Bunda & Ananda

Giring Anak Segera Selesaikan Tugasnya

Menjelang hari raya Galungan-Kuningan lalu, anak-anak SD diliburkan 2 minggu. Meski libur, siswa SD kelas 6 di sebuah sekolah swasta di Denpasar tetap diberikan PR yang cukup banyak. “Iya tidak apa-apa kan, kalau tidak dikasih PR nanti Devi pasti tidak belajar,” sahut ibunya ketika putri sulungnya itu mengeluh. Meskipun mengeluh, rupanya Devi sudah memiliki strategi untuk bisa ‘menghabiskan’ oleh-oleh selama liburan tersebut. Setiap hari, ia mencicil mengerjakan PRnya tersebut sampai akhirnya pada saat masuk kembali, semua PR sudah selesai dibuatnya.

Beberapa saat kemudian, telepon genggam Devi berdering. Dari seberang sana, terdengar suara Tamara, teman sekelas Devi. Ia menanyakan tentang PR yang harus dikumpulkan keesokan harinya. “Untung PR Devi sudah selesai, masa Tamara baru mau buat sekarang, PRnya kan banyak, pasti nanti tidak selesai. Dari waktu itu sudah Devi bilangin ngerjain PR tapi kata dia gampang nanti saja, eh sekarang baru dia nanya-nanya,” curhat Devi kepada sang Ibu, Cahyani. Ibunya hanya bisa berkata,”Devi baru anak pintar ya”.

Cahyani mengakui putrinya itu memang sudah bisa mendisiplinkan dirinya, terutama membagi waktu kapan untuk belajar dan kapan untuk bermain. “Ya, tapi kadang-kadang keluar malasnya juga sih kalau misalkan apa yang saya perintahkan dia tidak mood melakukannya. Jadinya harus berulangkali diucapkan,” ujar Cahyani.

Misalkan Minggu pagi, setelah selesai sarapan, Cahyani meminta Devi  untuk segera mandi agar bisa membantu dirinya menghaturkan banten. “Iya Bu, sebentar, kasih Devi istirahat dulu,” ujar Devi sembari memegang HP membuka-buka instagramnya. Tiga puluh menit berlalu, ketika Cahyani kembali dari warung, ia mendapati Devi masih asyik bermain dengan HPnya. “Devi, kok masih belum mandi, ayo cepat mandi, berapakali sih Ibu harus ngomong, tolong bantu Ibu dong,” ujar Cahyani dengan nada agak tinggi. “Iya..iya..iya,” sahut Devi kesal seraya ngeloyor masuk kamar mandi.

Cahyani yang sudah mengerti karakter Devi tak mempermasalahkan lagi sikap putrinya itu. Meskipun dengan perasaan terpaksa, tetapi Devi mau melakukannya. Karakter putri bungsunya, Dini, juga demikian. Bahkan dikatakannya lebih tidak disiplin dibandingkan Devi. Cahyani agak memakluminya karena Dini baru duduk di kelas 2 SD. Namun, seringkali Cahyani meminta Dini mencontoh kakaknya yang rajin membantu ibu.

Dari tingkah polah kedua putrinya itu, Cahyani memiliki kiat tersendiri untuk membiasakan anak tak menunda apa yang menjadi kewajibannya. “Memang agak repot sih, kita harus terus cerewet mengingatkan dan mengingatkan lagi. Bahkan tidak segan-segan harus mendikte dan menggiring anak sampai ia melakukan apa yang kita minta atau apa kewajibannya dia,” ujar Cahyani.

Seperti misalnya ketika Cahyani meminta Dini untuk mandi sore. Ada saja alasan yang dilontarkannya, entah minta makan dululah atau beralasan merapikan mainannya. “Kalau sudah begini, biasanya saya segera menghentikan aktivitas saya yang lain. Saya ladeni dia menyiapkan makanannya, menunggui dia sampai selesai makan dan menungguinya juga sampai selesai merapikan mainan. Setelah itu dia tak punya alasan lain lagi untuk tidak segera mandi,” ucapnya tersenyum. (Inten Indrawati)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top