Connect with us

Nine

Saidah Iskandar: Tetap Aktif di Masa Pensiun

Published

on

Saidah Iskandar saat mengantar undangan ke rumah-rumah warga

Pada perayaan Idul Adha yang lalu, orang-orang sibuk bersiap melakukan Salat Id di Lapangan Kara Sila Kecamatan Bolo Kabupaten Bima. Seorang perempuan malah sibuk membersihkan kotoran ternak yang menghalangi jalan masuk ke lokasi pelaksanaan Salat Id tersebut. Sesungguhnya warga tidak ada yang peduli tentang itu melainkan menghindarinya dengan melewati jalan lain. Namun, bagi perempuan pensiunan guru ini, kenyamanan salat yang dilakukan setahun  sekali bagi umat Muslim itu adalah yang utama. Karena itulah sebelum salat dimulai, ia sibuk mengatasi hal tersebut dengan menutupnya sementara.

Adalah Saidah Iskandar, perempuan berusia 65 tahun, warga Desa Rato yang dikenal sebagai perempuan aktif dalam urusan sosial kemasyarakatan di kampungnya. Perannya dalam kehidupan sosial khususnya di Desa Rato terbilang besar. Ia menjadi salah seorang yang dituakan di kampung tersebut.

Tapi Saidah bukanlah orang yang dituakan yang hanya menunggu orang-orang datang ke rumahnya  hanya untuk memberinya nasihat-nasihat, melainkan ia juga turun langsung membantu aktivitas warga yang mempunyai acara di kampung tersebut. Bisa dikatakan dimana ada orang yang akan menggelar acara, baik perkawinan ataupun hajatan lain di kampung ini terutama di lingkungan tempatnya tinggal, sudah pasti ia menjadi salah seorang yang paling sibuk membantu menyukseskan hajatan tersebut. Ia bahkan tidak segan meski hanya sekedar mengantar undangan atau pun menyebar informasi hajatan dari rumah ke rumah. Sampai-sampai ketika ia terlihat berjalan melintasi rumah-rumah warga, orang-orang sudah tahu setidaknya kemungkinan besar ada kabar orang yang berhajat. “Kalau ada ibu Adu lewat biasanya menyampaikan akan ada hajatan warga,” kata Farida salah seorang warga.

BACA  Lebaran Topat: Berkah Pedagang Ketupat

Kebiasaan ibu Adu -panggilan akrab dari Saidah Iskandar- membantu secara sukarela ini telah ia lakukan bahkan sejak ia masih aktif mengajar. Keringanan langkah dan kemauannya untuk aktif di lingkungan sosial dalam kerja-kerja kemasyarakatan ini dinilai baik oleh warga di kampung tersebut. Terutama setelah ia pensiun tahun 2013, Saidah banyak menghabiskan waktunya dengan aktivitas yang bermanfaat.

Advertisement

Ia memang tidak pernah bisa diam dari pekerjaannya. Bahkan ketika menjelang pensiun, ia benar-benar bekerja, bisa dikatakan hingga menit terakhir karirnya sebagai guru. Masih lekat di ingatannya tanggal 31 Desember 2013, ia baru meninggalkan sekolah tempatnya mengajar untuk menjalankan masa pensiun. “Tanggal 31 Desember 2013 jam 12.50 wita saya pulang dari sekolah dan sejak itulah saya pensiun,” ujar Ketua Aisyiyah Kecamatan Bolo ini.

Waktu itulah saat yang benar-benar memisahkannya dengan pekerjaan yang berpuluh-puluh tahun dijalaninya. Jika orang lain yang memasuki masa pensiun akan lebih memilih tinggal di rumah untuk beristirahat, maka tidak begitu dengan Saidah. Ia mengabdi hingga masa pensiunnya benar-benar berakhir. Kecintaannya pada profesi ini membuatnya selama masa menunggu pensiun itu ia tetap masuk sekolah mengajar kelas-kelas yang kebetulan gurunya izin atau sakit.

