Bunda & Ananda

Tegas dan Suka Bercanda, Guru Idola Siswa

Menjadi seorang guru tentu banyak tantangannya karena berhadapan dengan beragam karakter anak. Anak didik pun rupanya memiliki penilaian tersendiri terhadap durunya. Ketika Tokoh menanyakan seperti apa kriteria guru idola  mereka, seorang siswa berpretasi, Utami, menyebut guru idolanya adalah guru yang tegas dan juga bisa diajak bercanda.

“Misalkan pelajaran PKN. Awalnya guru menjelaskan, kemudian melakukan tanya jawab, diselipin bercanda, sehingga kita bisa refresh dan tidak terlalu tegang. Guru kan tak sepenuhnya tegas atau tegang, jadi masuk pelajarannya. Karena setelah pelajaran di-review kepada murid-muridnya, kemudian diberikan soal. Besoknya dibahas lagi,” ujar Utami menuturkan pola mengajar  guru idolanya tersebut yang mengarah kepada guru PKN-nya Miss Dami.

Selain tegas, bisa diajak serius juga bercanda, ia mengatakan ingin agar guru juga multitalen (serba bisa), bisa diajak berdiskusi apa saja termasuk masalah pribadi, walaupun dirinya mengaku belum pernah. Baginya, guru adalah orangtua kedua di sekolah. “Perlakuan guru jangan terlalu galak jangan terlalu halus, samakan seperti mendidik anaknya di rumah. Kalau salah dimarahi, dinasihati, dan saat berhasil (berprestasi) diberikan apresiasi,” ucapnya.

Utami bercita-cita ingin menjadi dosen biar bisa mencerdaskan anak bangsa. Untuk mencapai mimpinya itu, Utami mengatakan dirinya terus rajin belajar dan  juga berprestasi dengan mengembangkan potensinya di non akademik, sehingga bisa membanggakan orangtua, sekolah dan orang-orang terdekat. Apa yang disampaikannya itu memang sudah diterapkannya. Sejak kelas 1 hingga kelas 5 SD peredikat Juara Umum di sekolahnya tak pernah lepas dari tangannya. Tak itu saja, siswi kelas VI A SD Pelangi Dharma Nusantara ini juga jago dalam mesatua Bali dan baca puisi hingga tingkat provinsi.

Hal senada disampaikan Ayu Inten, teman sekolah Utami tapi lain kelas ini dalam menyebut kriteria guru idolanya. “Saya senang kalau diajar Miss Dami, jadi ngerti. Biar pun belajarnya serius tapi saya tidak merasa tegang. Kadang-kadang juga diselipin dengan bercanda,” ujarnya.

Miss Dami mengakui dirinya memang dikenal sebagai guru yang galak. “Bagi anak-anak yang nakal saya dibilang galak. Tapi menurut anak-anak yang lain seperti Utami dan Ayu Inten, saya dibilang tegas…hahaha,” ucapnya sembari tertawa. Tapi bagaimana pun penilaian mereka, Miss Dami hanya menegaskan bahwa tugasnya sebagai guru tak hanya mengajar tapi juga mendidik.

Ia memahami karakter anak berbeda-beda. Ada anak yang membawa sifat 3 D (datang, duduk, diam). Bahkan ada beberapa orangtua murid yang sampai menginterfensi dan memarahi dirinya ketika Miss Dami mengajar hingga lewat jam. Saat itu ia mencoba memberikan pemahaman. “Kalau anak-anak belum mengerti, masak saya harus selesai mengajar karena jamnya sudah habis? Seharusnya saya yang keberatan karena sudah mengobankan waktu. Tapi saya tidak mau begitu, ngerti atau tidak ngerti anak, pulang. Tapi mau anak lulus,” tegasnya.

Miss Dami pun dikenal siswa paling disiplin dan paling rajin memberikan PR. Jika tidak mengumpulkan dalam waktu yang ditentukan, tugasnya ditambah dua kali lipat. Memberikan anak PR ini dikatakan Miss Dami untuk membiasakan anak belajar. PR tersebut akan benar-benar diperiksa dan ditanyakan kembali kepada anak, apakah memang benar ia yang mengerjakannya. “Anak-anak tidak cukup hanya mendengarkan penyampaian dari guru, anak juga harus menuliskan dan membacanya kembali,” ujarnya.

Sistemnya mengajar, setelah selesai memberikan materi, ia meminta anak untuk menghapalkan dan mampu menyampaikannya kembali. Demikian juga pada pertemuan berikutnya, pelajaran yang sudah diberikan sebelumnya selalu di-review (diulang kembali). Setelah anak paham baru melanjutkan ke materi berikutnya. (Inten Indrawati)

To Top