Pelesir

Jadikan Daerah Bekas Bencana sebagai Wisata Baru

Kabid Perencanaan Bappeda DIY, Danang Setiadi

Bali perlu belajar dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)  bagaimana menangani pemberitaan bencana. DIY juga pernah mengalami bencana gunung meletus dan banjir, namun, turis tetap tidak takut datang ke Yogyakarta.

Demikian tergambar dari diskusi awak media yang tergabung dalam Forum Wartawan DPRD  (Forward) Bali saat press tour ke Sekwan DPRD DIY, Kamis (14/12).

Kabag Humas dan Protokol Sekwan DPRD DIY Budi Nugroho,  mengatakan, dalam pemberitaan bencana, janganlah terlalu dibesar-besarkan. “Memang fakta harus tetap disampaikan,  misalnya bagaimana kondisi terkini, namun, jangan sampai beritanya terlalu bombastis. Banjir yang setinggi lutut ditulis  Yogakarta Lumpuh, padahal hanya di daerah tertentu yang banjir, seperti itu contohnya,” ujarnya.

Primaswolo Sujono, Seketaris Dewan Kehormatan PWI menambahkan, wartawan wajib memberikan berita sesuai fakta di lapangan, namun, saat bencana setelah usai, wartawan hendaknya menulis bagaimana usaha yang dilakukan untuk pemulihan.

Justru menariknya, daerah bekas bencana bisa dijadikan daerah wisata baru, seperti napak tilas daerah bekas erupsi gunung api, dimana tempat Mbah Marijan, saksi  bisu saat gunung api meletus, termasuk jam dinding yang yang mati saat gunung merapi meletus masih dipajang.  “Napak tilas di  daerah bekas bencana ini bisa dilalui dengan trail atau jeep, justru sangat menarik wisatawan. Trik ini, justru menarik minat wisatawan untuk datang dan melihat langsung, seperti Tur Merapi di pagi hari,” ujarnya.

Kabid Perencanaan Bappeda DIY, Danang Setiadi, SIP.,MT., mengatakan, belajar dari bencana meletusnya gunung Merapi, partisipasi masyarakat sangat tinggi dalam  pemulihan bencana. “Waktu meletusnya gunung Merapi bandara Adi Sucipto sempat ditutup seminggu, syukurnya toleransi Yogyakarta sangat tinggi, mereka bersama-sama bersatu agar recovery  segera dilakukan.

Menurut Budi Nugroho, wisata daerah bencana seharusnya bisa juga diterapkan di Bali.

Ia menambahkan, setiap tiga bulan selalu Paguyuban Wartawan DPRD DIY menggelar forum diskusi dengan legislatif dan eksekutif  dengan topik kekinian, sehingga para wartawan mendapatkan informasi yang akurat dan lengkap. Termasuk, saat bencana Gunung Merapi.  Dalam diskusi tersebut para wartawan juga bisa memberi masukan untuk penanganan bencana bersama-sama. (Wirati Astiti)

To Top