Bugar

Sifilis dan HIV

Luka genital yang disebabkan  sifilis membuatnya lebih mudah untuk mendapatkan infeksi HIV secara seksual. Diperkirakan terjadi peningkatan risiko hingga 2-5 kali lipat tertular HIV jika terkena infeksi sifilis.
PMS ulseratif yang menyebabkan luka, borok, atau luka pada kulit atau membran mukosa, seperti sifilis, mengganggu sistem pertahanan kulit yang memberikan perlindungan terhadap infeksi. Para ulkus (luka terbuka) pada kelamin yang disebabkan oleh sifilis dapat dengan mudah berdarah, dan ketika mereka kontak dengan mukosa mulut dan dubur selama hubungan seks, maka hal ini meningkatkan risiko penularan dan kerentanan terhadap HIV. Memiliki PMS lainnya juga merupakan prediktor penting untuk terjangkit HIV karena PMS adalah penanda bahwa si penderita memiliki perilaku yang berisiko dengan penularan HIV.
Menurut dr. Widiyasa, sifilis sangat mudah disembuhkan pada stadium awal. Suntikan intramuskular dengan antibiotika penisilin, akan menyembuhkan penderita sifilis yang terjangkit sifilis kurang dari satu tahun. Jika penderita telah menderita sifilis lebih dari setahun, maka akan membutuhkan dosis tambahan. Bagi orang-orang yang alergi terhadap penisilin, terdapat antibiotik lain untuk mengobati sifilis. ”Pengobatan yang tepat dan cepat akan membunuh bakteri penyebab sifilis dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut, tetapi tidak akan memperbaiki kerusakan yang telah terjadi. Hal inilah yang harus disadari orang-orang yang berisiko tinggi menderita sifilis. Mereka harus segera berobat terutama fase awal penyakit ini muncul. Karena jika diabaikan, maka sifilis akan beranjak ke stadium berikutnya dan tentunya akan lebih sulit untuk diatasi,” tegasnya.
Penderita yang sedang dalam pengobatan sifilis harus menjauhkan diri dari kontak seksual sampai luka sifilis benar-benar sembuh. Penderita sifilis harus memberitahukan pasangan seks mereka sehingga mereka juga dapat diuji dan menerima pengobatan jika diperlukan. Setelah pengobatan berhasil, penderita tersebut masih rentan terhadap infeksi ulang. Hanya tes laboratorium dapat mengkonfirmasi apakah seseorang memiliki sifilis. Karena luka sifilis letaknya tersembunyi di dalam vagina, anus atau mulut, maka banyak yang tidak menyadari bahwa pasangan mereka mengidap sifilis. Sehingga bagi orang-orang yang berisiko tinggi untuk menderita sifilis atau PMS lainnya seharusnya berkonsultasi dengan petugas kesehatan terdekat.
Cara paling pasti untuk menghindari penularan penyakit menular seksual, termasuk sifilis, adalah untuk menjauhkan diri dari kontak seksual berisiko. Cara lain adalah monogami dengan pasangan yang telah diuji dan diketahui tidak terinfeksi sifilis.
Menghindari penggunaan alkohol dan narkoba juga dapat membantu mencegah penularan sifilis karena kegiatan ini dapat menyebabkan perilaku seksual berisiko. Adalah penting bahwa pasangan seks berbicara satu sama lain tentang status HIV mereka dan sejarah PMS lainnya sehingga tindakan pencegahan dapat diambil.
Penggunaan kondom lateks yang benar dan konsisten dapat mengurangi risiko sifilis, herpes genital dan chancroid. Penularan PMS, termasuk sifilis tidak dapat dicegah dengan mencuci alat kelamin, kencing, dan/atau douching setelah berhubungan seks.
Ia menyarankan, tiap tanda tubuh yang tidak biasa, luka, atau ruam, khususnya di daerah selangkangan, harusnya menjadi sebuah tanda bagi seseorang untuk menahan diri untuk berhubungan seks dan agar segera berkonsultasi kepada dokter. (Wirati Astiti)

To Top