Kolom

GUNUNG AGUNG

“Gunung dalam sebuah peta bumi, tidak pernah dilupakan. Lebih dari kota, yang sering dilewatkan saja karena dianggap kurang penting dalam hubungan peta terkait. Di samping menyangkut penerbangan gunung memiliki kaitan emosioanal dan spiritual dengan penduduk. Sebagaimana Gunung Fuji untuk bangsa Jepang, Gunung Agung di Bali terhubung dengan puncak kegiatan spiritual kami,” tulis Amat dalam suratnya pada Djordje, tamu dari Beograd yang pernah menginap di rumahnya, 13 tahun silam.
“Sekitar 56 tahun yang lalu Gunung. Agung pernah meletus hebat sekali,” lanjut surat Amat, “Banyak sungai, jembatan, tanah pertanian dan hunian dilanda rusak. Tapi belakangan tanah jadi subur dan lahan yang tertimbun pasir menjadi uang. Hal itu terjadi juga pada letusan Merapi di Yogya. Beberapa waktu yang lalu Gunung Agung sudah ada tanda-tanda meletus. Penduduk sudah mengungi, tapi batal. Sekarang sudah terjadi letusan dan bandara Ngurah Rai ditutup. jadi sebaiknya Djordje tunggu dulu membawa keluarga berakhir tahun di Bali, sampai Gunung Agung tenang. Kami semua di Bali berdoa.”
Amat menyerahkan surat itu pada Ami.
“Tolong salin ke bahasa Inggris, terus langsung email-kan ke Djordje di Beograd supaya dia membatalkan kedatangannya,”
Ami, membaca surat, hanya satu menit. Kemudian ia meraih HP dan kirim SMS ke Djordje. Lalu mengembalikan surat Amat.
Amat terkejut.
“Sudah?”
“Sudah!”
Kok cepat sekali?”
“Teknologi, Pak! Bersyukurlah pada teknologi!”
Amat tak percaya.
“Surat sepanjang itu, kamu mungkin belum selesai membacanya. Belum menerjemahkan. Belum menuliskan!”
“Sudah! Ami kan sudah belajar membaca cepat!”
“Tapi menuliskan sepanjang itu?”
“Yang penting kan isinya!”
Amat curiga.
“Coba lihat!”
Ami menunjukkan dua baris kalimat yang barusan dikirimnya.
“Ini apa?”
“SMS.”
“Kenapa bukan email? Kenapa hanya 2 kalimat?”
“SMS kan bukan untuk bercerita. Intinya saja!”
“Ini apa artinya?”
“Jangan datang dulu. Bandara lagi ditutup.”
Amat kecewa.
“Gunung Agungnya mana?”
Ami bingung.
“Bapak maunya Djordje datang atau menunda kedatangannya?”
“Pokoknya Bapak maunya Gunung Agung meletus, bandara ditutup, bahaya, jangan datang dulu. Ayo tulis!”
Ami geleng-geleng kepala.
“Ayo Ami, tulis!
Ami terpaksa menulis.
“Djordje itu bule yang baik. Kita harus lindungi dia. Terjemahkan saja apa yang Bapak katakan. Jangan diubah. Dan kirim!”
“Sudah!”
Nah begitu. Meskipun hanya kawan, kita harus lindungi dia. Kalau dia datang dengan istri dan anak selagi Gunung Agung meletus kan berabe?!”
HP Ami berdencit.
“Apa itu?”
Ami melihat HP
“Djordje balas.”
“Apa katanya?”
Ami membaca:
“Oke. Aku dan istri dan kedua anakku berangkat ke Bali akhir minggu ini!”
Amat terkejut.
“Astaga, jangan!”
“Ami kan sudah cegah dia. Tapi Bapak maksa menyebut Gunung Agung meletus, turis kan sukanya sensasi!

To Top