Bunda & Ananda

Konsentrasi Terganggu Jadi Mudah Lupa

Suwandewi bersama putra dan suaminya

Nyoman Suwandewi (39) memiliki seorang putra yang kini masih duduk di bangku kelas 5 SD. Notaris cantik ini kerap mengamati sikap putra semata wayangnya itu. “Saya lihat Bagus itu lupa jika dia kurang konsentrasi dan dia juga punya sifat agak cuek,” ucapnya.  Selain itu, Bagus juga bukan tipe pemikir. “Dia happy saja walaupun dia lupa. Pokoknya cuek saja berjalan apa adanya padahal dia sering lupa,” imbuh Suwandewi tersenyum.

Istri dari dokter bedah ini menyontohkan, ada saja barang-barang yang harus dibawa ke sekolah, dilupakan Bagus. Atau, barang-barang yang sedang dia bawa sering ketinggalan. “Untung di sekolahnya ketat. Jadi, ketika lupa bawa sesuatu langsung mendapat hukuman berupa yellowslip yang harus ditandatangani orangtua. Selama ini saya lihat efektif sih, jadi dia malu pada orangtua dan teman-temannya kalau mendapatkan yellowslip. Dan, sedikit tidaknya itu membuat dia tidak terlalu cuek lagi sih..hehehe,” tuturnya.

Karena itu, sebagai ibu yang sudah memahami karakter anaknya, tiap Bagus pulang sekolah langsung diingatkan untuk mempersiapkan apa saja yang harus dibawa ke sekolah untuk keesokan harinya, dan langsung dimasukkan ke dalam tas saat itu juga. Termasuk membuat PR. Jika belum beres, Bagus tidak diperbolehkan bermain.

Untuk melatih konsentrasinya, Suwandewi menyempatkan Bagus untuk berolahraga setiap hari agar tambah fresh dan melepas stres. Karena ia sendiri menyadari, putranya yang menjelang ABG itu kadang-kadang juga emosinya suka meledak. “Jadi, kalau diajak olahraga kan dia ada penyaluran hormon,” ucapnya.

 

JADIKAN KEBIASAAN
Menurut Lyly Puspa Palupi Sutaryo., M. Si., Psikolog, lupa bisa dipengaruhi oleh tingkat atensi (perhatian) dan konsentrasi seorang anak pada hal-hal yang kurang diingatnya, hal-hal yang dianggap kurang menarik, tidak eye catching, dan kurang berkesan, sehingga bisa jadi tidak direkam/disimpan di dalam memori/ingatan anak.

Misalnya, buku yang isinya dilengkapi gambar-gambar menarik, apalagi berwarna-warni, akan lebih menarik atensi anak untuk membaca dan mengingatnya, dibandingkan buku yang isinya full tulisan, plus tanpa warna.
Lyly-demikian sapaan akrab Psikolog yang bertugas di Sub Bagian Psikologi Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP Sanglah Denpasar ini menjelaskan, konsentrasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk mempertahankan perhatiannya pada suatu hal dalam jangka waktu tertentu. “Anak yang mudah lupa, biasanya punya masalah konsentrasi mempertahankan perhatiannya dalam waktu tertentu dan mudah teralihkan dengan hal lain,” ucapnya.
Lupa juga bisa dikaitkan dengan kebiasaan. Misalnya, baru sekali ke suatu tempat, wajar bila belum familiar/lupa jalan atau daerah tersebut. Lupa nama seseorang karena memang jarang sekali berinteraksi dengan orang tersebut.
Mengatasi lupa dalam aktivitas sehari-hari bisa dilakukan dengan menjadikan suatu aktivitas itu sebagai kebiasaan. Lyly memberikan contoh, menaruh kunci mobil di tempat tertentu yang mudah dilihat, dijangkau, diingat, dan konsisten dilakukan. Demikian halnya ketika menyimpan barang-barang lainnya.
Dalam hal mengingat orang/nama, bisa dengan memberikan clue (tanda) yang khas pada nama atau orang tersebut. Misalnya X pakai baju merah, Y rambut keriting, dll. Ini berlaku juga misalkan untuk mengingat rumah seseorang. Bisa diingat ciri khas rumah tersebut, seperti warna pagar, cat rumah, ada pohon apa, atau di depan warung apa, dll.
Sebagai manusia biasa, dirinya pun mengaku tak luput dari lupa. “Biasanya saya lupa pada sesuatu yang di luar rutinitas. Misalnya janjian sama orang untuk kali pertama, atau tempat tertentu yang jarang saya kunjungi. Untuk itu, kiat saya biasanya membuat catatan di buku notes atau di HP, dicatat waktu dan tanggal pertemuan serta tempatnya. Dan, di HP di-setting alarm untuk mengingatkan. Kalau tempat, saya biasanya mengingat patokan-patokan arah menuju tempat dan ciri khas dari tempat tersebut,” kisahnya.
Pada anak yang mengalami gangguan konsentrasi, penanganannya dilakukan dengan terapi. “Ada metode brain gym (senam otak) yang bisa melatih anak lebih konsentrasi,” ujarnya.
Sementara untuk hal sederhana yang bisa dilakukan orangtua di rumah adalah terapi perilaku. Yakni mengajarkan anak untuk memiliki kebiasaan atau membentuk perilaku yang bisa menunjangnya agar konsentrasi. Misalnya, membiasakan diri menuliskan catatan tentang jadwal harian, mengingat hal-hal yang spesifik/detail menarik pada hal-hal yang perlu diingat. Membiasakan diri menaruh benda di tempat yang sama agar mudah ditemukan, dll. (Inten Indrawati)

To Top