Inspirasi

Maudy Ayunda: Kampanyekan Gerakan Kejar Mimpi

maudy saat kongres diaspora indonesia bersama barack obama dan reza rahardian

“Terkadang kita lupa, dunia tak akan selamanya menunggu kita. Menaklukan ragu, beranikan diri. Kan kukejar mimpi. Dan kuterbang tinggi. Tak ada kata tidak, ku pasti bisa. Kan kucoba lagi. Ditemani pagi. Tak ada yang tak mungkin. Ku pasti bisa”. Itulah penggalan lirik lagu ‘Ku Kejar Mimpi’ yang kini tengah populer di masyarakat.

Lirik yang sangat inspiratif ini lahir dari keikutsertaan Maudy dalam gerakan sosial ‘Kejar Mimpi’ yang utamanya ditujukan pada anak-anak muda Indonesia agar mengejar mimpi dan tidak putus asa dalam mengejar mimpinya.

“Lirik dan melodi aku sendiri yang buat. Waktu itu aku habis meeting bersama teman-teman Gerakan Kejar Mimpi. Sepulang dari sana aku terinspirasi   menulis lagu untuk menggambarkan mindset atau energi dari gerakan tersebut. Aku ingin lewat lagu bisa menyemangati anak muda Indonesia untuk terus mengejar mimpi,” ungkap Maudy tentang theme song gerakan sosial ‘Kejar Mimpi’.

“Lewat lagu, ingin mengajak anak muda mengenali mimpi mereka, keinginan mereka dan juga mendorong supaya mengejarnya. Juga mengingatkan  bahwa tidak ada kok yang tidak mungkin. Any have to keep trying again. Jangan takut kalau sempat gagal. Jadi lagunya uplifting banget. There is no suching is impossible,” ungkap gadis yang bernama lengkap Ayunda Faza Maudya.

Tentang Maudy sendiri tentu sebagian masyarakat mengenalnya dengan baik karena dia bukan saja eksis di industri hiburan tanah air tapi di bidang akademik pun prestasinya cemerlang.  Ia berhasil kuliah di universitas paling bergengsi di dunia, Oxford University, Inggris.

Di kampus tertua di Inggris itu, Maudy  mengambil jurusan PPE–Philosophy, Politics and Economics—dan menyelesaikannya hanya dalam tempo tiga tahun. Keputusannya kuliah di Inggris sempat menjadi pembicaraan, pasalnya saat itu karier Maudy di dunia hiburan tengah berkibar, namun dia lebih memilih meneruskan pendidikannya.

Nyatanya pamor Maudy memang tidak hilang. Dia bukan saja berhasil menuntaskan pendidikannya tapi ketika kembali ke tanah air dan masuk industri hiburan lagi, ia tetap bisa meraih popularitasnya kembali. Setidaknya aktingnya di dua filmnya ‘Rudi Habibie’ (2016) dan Trinity, the Nekad Traveler (2017), mendapat respon bagus.

Dan ‘gerakan’ Maudy tidak hanya ‘terpaku’ pada industri hiburan, dia juga masuk ke berbagai bidang di antaranya kegiatan sosial yang terkait dengan pendidikan. Pendidikan memang menjadi konsen Maudy sejak lama. Dia pernah berangan, suatu saat ingin memiliki sekolah atau melakukan sesuatu yang terkait dengan pendidikan.

Cantik juga berprestasi  yang  membuat anak pertama pasangan Didit Jasmedi-Muren Murdjoko, ini, kerap diundang menjadi pembicara di berbagai acara. Salah satunya yang cukup besar adalah saat dia didaulat tampil sebagai pembicara dalam acara Kongres Diaspora Indonesia, dimana Barack Obama pun juga tampil memberi pidatonya.

Dan kini, artis cantik multi talenta ini tengah sibuk mengkampanyekan gerakan sosial  ‘Kejar Mimpi’ yang menyasar ke anak-anak muda. Gerakan ini, kata Maudy, terbilang baru.  Tujuannya  untuk membentuk generasi penerus bangsa memiliki karakter baik dan mampu memberikan nilai-nilai baru yang dapat memajukan Indonesia. Ada banyak kegiatan yang digelar oleh gerakan ini, di antaranya adalah membuat workshop-workshop di berbagai kota.

“Gerakan ini ada aspek awareness-nya tapi juga ada aspek teknisnya. Jadi aku dan tim Kejar Mimpi mengadakan series workshop di beberapa kota. Ini baru dimulai awal tahun. Jadi kita baru menggelar ini di 10 kota dan 40 sekolah,” jelas gadis 22 tahun yang memulai debutnya di dunia hiburan lewat film ‘Untuk Rena’ pada 2005.

