasi dari Kementerian Kesehatan dr. Siti Nadia Tarmizi, vaksin tahap ke-121 tiba pada Jumat, 12 November 2021 dalam jumlah 4 juta dosis dan tahap ke-122 dalam jumlah yang sama tiba di tanah air pada Sabtu, 13 November 2021. “Lancarnya kedatangan vaksin membuat upaya percepatan dan perluasan program vaksinasi jadi lebih optimal,” ujar dr. Nadia.

Advertisement

Dia mengatakan, dengan kedatangan 8 juta vaksin ini ketersediaan vaksin aman. Hal ini sudah menjadi komitmen pemerintah untuk terus mendatangkan vaksin dalam rangka mengamankan ketersediaan vaksin di Indonesia untuk melindungi rakyatnya. Nadia menyebut, jumlah penduduk Indonesia yang telah divaksinasi terus bertambah. Pemerintah menargetkan sampai akhir tahun ini, setidaknya 123 juta penduduk Indonesia telah mendapatkan vaksinasi dosis lengkap.

BACA  Langkah Diet yang Sehat

Menurutnya, vaksinasi bukan sekadar upaya melindungi diri, melainkan juga untuk melindungi keluarga dan seluruh masyarakat.
“Segera lakukan vaksinasi untuk melindungi kita dari risiko sakit berat jika terinfeksi Covid-19 dan juga mencegah terjadinya lonjakan kasus,” tegasnya.

Ia mencontohkan, di banyak negara Eropa telah terjadi lonjakan kasus Covid-19. Seperti
yang terjadi Rusia dengan lonjakan lebih dari 35.000 kasus baru terdeteksi dalam 24 jam.
“Belajar dari situ, kita harus disiplin prokes dan segera lakukan vaksinasi. Ketersediaan vaksin aman. Pemerintah telah dan terus berupaya keras untuk memenuhi ketersediaan vaksin untuk seluruh sasaran,” ujarnya.

Selain itu, dr. Nadia mengajak seluruh pimpinan daerah harus bergerak lebih aktif dalam memantau setiap parameter penanganan pandemi secara berkala agar bisa mengambil langkah cepat untuk mengantisipasi lonjakan kasus. Parameter yang dimaksud seperti jumlah kasus aktif, positivity rate, dan Bed Occupancy Ratio (BOR). Pemda juga harus memperkuat cakupan vaksinasinya, 3T (testing, tracing,dan treatment), dan penggunaan PeduliLindungi di berbagai tempat, seperti mal, kafe, pasar, dantempat wisata. “Semua pihak harus berperan dalam penegakan protokol kesehatan sebagai bentuk antisipasi penularan Covid-19,” tegas dr. Nadia. (Ngurah Budi)

BACA  Tetap Aktif Bergerak Cegah Osteoporosis

Advertisement
Continue Reading

Indonesia

Selama Capaian Vaksinasi Belum 100%, Disiplin Prokes Solusinya

Published

on

Scan aplikasi PeduliLindungi salah satu cara untuk memastikan apakah masyarakat sudah divaksinasi Covid-19 (cybertokoh/Ngurah Budi)

Denpasar (cybertokoh.com) –

Vaksinasi menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam penanganan Covid-19. Pemerintah terus mendorong masyarakat untuk melaksanakan vaksinasi. Tujuannya, membentuk kekebalan kelompok. Namun, berbagai kendala ditemui untuk vaksinasi. Apa saja kendalanya dan apa solusinya?

Made Purna bersama beberapa temannya mengadakan reuni kecil-kecilan di sebuah mall di Kota Denpasar. Mereka sudah lama tak bertemu karena pandemi Covid-19. Pengalaman selama masa PSBB dan PPKM pun menjadi topik hangat. Hingga 1 jam berlalu, seorang temannya tak juga muncul.

“Setelah lama dinanti, teman yang kami tunggu akhirnya menelepon. Dia tidak bisa masuk mall karena belum vaksinasi Covid-19. Ternyata hari gini masih ada yang belum vaksin,” ungkap Purna.

Advertisement

Pengalaman lain diungkapkan Agus Cahaya yang istrinya belum vaksin karena autoimun. “Istri saya punya riwayat autoimun jadi belum vaksin Covid-19. Kami sudah konsultasi dengan dokter dan kabar yang menggembirakan, dalam waktu dekat bisa vaksinasi,” ujarnya.

Sementara itu, Ayu Sukanti belum bisa vaksinasi karena sedang proses transfusi darah. “Nanti setelah transfusi darah selesai, Susah juga kalau belum vaksin, mau ke tempat yang ada aplikasi PeduliLindungi, jadi tidak tidak bisa masuk,” ungkapnya.

Ia pun menuturkan pengalaman usai tranfusi darah, pergi ke sebuah toko yang ada dalam mall. Satpam memintanya melakukan scan QR PeduliLindungi. Karena tak punya, ia pun tak diperkenankan masuk. Namun, setelah ditunjukkan alasan belum vaksin dan kebetulan membawa berkas transfusi, Sukanti pun diperbolehkan masuk mall.

BACA  Langkah Diet yang Sehat

Masih adanya masyarakat yang belum vaksinasi Covid-19 diakui Juru Bicara Satgas Covid-19 Kota Denpasar I Dewa Gede Rai. “Kami berharap, jika masih ada masyarakat Kota Denpasar yang tercecer atau tidak terdata dalam program vaksinasi Covid-19 agar segera melapor ke Puskesmas terdekat. Sehingga sesegera mungkin dapat diberikan pelayanan vaksinasi Covid-19,” ujarnya.

