Bunda & Ananda

Disiplin Waktu dan Pengelolaan Tugas

Zeta Dangkua, M.Psi., Psikolog 

“Dik, setelah selesai belajar, tolong rapikan bukunya ya,” ujar seorang ibu kepada putri bungsunya. “Iya, sebentar,” jawab sang anak sekenanya, yang beberapa saat masih membiarkan buku-buku berantakan di meja. Setelah diingatkan kembali dan didikte, si anak baru mau melakukan intruksi ibunya.

Melihat contoh kasus tersebut, Zeta Dangkua, M.Psi., Psikolog  mengatakan, penundaan atau “procrastination” pada dasarnya adalah perilaku menghindar dari tanggung jawab menyelesaikan suatu tugas pada batasan waktu tertentu. “Namun, tidak semua penundaan tugas akan otomatis menjadi procrastination karena ada mekanisme psikologis fight-or-flight response di saat seseorang menghadapi suatu kondisi darurat,” ujar Psikolog & Staf Ahli Divisi Recruitment, Assesment, and Training Center PRADNYAGAMA Denpasar yang akrab disapa Zeta ini.

Pada anak-anak yang usianya lebih muda, perilaku menunda mengerjakan tanggung jawab, baik itu berupa PR dari sekolah, membantu orangtua mengerjakan tugas rumah, atau pun mengerjakan tugas dari les pelajaran ini, dikatakannya  adalah perilaku yang relatif wajar dikarenakan anak-anak usia Sekolah Dasar masih lebih menikmati bermain dibandingkan bekerja. Bekerja yang dimaksud di sini adalah mengerjakan tugas pada batasan waktu tertentu.

Seiring bertambahnya usia, misalnya anak usia SD kelas 5-6 perlu lebih belajar mengenai disiplin waktu dan pengelolaan tugas. Mereka perlu belajar tentang pentingnya membagi waktu dan energi untuk berbagai hal sekaligus, termasuk bermain, belajar, bersosialisasi, dan membantu orangtua melakukan tugas rumah tangga yang sederhana.

“Disiplin terhadap waktu dan pengelolaan tugas ini, apabila tidak dipupuk dan dibiasakan kepada anak, dapat berdampak lebih lanjut pada kebiasaan pengelolaan waktu yang longgar apabila anak sudah beranjak remaja dan bahkan bisa menetap hingga usia dewasa,” ujar Psikolog Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan & Anak (P2TP2A) Kota Denpasar ini.

Kasus penundaan (procrastination) pada situasi belajar ini dapat diamati dari pola SKS alias Sistem Kebut Semalam yang umumnya ditemui ketika masa ulangan umum atau ujian semester. Dampaknya tentu saja terjadi kelelahan pada psikis, karena otak yang biasanya beraktivitas santai-santai saja menjadi harus bekerja ekstra di menit-menit terakhir. Seolah dijejali banyak informasi sekaligus. Dampak berikutnya bisa jadi otak tidak optimal menyerap informasi tersebut dan ketika harus mengingat kembali, bisa jadi ada informasi yang kurang lengkap atau bahkan hilang.

Procrastinator atau orang yang terbiasa menunda penyelesaian tugas secara terus-menerus pada dasarnya bukan orang yang malas, melainkan kurang terampil dalam mengelola pembagian waktu dan energi untuk menjalankan tugasnya pada batas waktu yang telah ditentukan. (Inten Indrawati)

(Visited 1 times, 1 visits today)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Terkini

To Top