Di workshop ini, lanjut Maudy yang telah menelurkan dua album solo ‘Panggil Aku’ (2011) dan ‘Moments’ (2015),  mereka membantu anak-anak muda untuk mengindentifikasi mimpi mereka dan cara-cara kongkrit untuk mencapainya. “Kita juga meminta setiap anak muda yang ikut workshop untuk menulis mimpi mereka,” tutur Maudy yang juga memiliki banyak ‘mimpi‘ dalam hidupnya.

“Aku ingin  berbuat  banyak untuk anak-anak Indonesia, khususnya di dunia pendidikan dan literasi. Aku passionate banget soal itu. Mungkin aku mau bikin sekolah atau something like that,” ucap Maudy yang belum lama ini meluncurkan single terbarunya, ‘Kutunggu Kabarmu’.

 

PEDULI SESAMA SEJAK KECIL

Keterlibatan Maudy dalam gerakan sosial sebenarnya bukan hal yang baru meski boleh dibilang dia lebih dikenal khalayak karena kiprahnya di dunia hiburan baik itu film maupun menyanyi. Berkat didikan orangtuanya, sejak kecil rasa kepedulian sosialnya telah tumbuh. Saat usia 10 tahun, dia telah menulis buku dongeng anak ‘A Forest a Fables’ dimana royalti buku tersebut disumbangkan untuk anak-anak korban tsunami Aceh.

“Waktu itu aku masih kecil, usia 10 tahun. Pas kejadian tsunami Aceh, aku benar-benar tercengang dengan kejadian itu. Lalu we decided collectively membuat buku cerita pendek. Buku itu kita tulis dan publish, royaltinya kita berikan untuk anak-anak korban tsunami Aceh,” jelas Maudy yang mengaku memang memiliki hobi menulis.

Saat SMA pun Maudy   aktif terlibat dalam kegiatan sosial bersama teman-temannya. “Suatu ketika ada project sekolah untuk bertemu dengan seorang pengrajin. Kebetulan pengrajin yang dicari tinggalnya di dekat sekolah, di samping tumpukan sampah yang menggunung. Aku dan tim aku  ngobrol-ngobrol dengan orang itu. Dia bercerita tentang keluarganya juga anak-anaknya yang ternyata putus sekolah karena tidak ada biaya. Akhirnya anak-anaknya bekerja jadi pemulung sampah,” ungkap Maudy yang saat SMA dipercaya menjadi Ketua OSIS.

Dari kejadian tersebut, dia dan timnya terinspirasi untuk mengajar anak-anak pemulung belajar matematika dan bahasa Inggris. “Jadi , memang setelah ngobrol-ngobrol dengan pemulung, aku berpikir kita harus melakukan sesuatu. Lalu kami bicara dengan koordinator bidang sosial. Maka jadilah kita mengumpulkan anak-anak pemulung untuk belajar di sekolah kita—kebetulan sekolah nggak jauh dari tempat mereka. Jadi memang sederhana sih, tapi kami bahagia bisa melakukan ini,” ungkapnya.

Bukan hanya aktivitas sosial untuk memotivasi anak-anak kurang mampu, Maudy juga hadir di panggung-panggung acara yang tujuannya memberi motivasi bagi kalangan muda untuk terus maju dan berkembang.

Salah satunya adalah belum lama ini Maudy bersama Menteri Keuangan Sri Mulyani dan  beberapa tokoh tampil sebagai pembicara  dalam event  ‘Supermentor ke-20’ yang merupakan kerjasama Foreign Policy Community Indonesia dengan Bank Dunia dan Pemerintah Australia. Tema yang diangkat adalah ‘Indonesia Great Prosperity Head: Will It Happen? Will It Be Yours’.

Bagi gadis kelahiran 1994 ini adalah kebanggaan bisa terpilih menjadi pembicara dalam event sebesar itu. Apalagi tokoh-tokoh yang jadi speaker pada saat itu adalah orang-orang yang berpengaruh. Sri Mulyani, misalnya, Menteri Keuangan yang kredibilitasnya diakui dunia, demikian juga Dino Patti Djalal, DR Jim Young Kim, Presiden Bank Dunia. Sedang Maudy Ayunda sebagai Global Shaper, World Economic Forum.

“Aku diminta berbicara dari sisi anak muda, bagaimana interprestasi aku terkait pesan-pesan yang disampaikan Ibu Sri Mulyani (Menkeu). Jadi versi aku terhadap what i see to be so important tentang ekonomi, kesehatan, dll. Aku ngomong secara filsafatnya,” kata gadis kelahiran 19 Desember 1994 ini yang juga menjadi Duta Anti Perbudakan Modern.(Diana Runtu).

To Top