Buleleng

Putu Tastra Wijaya: Adopsi Sistem Museum di Eropa

Tastra Wijaya saat mengunjungi Tropen Museum

Nampaknya museum menjadi tempat yang selalu menarik dikunjungi oleh Drs. Putu Tastra Wijaya, MM. Betapa tidak, dalam perjalanannya ke Eropa dalam rangka mengikuti program promosi bersama World Travel Market 2017 yang diselenggarakan 6 hingga 7 November 2017 dirinya tertarik mengunjungi museum-museum yang berada di London, Paris, Brussel dan Amsterdam.

Menurut Tastra ada banyak hal menarik yang dapat dipelajari dari museum-museum yang di ada di Eropa. The British Museum misalnya, yang merupakan museum pertama di dunia. Museum ini didedikasikan untuk kepentingan umat manusia, sejarah, seni dan kebudayaan. Untuk dapat menikmati keoleksinya secara lengkap minimal memerlukan waktu 2,5 jam. “Kelebihan museum ini  disamping menyajikan ribuan artefak di halaman luar juga disiapkan gift shop dan coffee shop,” ungkapnya.

Selain itu, Tastra yang menjabat sebagai Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng juga mengunjungi De Hallen Haarlem. Dalam ruang pameran akan ditampilkan seni modern dan kontemporer yang penekanannya pada presentasi foto dan video kontemporer dengan fokus pada manusia  dan masyarakat. Ruskin Museum juga menjadi tempat yang tak luput dari kunjungan Tastra. Museum lokal ini berada di Conisto, Inggris Utara. Koleksi pada museum ini mencakup materi tambang tembaga dan batu tulis, pertanian dan koleksi yang lebih besar dikhususkan untuk kehidupan dan karya dari John Ruskin.

Sementara itu, museum terakhir yang ia kunjungi selama perjalan di Eropa adalah Tropen Museum yang merupakan museum terbesar di Amsterdam dengan kapasitas delapan eksibisi permanen dan beberapa seri eksibisi temporer termasuk fotografi modern dan tradisional. Koleksi yang dimiliki antara lain 5.500 alat musik serta berbagai benda teater lainnya seperti topeng dan boneka (wayang) museum ini juga memiliki 21.000 artefak tekstil yang mayoritas berasal dari Indonesia. “Uniknya dari banyaknya koleksi di museum ini beberapa di antaranya seperti keris, gelungan, kalung  yang berasal dari Indonesia,” jelasnya. Pihaknya berencana akan melakukan tukar menukar koleksi untuk mendapatkan kembali peninggalan-peninggalan sejarah yang berada di museum luar negeri. “Kita sudah lakukan tukar menukar kontak suatu saat kita akan adakan tukar menukar koleksi terutama dengan Royal Tropical Institute,” paparnya.

Sementara itu dari pengalamannya mengunjungi beberapa museum di Eropa, Tasra mengatakan ada perbedaan sistem pengelolaan dari museum yang ada di Buleleng. Megahnya bangunan dan fasilitas yang disediakan di museum Eropa tidak menuntut pengunjung untuk membayar apapun. “Di sana sistemnya free of charge, masyarakat dipersilakan untuk belajar mengenai peninggalan-peninggalan antropologi secara gratis,” paparnya. Bahkan di luar museum terdapat swalayan untuk menjual swalayan dan coffe shop untuk para pengunjung beristirahat. “Ini jauh sekali dari yang saya bayangkan sebelumnya bahwa museum itu sebagai tempat penyimpanan benda-benda kuno tetapi di sana sangat modern sekali bahkan sangat atraktif dengan menampilkan pertunjukkan kontemporer,” jelasnya.

Tastra menambahkan dari pengalaman tersebut dirinya berencana akan menerapkan sistem manageman yang sangat professional dalam pengelolan museum di Eropa tersebut. Sistem free of charge akan diterapkan juga di museum di Buleleng. “Kita kan sedang dalam proses perencanaan pembangunan museum Sunda Kecil nah kita akan coba terapkan sistem itu di sana,” jelasnya. Ia menambahkan museum seharusnya tidak saja digunakan sebagai tempat belajar melainkan juga tempat yang nyaman dan hiburan. (Wiwin Meliana)

 

To Top