Khusus untuk penyandang disabilitas dan Orang dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) langsung dilaksanakan jemput bola atau home visit yang didahului dengan screnning untuk menentukan yang bersangkutan layak vaksinasi Covid-19. “Harapan kami tentu pelaksanaan vaksinasi Covid-19 dapat secara optimal diterima masyarakat untuk mendukung upaya pengendalian pandemi Covid-19 di Kota Denpasar,” ujar pria yang juga Kabag Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kota Denpasar ini.

Advertisement

Kebijakan Gas dan Rem
Di sisi lain, Juru Bicara Vaksinasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Siti Nadia Tarmizi menjelaskan saat ini, sudah hampir 200 juta dosis vaksin disuntikkan di Indonesia dengan cakupan sekitar 57% dari sasaran vaksinasi. Meski setidaknya sudah ada perlindungan, namun karena belum mencapai 70% maka dinilai belum cukup untuk menahan bila ada varian baru.

Menyoroti masih rendahnya cakupan vaksinasi kelompok rentan, Nadia menyatakan kesadaran masyarakat dan literasi vaksinasi di Indonesia masih harus ditingkatkan. Setelah Covid-19 berubah menjadi penyakit endemis, maka kepatuhan protokol kesehatan dan cakupan vaksinasi sangat diperlukan untuk hidup berdampingan dengan virus tersebut.
. Kebijakan gas dan rem, yaitu membuka dan mengetatkan peraturan diberlakukan di banyak negara dengan kearifan lokal masing-masing negara, tidak hanya di Indonesia. Jadi upaya-upayanya memang harus dilakukan bersama,” ujar Nadia.

BACA  KPPAD Imbau Media Lebih Sensitif dalam Pemberitaan Anak

Terkait herd immunity, Kepala Bidang Pengembangan Profesi Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), Masdalina Pane menjelaskan kekebalan kelompok di tiap wilayah Indonesia bervariasi, dengan capaian yang baik di Jawa Bali meski harus tetap ditingkatkan hingga mencapai 70% di akhir tahun. Kekebalan kelompok ini, menurutnya, bisa didapatkan tidak hanya melalui vaksinasi melainkan juga infeksi secara natural.

“Kita tidak boleh fokus hanya pada herd immunity karena meski sudah tinggi dan vaksinasi sudah baik, tapi masih memungkinkan terinfeksi,” tambahnya.

Juru Bicara Pemerintah untuk COVID-19 dr. Reisa Broto Asmoro yang juga ditunjuk sebagai Duta Adaptasi Kebiasaan Baru oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 serta Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC PEN) mengatakan Indonesia sudah melampaui 200 juta dosis.

Advertisement

Capaian ini membuat Indonesia berada menjadi salah satu dari lima negara dengan jumlah suntikan tertinggi bersama India, Amerika Serikat, Brazil dan Jepang. Indonesia berkontribusi terhadap pencapaian dunia memvaksinasi hampir setengah penduduknya dengan minimal satu dosis, atau sama dengan menyuntikan 7 miliar dosis ke seluruh warga planet bumi.

Namun, dr. Reisa mengingatkan perjalanan menuju 100% capaian masih panjang. Untuk memvaksinasi 208.265.720 orang yang masuk dalam kategori sasaran vaksinasi Covid-19 diperlukan setidaknya sekitar 416 juta suntikan. Ia yakin sikap saling melindungi, toleransi dan solidaritas adalah kunci pencapaian 200 juta suntikan ini. “Indonesia adalah Kita. Kita adalah Indonesia. Inilah pemersatu kita yang mengantarkan kita ke hari ini. Di mana semua indikator pengendalian COVID-19 membaik,” ujarnya.

BACA  Sifilis dan HIV

Disiplin Terapkan 5M
Menurut data Kemenkes RI, program vaksinasi pemerintah sudah mencapai sekitar 40% kategori dosis lengkap, dan 60% untuk dosis pertama. Target WHO adalah memvaksinasi, minimal satu dosis, sekurang-kurangnya 40% warga di setiap negara di dunia di akhir tahun ini. Dan 70% di tahun depan. Indonesia sudah melewati milestone, batas capaian minimal tersebut.

“Ada dua pesan penting. Pertama, yang belum suntik kedua, pastikan tepati jadwalnya, dan lengkapi perlindungan Anda. Jangan dilewatkan meski situasi membaik saat ini. Kedua, masih ada sekitar 84 juta saudara-saudari kita yang belum mendapat satu pun dosis vaksin Covid-19. Ayo daftarkan, antarkan, dan temani mereka yang belum divaksinasi. Datangi ke rumah kalau perlu,” kata dr. Reisa.

Reisa juga mengingatkan selama pandemi belum berakhir dan capaian vaksinasi belum 100%, protokol kesehatan harus tetap dilakukan sebagai solusi. “Tetap disiplin mempraktikkan 5 M, Memakai masker dengan benar dan tidak membuka ketika bertemu orang lain di tempat umum. Menjaga jarak aman dari orang lain. Menjauhi kerumunan meski mayoritas aktivitas masyarakat sudah diperbolehkan. Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pembersih. Selektif dalam bermobilitas untuk mengurangi risiko penularan. Jangan biarkan Ibu Pertiwi berduka lagi,” tegasnya. (Ngurah Budi)

Advertisement

Continue Reading

Tren