Pelesir

Wisata Borobudur tetap Diminati

Aktivitas vulkanik Gunung Agung Karangasem, Bali, yang kini berstatus Awas (level 4), berdampak kurang bagus bagi dunia pariwisata Bali. Kunjungan wisatawan ke Bali kini merosot drastis. Hal serupa ternyata juga pernah dialami Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta saat terjadi letusan Gunung Merapi tahun 2010.
Hal ini terungkap saat tokoh mengunjungi obyek wisata yakni Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah, Jumat (15/12). Kunjungan ke obyek wisata ini serangakaian acara “Press Tour” sekaligus studi banding wartawan dan Humas DPRD Bali, sejak Kamis (14/12), ke Bagian Humas dan Protokol Sekretariat DPRD Yogyakarta.
Candi ini berlokasi kurang lebih 100 kilometer di sebelah barat daya Semarang, 86 kilometer di sebelah barat Surakarta, dan 40 kilometer di sebelah barat laut Kota Yogyakarta.
Menurut pihak pengelola Borobudur, setiap harinya, Candi yang merupakan peninggalan kerajaan Dinasti Syailendra masa pemerintahan Raja Samaratungga dari Kerajaan Mataram Kuno, dan selesai dibangun pada abad ke-8 ini dikunjungi antara 5.000 hingga 7.000 wisatawan dalam dan luar negeri. Pada hari Jumat (15/12), Borobudur tampak ramai dikunjungi wisatawan baik wisatawan Nusantara maupun asing. Meski saat ini selalu ramai kunjungan wisatawan, namun tahun 2010 Candi Borobudur pernah ditutup cukup lama yakni selama 3 bulan, akibat terkena dampak letusan Gunung Merapi. “Waktu itu candi terkena dampak abu vulkanik Gunung Merapi, bagian-bagian candi tertutup abu vulkanik letusan Gunung Merapi, sehingga pihak pengelola memutuskan Borobudur ditutup selama 3 bulan bagi kunjungan wisatawan,” ujar Dahroji, salah satu staf pengamanan Candi Borobudur.
Penutupan kawasan candi selama 3 bulan, tentu sangat berdampak bagi pemasukan kawasan obyek wisata Candi Borobudur. Apalagi di kawasan ini juga terdapat ratusan warga sekitar yang menggantungkan kehidupan ekonominya dari para wisatawan yang datang berkunjung. “Kalau rugi sudah pasti rugi pak, namanya juga bencana, setiap harinya ada 5.000 hingga 7.000 wisatawan yang datang berkunjung, di musim liburan bisa dua kali lipat, tapi yang namanya bencana alam mau bagaimana lagi, kita harus iklas dan tabah menerima dan menghadapinya,”ujar Dahroji.
Setelah tutup selama 3 bulan akibat dampak erupsi Gunung Merapi tahun 2010, akhirnya Candi Borobudur kembali dibuka untuk wisatawan. Namun meski sudah dibuka kembali, upaya perbaikan dan perawatan candi akibat terkena abu vulkanik berlangsung selama setahun. Selang beberapa tahun pasca erupsi Merapi, kini kunjungan wisatawan ke Borobudur kembali ramai seperti semula.

Pemulihan yang Cepat
Terkait dampak bencana alam terhadap dunia pariwisata Yogyakarta, Sekretaris Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DIY, Primaswolo Sujono, mengungkapkan, Daerah Istimewa Yogyakarta termasuk daerah yang rawan bencana. Pada 2006 silam, daerah yang kini menjadi destinasi wisata favorit wisatawan juga pernah mengalami bencana gempa bumi dan juga letusan Gunung Merapi. “Di bagian selatan digoyang gempa, di bagian utara gunung meletus. Dampaknya bagi pariwisata Yogyakarta waktu itu luar biasa. Dunia pariwisata jatuh, bandara tutup cukup lama,” ujarnya.
Saat terjadi bencana waktu itu, media massa di Yogyakarta memberitakan peristiwa tersebut sesuai fakta, seperti bagaimana Gunung Merapi meletus, seberapa besar letusannya, berapa jumlah korban, berapa jumlah pengungsi, dan hal lainnya. “Fakta tetap diberitakan, karena itu “selling poin” bagi media, sudah tugas wartawan untuk memberitakan. Yang harus dihindari adalah jangan terlalu dibesar-besarkan, jangan berlebihan,”ujarnya.
Setelah bencana gempa bumi dan letusan Gunung Merapi berakhir, wartawan di Yogyakarta kemudian juga ikut berperan untuk memulihkan kondisi pariwisata Yogyakarta. Antara lain dengan memberikan masukan ke pihak legislatif dan eksekutif.  “Bagaimana kita (wartawan) ikut memberi andil, memberi solusi, ketika bencana selesai, hentikan beritanya (bencana), lalu kita beritakan pembukaan bandara, pariwisata yang kembali bangkit. Jalur erupsi Gunung Merapi kini menjadi daerah wisata, ada wisata lava tur yang menjadi favorit wisatawan yang datang ke Yogyakarta,”ujarnya.
Pasca terdampak bencana gempa bumi dan letusan Gunung Merapi, dunia pariwisata Yogyakarta cepat pulih dan semakin berkembang. Ini karena toleransi dan sifat gotong royong masyarakat Yogyakarta yang tinggi, sehingga proses recovery atau pemulihan dunia pariwisata bisa cepat dilakukan. (Wirati Astiti)

To Top