Buleleng

Ketut Rajin: Padukan Songket dan Endek

Ketut Rajin menunjukkan desain terbaru perpaduan songket dengan endek

Bali merupakan salah satu daerah di Indonesia yang terkenal dengan tenunnya. Tenun meruapakan salah satu sarana seni yang patut dilestarikan. Kain ini kerap kali digunakan sebagai sarana upacara adat Bali. Dilihat dari cara pembuatannya, karya seni ini dibuat dengan menenun kain dari helaian benang pakan dan benang lungsin yang sebelumnya diikat dan dicelupkan ke dalam zat pewarna alami.

Seiring perkembangan dunia fashion, kain tenun kian mendapat tempat di hati masyarakat. tidak hanya digunakan sebagai busana adat ke Pura, saat ini kain tenun mulai digunakan sebagai seragam dan pakaian mengikuti mode yang sedang berkembang. Semakin tingginya minat peminat kain tenun terutama jenis Endek, membuat penggagas sekaligus pemilik dari Pertenunan Artha Dharma, Ketut Rajin kian berinovasi. Selain tetap mempertahankan kualitas, rupanya mengikuti selera pasar dan membuat inovasi-inovasi dalam berkarya adalah kunci kesuksesan pertenunan terbesar di Buleleng ini.

Menurut Ketut Rajin, tingginya minat masyarakat dengan kain endek semakin membuat dirinya menelurkan ide-ide ke dalam bentuk desain-desain. Ditambahkan Rajin, desain yang berhasil ia buat merupakan inspirasi yang ia dapatkan dengan ikon-ikon yang ada di Buleleng. Desain terbaru miliknya, seperti desain anggur dan bunga tunjung. Anggur merupakan ikon buah lokal yang dimiliki oleh Buleleng tepatnya berada di Kecamatan Banjar sedangkan tunjung merupakan bunga ikon Buleleng. “Kami selalu melakukan inovasi agar selalu diterima oleh konsumen, konsumen juga akan tahu kualitas kami yang tidak sama dengan barang yang beredar dipasaran. Sebab barang yang kami produksi tidak sampai ke pasaran kami produksi dengan jumlah terbatas dan langsung habis di sini,” ungkapnya.

Selain berinovasi dari segi motif, pihaknya juga berinovasi dengan memadukan dua kain yang berbeda yaitu endek dan songket. Perpaduan produk ini menghasilkan kombinasi kain songket yang mewah dan endek yang merupakan kain tradisional menghasilkan inovasi yang sangat indah. Rajin mengklaim bahwa perpaduan songket dan endek merupakan yang pertama dilakukan di Buleleng. Bahkan setelah di cetak kain dengan perpaduan songket dan endek ini sangat menarik perhatian pembeli. “Ketika dicetak memang sangat diminati hanya saja karena songket dibuat dengan waktu yang lama maka harganya pun lumayan mahal,” ungkapnya.

Sebagai pelaku usaha, Rajin tidak memungkiri jika perkembangan tekhnologi juga sangat  berdampak terhadap perkembangan usahanya. Ketika dirinya sibuk membuat desain baru untuk mengikuti perkembangan mode, akan tetapi setelah banyak diminati banyak beredar motif-motif sama dengan sistem digital printing atau dicetak dalam jumlah besar. “Kita belum sempat produksi dengan jumlah banyak tapi sudah beredar barang tembakan. Keadaan ini memang tidak bisa kami tekan dan kendalikan tetapi untuk mengantisipasi ini seharusnya dapat dibuatkan hak paten,”ungkapnya.

Hanya saja dalam pembuatan hak paten dibutuhkan waktu yang lama dan tidak mudah sehingga ketika dibuatkan hak paten maka minat masyarakat terhadap sebuah desain sudah ketinggalan. “Ya kalau bisa hari ini buat desain terus besok hak paten sudah jadi, tidak akan ada barang tiruan, tetapi kalau harus menunggu hak paten yang cukup lama maka minat masyarakat terhadap desain itu sudah hilang,” tandasnya. (Wiwin Meliana)

To Top