Kuliner

Barista harus Komunikatif

Minum kopi di kedai kopi atau coffee shop sudah menjadi lifestyle. Konsumennya kebanyakan anak muda. Mereka pun bisa sambil mengerjakan tugas atau sekadar ngobrol. Apakah semua paham tentang kopi yang diminum? Atau, hanya sekadar ikut-ikutan trend?

“Kita harus akui minum kopi di coffee shop sudah menjadi trend di kalangan anak muda. Perkembangan zaman memang seperti itu. Implikasinya banyak muncul coffee shop sehingga konsumen punya banyak pilihan. Profesi barista pun ikut naik daun. Di sisi lain, apakah konsumen yang datang itu memang pecinta kopi yang punya passion terhadap kopi atau hanya sekadar minum kopi untuk ikut-ikutan. Atau, malah datang ke coffee shop hanya untuk berfoto agar eksis di media sosial. Ini hal menarik yang dicermati,” ungkap Paulus Nugraha, barista trainer di Bali Barista Center.

Paulus menuturkan tahun 2010 sudah ada teman yang menawarkan dia untuk membuka coffee shop. Temannya itu memprediksi, dalam waktu tujuh tahun coffee shop akan menjadi trend. Ternyata apa yang diprediksi itu tepat. “Di Indonesia specialty coffee shop mulai berkembang 2012, ada Tanamera dan Anomali. Tahun berikutnya mulai muncul coffee shop dalam skala kecil. Kalau di Bali malah sudah lama, ada Bhineka Jaya yang punya segmen pasar tersendiri. Hingga tujuh tahun ke depan, coffee shop masih berkembang,” ujar Coffee Ambasador at The Stones Hotel by Marriot ini.

Ia mengingatkan sesama coffee shop jangan pernah merasa bersaing. Daripada sibuk memikirkan pesaing, lebih baik buat sesuatu yang unik dan berkarakter. Masing-masing coffee shop harus memiliki cirinya sendiri. Idealisme diusung tanpa mengabaikan situasi pasar. Dengan demikian, customer yang datang akan menjadi customer loyal.

Berkembangnya coffee shop tak bisa dilepaskan dari peran barista, sang peracik kopi. Untuk menjadi barista andal tentu memerlukan proses. Di Bali Barista Center, Paulus selalu menanyakan orang yang ingin kursus menjadi barista apa alasan mereka. “Ada yang tidak tahu sama sekali tentang kopi tetapi mau punya sertifikat barista. Ada yang sekadar ikut-ikutan trend karena barista itu keren kayak Chicco Jericho. Ada juga yang kursus karena ingin buka coffee shop. Kami pun harus memilah disesuaikan dengan tujuan mereka kursus barista. Ada yang basic dan ada yang advance,” jelas pria kelahiran Bandung, 14 Agustus 1989 ini.

Paulus yang sudah tujuh tahun menggeluti dunia kopi mengamati ada pergeseran pola customer. “Dulu customer datang untuk minum kopi. Mereka ada yang sibuk dan ingin tahu proses peracikan. Kalau rasanya kopinya kurang pas, mereka protes dan memberi kritikan. Ini bagus untuk bahan evaluasi bagi barista dan coffee shop. Sekarang, customer datang, pesan kopi tanpa banyak tanya. Begitu selesai minum, dia merasa tidak puas, komentarnya di media sosial,” ungkap barista yang belajar pertama kali di Anomali Coffee ini.

Untuk menghindari kekecewaan customer, barista harus proaktif dan komunikatif. Selesai meracik kopi, dekati customer. Ajak mereka ngobrol tentang cita rasa kopi yang disajikan. Kalau ada yang kurang sesuai, barista harus siap untuk mengganti. “Barista harus komunikatif. Jangan hanya diam. Makin banyak komunikasi dengan customer akan menambah khasanah pengetahuan. Bekali diri dengan ilmu customer cervice. Barista juga harus bisa mengedukasi customer tentang kopi dan racikannya,” tegas Paulus.

Founder komunitas Cerita Kopi ini pun berharap pengetahuan masyarakat khususnya pecinta kopi tentang kopi terus meningkat. Hal ini menjadikan pecinta kopi tahu apa yang mereka minum dan bukan sekadar minum. Makin banyak sharing akan menjadikan pemahaman terus bertambah. (Ngurah Budi)

 

Paulus Nugraha

Dulu Buat Orang Mudah Tidur Sekarang Susah Tidur

Paulus menyelesaikan pendidikannya di jurusan Food and Beverage Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung. Setelah tamat, ia melanglang buana ke Malaysia dan Bintan sebagai bartender. Penghasilannya cukup lumayan.

Ketika rasa jenuh muncul, Paulus mencari tantangan baru yang tak jauh dari food and beverage. Pilihannya barista. Ia pun belajar di Anomali, Jakarta. Dari Jakarta, pria yang gemar modifikasi motor ini pindah ke Bali tahun 2010. “Dulu jadi bartender yang meracik minuman agar orang mudah tidur. Sekarang jadi barista yang meracik minuman agar orang susah tidur,” ungkapnya sembari tersenyum.

Paulus pernah menjadi barista dan supervisor di The Landai Coffee, Black Canyon Bandara Ngurah Rai dan Discovery Mall, hingga menjadi Coffee Ambasador at The Stones Hotel by Marriot, konsultan di 25 PM Coffee Shop, Marcato Coffee Shop, Booster Coffee Shop. Kini Paulus mendedikasikan pengalamannya untuk menjadi barista trainer di Bali Barista Center yang satu gedung dengan Lazumba Coffee.

Kepiawiannya dalam dunia kopi dibuktikan dengan sertifikat Technical Judge in Indonesia Barista Championship 2017 and Indonesia Latte Art Championship 2017, sertifikat Sensory Judge in Indonesia Brewers Championship 2017.
“Hal yang paling berkesan menjadi barista adalah menemukan beribu karakter customer dari orang yang tidak kenal kopi sampai yang paham tentang kopi. Sedangkan yang berkesan sebagai juri adalah menemukan individu yang ikut lomba tanpa sokongan produsen kopi besar, menggunakan kopi Indonesia, dan bisa menang. Saya salut dengan individu seperti ini,” ujar founder Cerita Kopi ini. Cerita Kopi merupakan kumpulan barista, pencinta kopi, penikmat kopi yang saling bertukar cerita melalui workshop gratis di tempat yang berpindah-pindah. (Ngurah Budi)

To Top