BACA  Fitri Nugrahaningrum: Ubah Stigma Masyarakat Terhadap Tuna Netra

 

MENGABDI DI SEKOLAH PERBATASAN

Sebelum akhirnya pensiun dengan tugas terakhir sebagai guru agama di SDN Inpres Rato, ia pernah mengajar di sekolah dasar di perbatasan Bima dan Dompu, di SDN Inpres 2 Desa Rora mengikuti suaminya yang juga seorang guru di sana.

Advertisement

Sekolah ini terbilang jauh dari kampung tempatnya tinggal. Hari-harinya mengabdi di sekolah perbatasan kabupaten ini tahun 1980-an menjadi salah satu penugasan yang tidak bisa dlupakannya karena telah memberinya pengalaman yang lebih dari bertugas di tempat lain. Lalu saat ia mengajar di salah satu sekolah dasar di Tumpu Sila, ia harus bolak-balik menggunakan ojek. Begitu lama waktunya mengabdi sebagai guru, tidak jarang membuatnya naik ojek yang rupanya ada bekas murid-muridnya. “Kalau sudah begitu oleh tukang ojek murid saya itu biasanya tidak diminta bayar,” katanya tertawa.

Saidah menikmati tiap waktu pengabdiannya itu. Ketika tidak lagi mengajar, perempuan yang masih terlihat gesit di usianya yang tidak muda lagi itu, kini menghabiskan waktunya dengan tetap aktif dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Baginya, hidupnya yang sekali itu mestilah ia habiskan untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena itulah selama tubuhnya kuat ia tidak akan berhenti untuk membantu. Bekerja sukarela itu menurutnya nikmatnya lebih terasa damai.

BACA  Magangkan Perajin Cukli Lombok di Jepara

Continue Reading
Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nine

Didik Anak dengan Cinta

Published

on

Seminggu yang lalu, Samara Lombok ramai oleh para orangtua yang mengikuti kegiatan parenting. Mereka berkumpul untuk berbagi pengalaman dan cerita dalam mendidik anak-anak mereka di dalam keluarga. Bersama Fitri Nugrahaningrum penyandang tuna netra yang memiliki kepedulian lebih terhadap pendidikan anak-anak di sekitar tempatnya tinggal di Kediri Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, mereka larut dalam obrolan dan diskusi dalam parenting yang bertemakan mendidik dengan cinta.

Pendidikan bagi anak khususnya yang masih berusia dini, sejatinya utamanya ada dalam keluarga. Karakter masing-masing keluarga menjadi dasar utama dalam mendidik anak-anak. Pendidikan di sekolah dan lingkungan anak, menjadi pelengkap yang juga penting untuk tumbuh kembang anak. Pentingnya pendidikan dalam keluarga inilah yang menjadi perhatian Samara Lombok, sehingga tempat belajar ini melaksanakan kegiatan parenting bagi wali atau orangtua khususnya ibu-ibu dari anak-anak PAUD/TPA yang belajar di Samara Lombok.

Menurut Fitri, pendiri Samara (Satelit Masa Depan Negara) Lombok, kegiatan parenting ini merupakan kegiatan yang sengaja dibangun untuk memantau sejauh mana hubungan antara orangtua dengan anak secara riil (khususnya yang anak-anaknya belajar di Samara). Kegiatan yang dilakukan sebulan sekali ini digelar dalam bentuk diskusi, motivasi, lomba dan bahkan bermain drama dengan tema keluarga.

BACA  Fitri Nugrahaningrum: Ubah Stigma Masyarakat Terhadap Tuna Netra

“Dari kegiatan itulah kami banyak menemukan hal-hal yang lucu. Ternyata masih banyak orangtua yang tidak peduli pada pendidikan anak. Karena selama ini pendidikan lebih banyak diserahkan pada sekolah-sekolah formal semata tanpa kontrol, sedangkan di rumah mereka mendidik hanya dengan memberikan uang jajan. Ternyata banyak sekali orangtua yang belum paham akan pentingnya pendidikan dalam keluarga itu,” kata Fitri.

