Edukasi

Lakukan Konservasi Lontar

Bali memiliki banyak warisan budaya baik berupa benda maupun tak benda. Salah satu warisan budaya yang berupa naskah manuskrip adalah lontar.  Lontar merupakan dokumentasi budaya masa lampau dan merupakan benda yang sangat bernilai. Isi yang terkandung dalam manuskrip lontar  begitu bermanfaat seperti tentang mantra, keagamaan, pengetahuan tentang astronomi dan astrologi (wariga), pengobatan tradisional (usada), prosa, kekawin, kidung, sejarah, cerita-cerita, dan lain-lain. Lontar menjadi bukti tentang budaya menulis sastra di bali telah terjadi sejak dahulu kala. Maka itu upaya untuk menjaga dan melestarikan keberadaan lontar juga harus menjadi perhatian semua pihak.

Mengingat begitu pentingnya peninggalan tersebut terhadap pengembangan kebudayaan nasional, sehingga diperlukan suatu penanganan khusus terhadap manuskrip lontar agar terhindar dari kepunahan, karena usia manuskrip yang cukup tua dan tidak akan bertahan lama apabila tidak dipelihara dengan baik. Akan tetapi, kini keberadaan lontar di Buleleng dan di bali pada umumnya banyak ditemukan dalam kondisi rusak.  Kerusakan lontar yang telah diwariskan secara turun temurun kepada penerusnya banyak disebabkan karena sedikitnya pengetahuan tentang cara penyimpanan lontar yang baik dan tak jarang lontar menjadi barang yang sakral dan jarang untuk disentuh.

Kondisi lontar yang rusak banyak ditemukan di rumah Ida Bagus Surya Yadnya yang berasal dari Griya Tangguwisia, Banjar Dinas Tangguwisia Kecamatan Seririt. Lontar yang dimiliki oleh Ida Bagus ini merupakan warisan yang terima secara turun temurun. Selama ini, ia tidak pernah membaca isi dari lontar tersebut. Sampai akhirnya datang Tim Penyuluh Bahasa Bali Kabupaten Buleleng yang membantu mengidentifikasi lontar tersebut.

Menurut Putu Pertama Yasa, S.Pd., Kamis (7/12) Koordinator Kabupaten Buleleng Penyuluh Bahasa Bali mengatakan konservasi lontar dilakukan untuk menyelamatkan naskah-naskah yang berada dimasyarakat. Dirinya menambahkan konservasi merupakan salah satu tugas dari Penyuluh selain mengedukasi dan mengidentifikasi jenis-jenis lontar yang ada di masyarakat. “Permasalahan yang sering ditemukan adalah mereka (masyarakat,-red) tidak tahu cara pemeliharaan dan penyimpanan lontar sehingga lontar yang dimiliki banyak dalam kondisi rusak,” jelasnya. Setelah diedukasi diharapkan masyarakat dapat secara mandiri memelihara dan menjaga warisan leluhurnya. Selain mengedukasi, timnya juga membantu masyarakat untuk mengidentifikasi jenis dan isi lontar sehingga masyarakat tahu isi lontar yang dimiliki. “Beberapa masyarakat memang meminta kami untuk mengidentifikasi lontarnya dan disalin ke dalam tulisan latin,” ungkap Yasa.

Sementara itu, Ida Bagus Ari Wijaya koordinator bidang konservasi lontar penyuluh bahasa Bali kab. Buleleng, mengatakan konservasi lontar dilakukan sebagai upaya menyelamatkan manuskrip dari kehancuran. Beberapa kegiatan konservasi yang dilakukan untuk menyelamatkan fisik lontar dari kerusakan dan kehancuran di antaranya pemeliharaan lontar  dengan membersihkan noda atau kotoran. Menurut Bagus Ari, kerusakan lontar yang dimiliki oleh Ida Bagus Surya Yadnya dikarenakan usia yang cukup tua dan kesalahan dalam penyimpanan. Menurutnya lontar memiliki karakteristik yang berbeda dengan buku, semakin lama tidak dibuka maka lontar akan cepat rusak. “Untuk pemeliharaan kami gunakan minyak sereh dicampurkan dengan alcohol untuk menghilangkan noda dan debu serta melemaskan bahan lontarnya,” tandasnya.(Wiwin Meliana)

 

To Top