Buleleng

Buleleng Potensial Dikembangkan Buah Naga Jenis Palora Equador

Buleleng begitu potensial untuk dikembangkan menjadi daerah budidaya buah naga. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya lahan-lahan pertanian yang dikembangkan menjadi perkebunan buah naga. Secara umum buah naga dapat tumbuh di dataran rendah dengan kondisi tanah kering sebab buah naga merupakan tanaman yang tidak memerlukan banyak air. Inilah sebab perkebunan buah naga banyak terdapat di daerah-daerah dataran rendah dengan suhu tinggi.

Berbeda dengan hal itu, rupanya petani asal desa Tajun membuat terobosan baru. Di lahan seluas dua hektar perkebunan buah naga milik I Made Arnaja dapat tumbuh dengan subur. Desa Tajun Kecamatan Kubutambahan merupakan daerah dataran tinggi yang suhu rendah. Namun di tangan kreatif Arnaja, mindset masyarakat terhadap budidaya buah naga hanya tumbuh di dataran rendah terbantahkan. Dirinya mengaku jika dikembangkan dengan cara yang benar dan diberikan nutrisi yang tepat maka di manapun tanaman akan dapat tumbuh dengan baik. “Ketika saya menanam bukan berapa untung yang akan sayaa dapatkan melainka berhasil atau tidakkah buah ini dikembangkan,” jelasnya.

Dirinya menambahkan tertarik membudidayakan buah naga sebab buah yang biasa tumbuh      di gurun ini dapat dikembangkan tanpa mengenal musim. Selain itu, buah naga juga memiliki pangsa pasar yang baik sehingga selalu memiliki nilai jual yang bagus. Di samping itu varietas buah naga juga begitu banyak sehingga dapat dikembangkan bermacam-macam jenis.

Saat ini Arnaja tengah mencoba mengembangkan buah naga kuning biasa, buah naga hitam dan buah naga kuning jenis Palora Equador, di samping juga tetap mengembangkan jenis buah naga merah dan putih. Bahkan saat ini dirinya tengah fokus mengembangkan buah naga kuning jenis Palora Equador di daerah dengan ketinggian 1.100 mdpl  dan luas 4 ha yang berada di Batukaang, Kintamani, Bangli. Selama tiga bulan proses pertumbuhan buah naga miliknya sudah berkembang dengan baik dan tumbuh bunga. “Jenis Palora masih berbunga tetapi jenis buah naga kuning biasa yang bentuknya lebih kecil sudah sempat panen sekali,” jelasnya. Arnaja menambahkan selain langka buah naga jenis ini juga memiliki nilai jual yang sangat tinggi dibandingkan dengan buah naga merah dan putih. Bahkan untuk satu kilogram buah naga Palora Equador dijual hampir 350 Ribu Rupiah. “Apapun yang langkan pasti harganya lebih mahal,” ungkapnya.

Dia menambahkan untuk budidaya buah naga jenis tersebut masih sangat langka bahkan di Indonesia. Hal ini memunculkan  keinginannya untuk mengembangkan buah naga tersebut di Bali dan Buleleng pada khsusunya. “Kalau kita bisa kembangkan di Buleleng kenapa kita mesti jauh-jau impor ke luar negeri,” ucapnya.

Pihaknya mengaku tidak ada perbedaan cara menanam buah naga kuning dengan merah. Akan tetapi dari segi pemupukan dirinya memprioritaskan pupuk organik. “Saya ingin menghasilkan hasil pertanian yang benar-benar sehat,” tutupnya. (Wiwin Meliana)

To Top