Advertisement

Banyak kejadian yang tidak terduga ketika dalam kegiatan ini diselenggarakan perlombaan sederhana tentang bagaimana mendidik anak dengan cinta. Misalnya ketika sepasang ibu dan anak, ibu bernyanyi lagu untuk menghibur anaknya, tetapi malah anaknya menangis saat ibunya bernyanyi. Ada juga peristiwa saat orangtua mempraktikkan menasihati dan membujuk anak seraya memeluk dan menciuminya, anaknya malah cemberut dan langsung menangis. “Kondisi demikian menunjukkan bahwa para wali atau orangtua anak ini tidak pernah melakukan hal tersebut di rumah,” ujar Fitri.

Hal seperti ini memang terbilang sepele untuk dilakukan namun besar sekali manfaatnya dalam mendidik anak.  Itulah mengapa Fitri menganggap kegiatan parenting bagi orangtua ini penting agar orangtua paham akan peran penting mereka dalam mendidik anak. “Orangtua dan lingkungan rumah adalah lingkungan pertama dimana anak mengenal ilmu, nilai, norma, budaya dan cinta, sehingga peran orangtua dan lingkungan rumah sangat penting bagi pembentukan pribadi/karakter anak. Dan semua itu sangat jarang dilakukan apalagi dipahami oleh orangtua,” ungkapnya.

BACA  Lebaran Topat: Berkah Pedagang Ketupat

 

Ciptakan Keluarga Samara

Selama ini menurut Fitri, kebanyakan mereka hanya tahu dan membebankan pendidikan pada sekolah, padahal sekolah adalah lingkungan untuk mengasah potensi yang dimiliki anak dan memaksimalkan potensi tersebut menjadi profesi di masa depannya nanti. “Dengan begitu peranan dan fungsi keluarga akan terbangun dan akan tumbuh rasa saling menghormati, menghargai, menyayangi dan mencintai antara anggota keluarga tersebut sehingga akhirnya terciptalah keluarga-keluarga Samara (Sakinah Mawaddah Warahmah) di lingkungan ini,” katanya.

Advertisement

Sebagai tempat belajar gratis bagi 92 anak PAUD dan 140-an anak TPA (Taman Pendidikan Anak) di sekitar Samara, tempat belajar ini sangat bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Anak-anak yang belajar di sini berasal dari selain di lingkungan sekitar Samara juga dari dusun-dusun yang ada di Kediri. Kehidupan di dusun-dusun inilah yang membuat Fitri merasa perlu untuk melakukan kegiatan parenting, karena pendidikan para orangtua yang belajar di Samara ini rata-rata tingkat sekolah dasar dan paling tinggi SMA. “Agar mereka dapat mendidik anak di rumah dengan baik kendati sekolah mereka tidak tinggi dan mereka tidak banyak uang untuk memanjakan anaknya, mereka dapat mendidik anaknya dengan cinta,” katanya.

BACA  Magangkan Perajin Cukli Lombok di Jepara

Ia berharap para orangtua ini bisa menjadi teman saat anak-anak bermain, menjadi orangtua saat anak-anak minta nasihat dan membutuhkan belaian kasih sayang, perlindungan dan pembelaan,” ujar Fitri yang mendirikan TPA sejak tahun 2011 dan PAUD sejak tahun 2015. Narasumber dalam kegiatan parenting ini, selain Fitri yang berlatar belakang Magister pada Ilmu Penyuluhan dan Pengembangan Masyarakat, Universitas Sebelas Maret Solo ini, juga sesekali mendatangkan narasumber lain seperti, dokter, pengusaha, penyiar, wartawan dan lainnya. Ia berharap para ibu dapat mendidik anak dengan cinta, sabar dan ikhlas penuh kreatifitas, agar anak-anak bisa senang, nyaman dan cerdas di semua lingkungan. (Naniek I. Taufan)

Continue Reading

Nine

Belajar Banyak Hal

Published

on

Kunjungan ke pusat kebudayaan Aborigin Australia.

