Kolom

PAHLAWAN DI MASA DAMAI (2)

Setelah mengisi perut, Amat kembali mengisi kepalanya. Melanjutkan membaca, ingin tahu siapa yang disebut pahlawan di masa damai:
Sebulan kemudian, di ruang sidang pengadilan. Perusuh duduk di kursi terdakwa. Jaksa penuntut umum, menudingnya dengan sebagai pejahat terbarat di era kemerdekaan:
“Inilah dia otak, tokoh yang telah menjadi pusat gempa cheos, huru-hara, penjarahan, pembakaran, rasialis, pemerkosaan, pembunuhan, pencetus  gara-gara pertumpahan darah sia-sia di antara saudara. Pelaku,  penangungjawab kematian seratus orang anak bangsa. Lima puluh lainnya luka berat. Lima ratus orang stres. Dua puluh akan cacat seumur hidup. Sepertiga kota terbakar dan berdarah. Banyak perempuan diperkosa. Seribu mobil hangus. Dan sebagainya dan sebagainya. Tuntutan kami menyangkut terlalu banyak pasal dengan ancaman hukuman yang tidak mungkin terpikul. Dengan ancaman hukuman yang paling ringan saja: sudah tidak akan tertanggungkan lagi. Eksekusi mati tanpa diperkenankan menerima
amnesti …. .”
Tepuk tangan riuh dan pekik sorak setuju..
Kemudian perusuh itu tampil tanpa pembela. Ia nampak begitu tenang. Sama sekali tak gentar, bahkan nampak seperti orang bijak yang mau memberi wejangan moral. Ia tidak membela diri tetapi berpidato:
“Aku tak sudi suaraku diwakili dan kebebasanku dibatasi karena kebenaranku tak boleh dieliminir. Orang menudingku sebagai pelaku, biang kerok, titik api dari sebuah pergeseran nilai yang alami yang seharusnya berlangsung satu abad dengan pengorbanan darah nyawa kerusakan yang seratus kali dari apa yang tercatat sekarang. Apakah itu kerugian atau kelebihan? Apkah itu tindakan kriminal atau jasa yang layak diberi kehormatan Bintang Maha Putera? Perang yang selesai membuat produksi pahlawan berhenti. Apakah di masa damai tidak perlu. ada pahlawan? Kenapa tidak? Di masa damai pertempuran justru lebih dahsyat karena musuh tak kelihatan. Banyak di antaranya saudara kita sendiri! Orang yang kita cintai. Bahkan tak jarang guru dan pemimpin kita juga! Karena itu kita memerlukan pahlawan. Pahlawan sejati. Bukan pahlawan karena tertembak mati oleh musuh, tapi tertembak mati oleh dirinya sendiri. Karena ia harus berani membunuh mati ambisinya pribadi demi kebahagiaan rakyat!”
“Aku sudah berhasil membunuh perasaanku sendiri hingga mampu mempertunjukkan moral manusia yang semakin  bejat, ganas, lebih kejam dari binatang karena duit dibiarkan berkuasa dan menjadi  segalanya.
Pesanku jelas pemberhalaan duit harus dihentikan. Kalau tidak, inilah jadinya! Bukan 100 orang mati sia-sia tapi seluuruh bangsa! Masa depan kita: akan seribu kali cheos! Aku sudah membelajarkan moralitas baru dengan contoh konkrit, soal konkrit hanya dalam satu hari. Kalau tidah akan diperlukan rentang waktu 5 dekade dengan korban 100 kali. Apakah kiprahku itu tindakan bejat  atau luhur yang perlu dianugerahi Bintang Pahlawan Bangsa?”
Kembali Amat berhenti membaca. Ia ingin menjawab. Tapi kembali istrinya memanggil:
“Pakkk! Jangan lengah, ada kucing mau nyuri makanan di meja, tolong usir!”
Amat tak melihat ada kucing di meja makan. Karena aman, ia segera berbalik mau kembal ke ruang depan, mau melanjutkan membaca.
Tapi tiba-tiba ia mendengar seperti bunyi nafas kucing. Lalu ia lihat kucing. Itu seperti tiduran santai di salah satu kursi makan. Anteng, sama sekali tak terasa seperti mau mencuri. Bahkan nyaris seakan menjaga meja. Amat tersenyum,
“Hewan pun sekarang sudah pandai bersandiwara, apalagi manusia,” kata Amat dalam hati.
Dengan lembut Amat mulai ikut bersandiwara. Ia menegur kucing itu dengan panggilan sayang. Lalu perlahan mendekat, untuk kemudian meraih dan menggedongnya lalu akhirnya membawa keluar rumah sembari menutup pintu.
Setelah itu Amat cepat kembali pada bacaannya. Ia geregetan ingin menjawab. Tapi sebelum itu harus menamatkan dulu membaca agar tidak salah kaprah:
Ternyata di akhir peradilan ada antiklimaks. Perusuh dibebaskan dari segala tuduhan dan bahkan dianugerahi kehormatan Bintang Maha Putra serta Pahlawan Di Masa Damai
Upacara dan sambutan dari salah seorang korban yang cacat seumur hidup pun ditayangkan di berbagai  media sosial.
“Saya mengucapkan berjuta terima kasih atas tanda mata seumur hidup, cacat saya ini,  yang akan saya junjung seumur hidup yang membuat saya memiliki harga diri bahwa kehadiran saya tidak sia-sia walau pun hanya sebagai contoh kebobrokan moral. Karena dengan menyandang cacat ini saya merasa dipercaya mengemban tugas mulia bangsa. Ini adalah peringatan suci bagi genersi muda untuk menyadari uang bukanlah segala-galanya! Karena menunaikan tugas penting ini,  saya mendapat tunjangan 50 ribu sebulan seumur hidup, sehingga walaupun tidak bekerja kantor, saya, istri saya dan tujuh anak saya, bisa mendapat keringanan biaya beli beras. Hidup damai tenang, tanpa harus bekerja sebagai pegawai kantor, seperti orang lain, di sebuah rumah BTN RSS yang bisa dicicil 20 tahun,  tanpa bunga. Sambil merangkap sebagai pengemis yang bersertifikat (menunjukkan sertifikatnya) sehingga ada jaminan tidak akan kena garuk petugas ketertiban kota. Terima kasih sejujur-jujurnya.”
Amat terkejut.  Karena cerita itu berakhir di situ. Ia langsung membanting majalah yang sedang dibacanya. Lalu menginjaknya berkali-kali sambil. ngumpat.
“Gila! Gila! Sudah gila!”
Bu Amat muncul.
“Kenapa, Pak?”
“Sudah gila!”
“Siapa yang gila?”
“Cerita gila!”
“Perusuh yang diangkat jadi pahlawan di masa damai itu!”
“Ya!”
“Itu kan tulisan mantu kita, suaminya Ami, tapi pakai nama samaran!”
Amat terkejut. Ia langsung mengambil kembali majalah yang diinjaknya.
“Gila! Gila! Bagus sekali sindirannya! Tak menyangka sama sekali, begitu tajam!”

To Top