Kuliner

Menu Wajibnya 3T

Suasana di dapur umum Posko GOR Swecapura, Klungkung

GOR Swecapura, Klungkung tak hanya dipadati pengungsi erupsi Gunung Agung. Banyak juga para relawan yang selalu siap membantu pengungsi. Relawan ini membantu menyiapkan perlengkapan tidur dan barang lainnya. Mereka juga membantu urusan masak-memasak di dapur umum. Dari olahan tangan relawan, tersaji berbagai makanan yang tetap mengutamakan gizi dan kesehatan.

Dapur umum berada di sisi Barat GOR. Di beberapa tenda, relawan tengah mempersiapkan peralatan masak. Ada yang menyalakan kompor, memotong berbagai macam sayuran dan membersihkan ikan laut.

Udara panas berbaur dengan kepulan asap tipis menembus celah-celah kecil pada tenda. Suara nyala api pun mengiringi. Berkobar terhembas angin. Keringat mengucur ketika proses penggorengan berbagai jenis bumbu dimulai. Mata mereka pun sesekali terpejam. Disulut rasa perih. Tak ada keluh kesah yang terlontar. Mereka tetap tersenyum seolah tanpa beban mengambil pekerjaan itu. Mereka juga selalu mengucapkan kata “tolong” saat meminta bantuan kepada temannya.

Warga pengungsian yang meninggalkan tanah kelahirannya ini harus tetap diperhatikan. Mereka harus mengonsumsi makanan yang bergizi dan tetap baik untuk kesehatan. Sayur, tahu, telur dan tempe wajib ada tiap hari. Itu sebagai pengganti daging maupun ikan yang tak setiap hari tersedia. “Yang jelas tahu, telur, dan tempe atau kami sebut 3T, tiap hari ada,” ungkap Putu Yudi Pasek Kusuma (42), salah seorang relawan yang tergabung dalam Komunitas Peduli Klungkung ini.

Yudi menuturkan aktivitas memasak berlangsung dua kali sehari. Makanan yang disiapkan sekitar 1.500 bungkus. Ini seluruhnya untuk pengungsi yang tinggal di GOR. Untuk di pokso lain, memasak secara mandiri. Keperluan logistiknya langsung dibawakan. Menunya pun sama, juga sayur, tahu, tempe dan telur. “Kalau masak daging, biasanya kalau ada bantuan,” ucap pria kelahiran 15 Juni 1975 ini.

Ia mengaku menjadi relawan di pengungsian tak dilakukannya sendiri. Namun juga bersama sejumlah temannya yang memiliki profesi berbeda. Ada yang jadi tenaga medis maupun pengusaha. Tak ada rasa keberatan untuk berbagi. Seluruhnya ingin meringankan beban pengungsi yang telah kehilangan pekerjaan. “Keluarga kami sangat mendukung. Ini menjadi hal rutin yang kami lakukan,” katanya.

Kegiatannya itu sudah dilakukan sejak September 2017 sejalan dengan pengungsian pertama. Setiap hari, minimal ada dua orang yang bertugas. Mereka yang tengah libur kerja. Yudi dan para relawan mendapat pelajaran disini. Mereka bisa berbagi dengan saudara-saudara yang sedang dilanda bencana. (Sosiawan)

To Top