Ketika anak-anak jauh dari orangtua, biasanya ibu adalah orang yang paling detil menanyakan kabar anak-anak tersebut. Apalagi kepergian anak-anak ini ke tempat yang cukup jauh. Hal ini terlihat selama dua minggu terakhir dalam program pertukaran pelajar yang dilakukan oleh SMAN 2 Mataram ke Christian College Geelong (CCG) Australia.

Sepanjang waktu itu, para ibulah yang terlihat lebih aktif memantau perkembangan dan kegiatan anak-anak mereka selama berada di Geelong Australia. Sejak pagi waktu Indonesia, mereka sudah bergantian bertanya tentang kondisi anak-anak mereka. Ada kehangatan keluarga yang terasa terbangun dari perhatian para ibu ini terhadap anak-anak mereka.

Karakter masing-masing ibu dan anak pun terlihat dalam obrolan-obrolan, salah satunya lewat grup media sosial yang sengaja dibuat sebagai tempat untuk berkomunikasi antara anak, orangtua dan pihak sekolah khususnya para guru pendamping anak-anak ini. Komunikasi ini secara tidak langsung juga merupakan bagian dari pendidikan yang dibangun antara anak, orangtua dan pihak sekolah.

Bagaimana tidak, sejak menjelang keberangkatan dua minggu lalu, antusiasme orangtua, khususnya para ibu dari 28 anak yang menjadi peserta pertukaran pelajar ini begitu luar biasa. Menyiapkan segala keperluan anak hingga mengajari mereka hal detil seperti mengatur pakaian sendiri, bagaimana harus bersikap yang baik hingga memberi nasihat-nasihat penting kepada anak-anak mereka, agar selama mengikuti program ini dapat memberi manfaat bagi mereka.

Advertisement

Program pertukaran pelajar ini dinilai sangat baik oleh para orangtua terutama para ibu dari pesertanya. Karena dari sini mereka bisa belajar banyak hal. Fitriah ibu dari Rezkia Fikriyanti salah seorang peserta mengungkapkan bahwa ia sangat senang dengan adanya program ini di SMAN 2 Mataram. Pasalnya ia mengaku bahkan sampai menangis karena bangga melihat video anaknya dan juga anak-anak lainnya ternyata mampu tampil dengan baik untuk bicara sendiri di atas podium di CCG Australia. “Saya bangga sampai nangis melihat anak-anak saat perkenalan di depan podium. Ternyata anak yang selama ini nggak bisa jauh dari mamanya sampai di negeri orang dengan gagah dan beraninya berbicara di hadapan  tamu undangan. Alhamdulillah…,” ungkapnya lega.

BACA  Sulaksmi Ariati, S.Pd. : Sak-sak Dance Warnai Karyanya

Hal yang sama diungkapkan Rahma Kurniawati, ibunda dari Dita Alvita Dakota. Ia menilai kegiatan semacam ini luar biasa untuk kemajuan anak-anak atau para siswa. “Anak-anak rupanya tidak butuh waktu lama untuk bisa beradaptasi dengan para host-nya yang  berbeda kebiasaan, adat istiadat dan lain-lain dengan  kita,” ujarnya.  Sambutan yang baik dari para siswa di CCG membuat para siswa dari SMAN 2 Mataram mampu berinteraksi dengan baik. Dita mengisahkan hal ini kepada ibundanya.

Sri Saptianingsih, ibunda M. Tegar Audryon Arzayka turut terkesan karena program ini memberi pengalaman berbeda. “Berada dan beraktivitas di luar negeri yang tentu saja berbeda budaya, karakter dan lingkungannya dengan di Indonesia,” kata Sri yang mengaku takjub melihat penampilan anaknya ketika berbicara di depan umum. “Itu di luar dugaan kami, ternyata anak saya berani bicara tanpa teks,” katanya. Rupanya ayah Ryon yang melihat rekaman videonya langsung bertepuk tangan saking senangnya melihat anaknya itu akhirnya berani tampil. “Ini akan menjadi kenangan yang sangat berharga buat anak-anak khususnya peserta program ini,” ujarnya.

