Sudut Pandang

Memimpin dengan Hati

Prof. Dr. Made Yudana, M.Pd.

Cerdas, atraktif, dan penuh semangat adalah  hal yang menggambarkan sosok Prof. Dr.  Made Yudana, M.Pd., owner dari Pusat Pendidikan dan Pelatihan Pariwisata (PPLP) Pansophia Singaraja. Selalu ada kisah inspiratif dibalik kesuksesan setiap orang. Yudana kecil terlahir di tengah keluarga dengan kemampuan finasial yang jauh dari kata baik. Ia merupakan salah satu siswa cerdas dengan nilai aljabar 10. Dalam benak Yudana kecil, dirinya akan menjadi orang besar dengan cita-cita yang ia gantungkan setinggi langit. Akan tetapi Yudana tahu diri bahwa cita-cita tersebut terhalang oleh keadaan finansial keluarga.

Pria kelahiran 19 Agustus 1960 tersebut akhirnya menamatkan kuliah di Fakultas Keguruan  Universitas Udayana, di Singaraja. Pada semester awal, Yudana sudah menunjukkan kemampuan dan bakat  dalam menghimpun dan mengagitasi sejawatnya para mahasiswa sehingga dirinya dipercaya menjadi Ketua Senat tahun 1980. Selain pernah menjabat sebagai ketua senat, Yudana juga sempat menjabat sebagai Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa sampai ia menamatkan perkuliahan. Bersamaan dengan itu, Yudana mendapatkan jenjang karier kemahasiswaan dengan terpilih sebagai mahasiswa teladan Fakultas Keguruan Unud untuk berlaga pada level universitas di Denpasar. “Saya dituntun untuk memenangkan kontestasi ini oleh Tuhan dan mewakili Unud sebagai mahasiswa teladan nasional ke Jakarta,” ceritanya.

Rupanya menyandang predikat sebagai mahasiswa teladan nasional, tidak serta merta memudahkan Yudana untuk mendapatkan pekerjaan. Sempat kesusahan melamar pekerjaan, akhirnya Yudana banting stir untuk mendirikan sekolah. “Mahasiswa teladan nasional saja susahnya minta ampun mencari kerja pada waktu itu, apalagi mahasiswa biasa. Daripada menengadah ke sana ke mari saya akhirnya dirikan sekolah,” tuturnya. Dengan tekad dan kerja kerasnya, berdirilah SMA Ngurah Rai Singaraja tahun 1984. Di tahun pertama SMA Ngurah Rai hanya memperoleh siswa satu kelas. Dengan ketajaman entrepreneurship yang dimiliki, SMA Ngurah Rai didesain sedemikian rupa sehingga di tahun kedua ia  memiliki 10 kelas siswa. “Di tahun kedua ada sembilan kelas I dan satu kelas II,” imbuhnya.

Yudana memutuskan untuk meninggalkan sekolah dengan alasan kenyamanan. Ia memilih untuk melanjutkan studi S2 di Malang. “Tahun 1989 saya tinggalkan sekolah itu,” ungkapnya. Bersamaan dengan itu, Yudana juga mendirikan PPLP Pansophia Singaraja. Nasib lembaga ini juga sama dengan sekolahnya dulu, hanya medapatkan 1 kelas siswa di tahun pertama. Di tahun kedua hingga kelima, juga tidak ada perubahan karena Pansophia tidak mendapatkan mahasiswa yang memenuhi syarat. Akan tetapi di tahun ke enam, Pansophia mulai menunjukkan taring di Kabupaten Buleleng dan mencapai puncak pada tahun 1994 dengan jumlah mahasiswa 12 kelas setiap angkatan. “Kita sempat bertengger di posisi atas sampai gedung yang sekarang ini berdiri. Dulu kami menyewa rumah orang untuk dijadikan tempat pelatihan,” jelasnya.

Keberadaan Pansophia semakin mendapat tempat di hati masyarakat pada saat itu. Tahun 2000, Yudana memutuskan melanjutkan S3 di Bandung  dengan tetap melakukan pengawasan terhadap lembaga dengan menggunakan kontrol melalui ponsel. Keadaan berubah ketika tahun 2002 terjadi Bom Bali  I dan II, kelas yang jumlahnya mencapai 12 kelas pada tahun berikutnya kian turun menjadi 6 hingga 4 kelas setiap angkatan. Sekembalinya dari program Doktor tahun 2003, Yudana kembali mereformasi dan merevitalisasi Pansophia dengan berbagai teknik dan strategi manajemen modern untuk mengembalikan citra Pansophia. “Astungkara saat ini Pansophia sudah bisa mencapai posisi sebelas kelas, dan bahkan  tercatat sebagai yang selalu memenangkan Hibah Kemdikbud sejak Tahun 2006 dan bahkan Th 2017 tercatat sebagai salah satu dari enam kampus di seluruh Indonesia yang memenangkan hibah Program Kecakapan Kerja Unggulan dari Kemdikbud,” ungkapnya. Untuk dapat memimpin suatu lembaga dengan baik dirinya mengaku menggunakan konsep memimpin dengan hati.

Pria yang juga sebagai dosen  pada Prodi Managemen Pendidikan di Pascasarjana Undiksha ini juga aktif sebagai pembicara dalam berbagai kegiatan akademik. Memiliki pengalaman sebagai tenaga pendidik selama puluhan tahun menurut Yudana tidak ada perbedaan secara substansial antara guru zaman dulu dan sekarang. Semua memiliki target meningkatkan kapasitas anak bangsa. Hanya saja menurutnya perbedaan terlihat dari segi instrumentatif. “Guru di masa lalu lebih sederhana penggunaan tekhnologi belum terlalu, tetapi guru masa kini tanpa teknologi tidak akan bisa kerja bagus. Artinya guru-guru sekarang harus melek teknologi,” paparnya.

Perbedaan guru zaman dulu dan sekarang juga sangat terlihat dari segi perhatian pemerintah. Menurut Yudana perhatian pemerintah terhadap profesi guru zaman dulu hanya sebatas psiko-sosial saja. “Dengan Hymne Guru yang mengharukan kita para guru sudah dibuat bangga dengan profesi ini” papar suami dari Dra. Made Darmika ini. Berbeda dengan saat ini, sudah lahir Undang-Undang mengenai Sistem Pendidikan Nasional yang mengatur tunjangan sertifikasi guru. Dengan dibayarnya tunjangan sertifikasi guru diharapkan menjadi motivasi bagi guru dalam meningkatkan kualitas diri mereka. “Uang, gaji, dan tunjangan profesi  menurut Yudana memang bukan motivation factor, itu hanya hygiene factor. Namun demikian saya berpesan kepada sejawat saya para guru,  semoga dengan gaji dan tunjangan sertifikasi kita para abdi bangsa yang bernama guru ini semakin bermotivasi untuk meningkatkan kapasitas diri karena “I’ve never seen good school with out good teacher” Caranya?  Ya tentu dengan anteng meng-upgrade diri baik melalui studi lanjut, ikut seminar, partisipasi dalam workshop dan tidak kalah penting meningkatkan learning habit,” tegas dosen FHIS Undiksha ini. (Wiwin Meliana)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top