BACA  Magangkan Perajin Cukli Lombok di Jepara

Begitu juga dengan Jumriah Duma Basri, ibunda dari Arzety yang mengaku sangat terkesan dengan kegiatan ini karena bisa membuat anaknya itu belajar mandiri. “Anak saya akhirnya bisa mandiri walaupun awalnya agak berat menyesuaikan terutama masalah makanan,” katanya. Memang salah satu yang menjadi bahan diskusi para ibu adalah soal makanan bagi anak-anak mereka yang jarang ‘bertemu’ dengan nasi dan makanan Indonesia selama berada di Australia. Makanan yang khas bagi warga Australia adalah kentang dan roti.

 

Advertisement

BELAJAR BERADAPTASI

Namun uniknya, para ibu saling memberi saran kepada putra- putrinya untuk bisa menyikapinya. Ada yang meminta mereka mencari restoran masakan Indonesia, ada pula yang menyarankan mereka untuk mencoba. Bahkan ada yang memberi saran agar anak-anak belajar menyesuaikan diri dengan situasinya hari itu. Saran itu semacam peribahasa ‘di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Anak-anak peserta pertukaran pelajar ini setidaknya bisa belajar beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan apa yang mereka rasakan saat itu di negeri orang.

Kelakar anak-anak justru menenangkan para ibunya, ketika ada seorang anak memosting daftar menu pada restoran Indonesia dengan harga snack yang terbilang mahal. Anak-anak pun saling sahut dan menertawakan keinginan mereka untuk ‘bertemu’ nasi. Mereka rupanya enjoy saja dengan situasinya yang rata-rata merindukan nasi dan makanan Indonesia. Kelakar-kelakar anak-anak ini justru menenangkan hati para ibu.

BACA  Sriyanti: Kebetulan Jadi Berkah

Salah seorang guru pendamping yang paling banyak berinteraksi dengan para orangtua, Izdhar Azizi, mengungkapkan bahwa memang akan selalu ada yang namanya adaptasi, terutama soal makanan. Ia sendiri mendapat host laki-laki yang tidak pernah tahu bahasa Indonesia dan juga tidak pernah berkunjung ke Indonesia. “Makanan yang disajikan memang seperti makanan aneh (bagi kita) tapi kita berusaha belajar menyesuaikan diri,” ujarnya.

Menurutnya, disitulah uniknya program ini, karena siswa bisa belajar langsung dari sumbernya. Masalah makanan rupanya bisa menjadi salah satu pembelajaran bagi anak-anak dalam beradaptasi. “Mereka akan secara mandiri menyelesaikan masalah yang dihadapi,”  ujar Izdhar. Hal ini dinilainya baik karena tujuan dari program ini adalah untuk membuat anak bisa belajar belajar budaya Australia dan kebiasaan mereka.

Advertisement

Melihat dinamika dan perkembangan selama dua minggu terakhir program ini berjalan, ternyata bukan hanya anak yang belajar jauh dari orangtua tetapi juga pelajaran baiknya adalah orangtua, khususnya ibu belajar menyikapi situasi dengan bijak ketika mereka jauh dari anak-anaknya. Hal lain yang menarik adalah perhatian para ibu kepada keluarga angkat anak-anak mereka di Australia dengan menyiapkan cinderamata yang khas Indonesia, khususnya yang berbau Lombok. Mulai dari kaus Lombok, kain tenun khas Lombok, batik Yogyakarta dan lain-lain yang mencirikan Lombok. Rahma Kurniawati, Ibunda dari Dita juga memberikan bingkisan lain khas Indonesia yang dipesan host anaknya, seperti  kopiko, indomie, teh celup sosro. (Naniek I. Taufan)

Continue Reading

Nine

Supinah: Ingin Hidup Mandiri

Published

on

supinah

Suara telepon berdering. Dengan sedikit meraba-raba, Supinah akhirnya mengangkat telepon dan menjawabnya. “Hallooo…. Iya, saya sedang ada pelanggan, lagi mijat, nanti saja saya telepon kembali ya,” ujar Supinah sembari meletakkan  lagi telepon tersebut di atas meja di samping lemari pakaian dekat pintu kamarnya. Posisi telepon lengkap dengan charger tergantung itu, adalah ‘senjata’ sehari-hari bagi Supinah dalam bekerja. Posisi HP yang tidak pernah berubah, membantu Supinah untuk tetap dapat menemukan alat komunikasi tersebut.

Bagaimana tidak, perempuan yang kini berusia 38 tahun itu melakukan semua hal di kamar kos-kosannya itu dalam keadaan matanya buta. Supinah adalah penyandang tuna netra yang hari ini bisa hidup mandiri dan tidak lagi tergantung pada orang lain. Bagi orang normal, melihat apa yang dilakukan Supinah di kos-kosannya ini rasanya akan mustahil, namun bagi Supinah biasa saja. Ia bahkan dengan cekatan berjalan dari kamarnya menuju dapur, ataupun mengunci pintu dan jendelanya. “Sudah biasa, jadi semua posisi sudah saya hapal,” ujarnya.

Setelah mengalami kebutaan pada menjelang usia 7 tahun, Supinah merasa hidupnya telah hilang untuk selama-lamanya.  Semua cita-citanya lenyap seketika. Dia juga tercerabut dari pergaulan kanak-kanaknya akibat orangtuanya khususnya sang ayahyang tidak mengizinkannya keluar rumah karena khawatir ia tidak mampu melakukan apa-apa dalam kebutaannya itu. Puluhan tahun ia habiskan hanya di rumah saja. Ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menuruti kata ayahnya. Supinah sempat berpikir, apakah selamanya ia akan hidup begitu terus, tergantung pada orangtua dan saudara-saudara saja. “Kapan saya bisa mandiri,” ujar Supinah yang waktu itu sangat ingin hidup mandiri.

BACA  Peringatan HAN 2017 di NTB: Perlu Intervensi Lembaga Keluarga dan Lembaga PAUD

Waktu itu Supinah menyangka cita-cita mandiri itu hanya khayalan belaka. Karena kini, di usia 38 tahun Supinah akhirnya meraih cita-cita itu. Ia kini bisa hidup mandiri dengan menjadi tukang pijat yang memiliki penghasilan sendiri. Ia bahkan bisa membiayai kehidupan ibunya yang sudah mulai sepuh. “Alhamdulillah sekarang saya punya penghasilan sendiri dan bisa membiayai ibu saya setiap hari,” katanya. (Naniek I. Taufan)

Advertisement

 

 

Hidup Lebih Baik Setelah Jadi Tukang Pijat

Berawal dari beberapa tahun lalu ia mengikuti pelatihan memijat yang diselenggarakan oleh Dinas Sosial Kota Mataram. Meski sebelumnya menurut Supinah, ayahnya juga saat itu masih tidak mengizinkannya ke mana-mana ketika ada petugas yang mencari Supinah ke rumahnya untuk mengajaknya ikut berpartisipasi dalam pelatihan ini. Namun Supinah memohon agar ayahnya memberi izin. Ia ingin sekali belajar hidup mandiri dan sangat ingin keluar rumah karena sejak mengalami kebutaan ia tidak pernah bisa ke mana-mana.

Setelah ayahnya meninggal beberapa tahun lalu, akhirnya Supinah bisa mengikuti pelatihan itu. Tidak terbayangkan betapa senangnya Supinah kala pertama kali bisa keluar rumah. Meski ia tidak bisa melihat dunia, ia merasa tubuh dan perasaannya bebas dan plong. “Itulah pertama kali saya keluar rumah, ke hotel tempat pelatihan dan bertemu dengan orang-orang. Saya merasa seperti baru lahir saja,” ungkapnya.

Advertisement

Pelatihan itu telah mengantarnya untuk menjadi pemijat pemula. Dengan usaha keras dan kemauannya untuk belajar ia kembali mengikuti pelatihan dan berkenalan untuk pertama kalinya dengan Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni) NTB. Selain mengikuti pelatihan ia juga terus belajar sendiri sampai benar-benar siap menjadi tukang pijat. Beberapa lama difasilitasi oleh Dinas Sosial Kota Mataram, ia sempat menjadi tukang pijat bersama rekan-rekan tuna netra lainnya bergabung menerima pelanggan secara bergantian. Namun tidak bertahan lama karena beberapa kendala yang mereka hadapi. Itulah sebabnya Supinah memilih menjadi tukang pijat panggilan atau menunggu pelanggan di rumahnya.

BACA  Baiq Diyah Ratu Ganefi : Hobi Dengarkan Orang Pintar Bicara

“Saya akhirnya menunggu pelanggan di rumah saja atau menunggu panggilan telepon dari pelanggan,” ujarnya. Di rumah ibunya ia menerima pelanggan untuk memijat, namun lama-kelamaan, karena posisi rumah ibunya yang terlalu dalam masuk ke gang serta dirasa kurang nyaman bagi pelanggan yang datang, Supinah mencoba untuk menyewa sebuah kamar kos yang dekat dengan jalan utama di wilayah tempatnya tinggal di Dasan Cermen Mataram. “Lumayan sejak di sini pelanggan banyak dan saya bisa membayar kos-kosan ini dan juga kasih ibu,” katanya.

Dalam sebulan, selain membayar kos, Supinah juga memberi ibunya uang setiap hari untuk biaya hidup mereka. Supinah memenuhi kebutuhan ibunya sampai dengan membeli beras dan kebutuhan hidup mereka lainnya. Setiap kali memijat, Supinah mematok tarif setidaknya Rp 35.000 namun jika ia dipanggil ke rumah pelanggan, tergantung jauh dekatnya karena ia harus membayar ojek untuk mengantarnya pergi dan pulang serta tambahan sedikit biaya memijat.

Setiap bulan ia bisa mendapat pelanggan rata-rata hingga 40-an orang, bahkan jika ramai ia bisa mendapat pelanggan lebih dari itu. Dan itu artinya, semakin banyak pelanggan maka semakin banyak pula penghasilan Supinah. Bagi Supinah berapa pun pelanggan yang didapatnya, itu adalah rezeki yang harus dihargainya. Karena dari sanalah ia memperoleh biaya hidupnya sehari-hari.

BACA  Sulaksmi Ariati, S.Pd. : Sak-sak Dance Warnai Karyanya

Setelah mampu mandiri, Supinah merasa dirinya begitu bahagia, karena hal-hal yang dulu tidak bisa dilakukannya sebagai seorang tuna netra, kini bisa dilakukan dengan leluasa termasuk hal yang paling dirindukannya, suara ombak dan bau pantai. Ia kerap sedih ketika di masa kecil, remaja dan dewasa ia tidak pernah bisa menikmati yang namanya bersenang-senang pesiar di saat Lebaran Topat (tradisi lebaran dalam masyarakat Lombok yang dirayakan setelah tujuh hari Lebaran Idul Fitri). “Dulu saya selalu sedih jika Lebaran Topat tiba, saya tidak bisa ikut karena dilarang ke mana-mana. Kini saya sudah bisa pergi ke mana-mana termasuk Lebaran Topat,” ujar Supinah yang selalu ceria ini.

Advertisement

Kehidupannya berubah menjadi jauh lebih baik setelah ia menjadi tukang pijat. Bertemu banyak orang adalah hal yang sangat menyenangkan baginya. Apalagi setelah mengenal Pertuni NTB, bahkan ia menjadi Ketua Cabang Pertuni Kota Mataram, diakuinya dirinya banyak mendapatkan keuntungan dalam pergaulannya. “Saya beruntung bisa mengikuti banyak kegiatan dan bertemu dengan banyak kalangan,” kata Supinah bahagia. Maka ia pun mengajak, agar para penyandang tuna netra tidak merasa minder dan tersisih dengan memaksimalkan potensi diri yang dimilikinya. “Asal ada kemauan, Insya Allah semua bisa kita lakukan,” ujarnya bersemangat. (Naniek I. Taufan)

Continue Reading

Tren