Kolom

MENYELAMATKAN BAHASA INDONESIA

“Saya sudah datang ke Bu Ami. Dan saya dianjurkan menemui Bapak,” kata wartawati dari Jakarta itu.
“Jadi, maksud Adik?”
“Mengingat Bapak seorang senior, kami memerlukan pendapat Bapak, sebagai narasumber untuk  Menyelamatkan Bahasa Indonesia.”
“O, ya? Kenapa?.”
“Posisi bahasa Indonesia sudah terpinggirkan. Bahasa Indonesia tidak menjadi bahasa kebanggaan. Generasi sekarang lebih suka menggunakan bahasa campur aduk. Pejabat dianggap memberikan contoh penggunaan bahasa asing melalui pidato-pidatonya meski ada padanannya dalam bahasa Indonesia. Untuk go international, generasi sekarang dituntut untuk menguasai bahasa asing seperti Inggris, Mandarin, Jerman, Prancis, dll. sampai mengenyampingkan bahasa Indonesia. Fakta bahwa bahasa Indonesia terkesampingkan antara lain masih banyak kosakata bahasa Indonesia yang tak dikenal oleh awam. Nilai ujian mata pelajaran Bahasa Indonesia di tingkat pendidikan menengah atas, jeblok. Rata-rata nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia lebih rendah ketimbang Bahasa Inggris. Jarang ada nilai sempurna untuk Bahasa Indonesia. Tidak ada yang membuka les Bahasa Indonesia seolah semua bisa namun kenyataan menunjukkan kebalikannya.”
“O, sampai begitu?”
“Ya! Kenyataan tadi disebabkan karena sikap menyepelekan Bahasa Indonesia sehingga minat belajar pun rendah. Siswa merasa tidak perlu mempelajari Bahasa Indonesia dan lebih tertarik belajar bahasa asing atau pelajaran lain yang dirasa lebih penting dan sulit. Mempelajari bahasa Inggris lebih membanggakan, atau bermanfaat sebagai syarat masuk kerja atau ke luar negeri. Begitu, Pak!”
“Ya, ya.”
“Sikap menyepelekan pelajaran diperparah dengan teknik belajar-mengajar Bahasa Indonesia yang kurang menyenangkan atau kurang menarik minat siswa. Sedangkan budaya baca buku menurun drastis dengan perkembangan gawat. Mengenai permasalahan tersebut, inilah beberapa petanyaan yang memerlukan jawaban dari Bapak.”
Wartawati itu mengulurkan selembar kertas. Lalu langsung membacanya.
“1. Siapa yang harus memikirkan atau bertanggung jawab terhadap perkembangan dan eksistensi Bahasa Indonesia? 2.Apakah bahasa Indonesia (yang baik dan benar) perlu dipertahankan? 3. Apakah fungsi Bahasa Indonesia  sebagai pemersatu masih dirasakan oleh generasi sekarang?
4. Bagaimana Bapak melihat penguasaan bahasa Indonesia oleh generasi melenial saat ini?
Di Indonesia sendiri terdapat generasi 45 sekarang berumur sekitar 70 tahun ke atas. Ada generasi baby boom yang lahir antara 1946-1964. atau generasi GEN X, lahir 1960-1976,  yang masih mengandalkan buku dan koran sebagai informasi. Budaya baca pun masih terpelihara. Lalu generasi GEN Y atau milenial lahir antara 1977-1997. Dan Generation Z , yang lahir antara 1998 – 2010.  Mereka mengalami perubahan drastis teknologi dari televisi, komputer, video games, internet lambat menjadi cepat dan makin murah. Populasi ini kurang menyukai membaca buku ataupun koran. Tulisan dinilai memusingkan dan membosankan sehingga lebih menyukai gambar. Mereka tidak percaya lagi kepada distribusi informasi yang bersifat satu arah, melainkan lebih percaya kepada User Generated Content (UGC) atau konten dan informasi yang dibuat oleh perorangan. Mereka tidak terlalu percaya pada perusahaan besar dan iklan, mereka lebih mementingkan pengalaman pribadi ketimbang iklan atau review konvensional. 5. Bagaimana mengatasi degradasi kecintaan dan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar? 6. Apa solusi konkret yang Bapak sarankan?”
Amat tertegun. Ia merasa sesak ditimbun pertanyaan wartawati ibukota itu.
“Bagaimana, Pak? Gawat kan?!”
Amat senyum menyembunyikan kebingungannya. Wartawati itu juga senyum.
“Gawat kan keadaan bahasa kita?”
“Ya, gawat sekali”
“Kalau menurut pembagian generasi tadi, maaf, kalau saya boleh bertanya, Bapak termasuk di mana? Generasi 45 atau baby boom?”
“Kalau adik sendiri?”
“Saya masuk ke generasi GEN Y atau milenial lahir antara 1977-1997.”
Amat terkejut.
“Kenapa, Pak?”
“Jadi adik ini termasuk masih generasi muda?”
“Ya, begitulah, Pak.”
“Tapi, tuturannya dalam Bahasa Indonesia kok begitu bagus. Jelas dan jernih sekali. Pilihan katanya tepat.”
Wartawati itu senyum tersanjung.
Ah masak? Saya merasa biasa-biasa saja, Pak”
“Yakin! Saya bekas guru bahasa jadi tahu. Kalau menyimak tuturan adik, mungkin pertanyaan adik di kertas ini salah.”
Wartawati itu bingung lalu memeriksa pertanyaannya.
“Salahnya, di mana, Pak?”
“Bahasa Indonesia Adik canggih sekali! Sama sekali jauh dari keadaan tak mampu menguasai Bahasa Indonesia!”
Ah, masak?”
“Mendengar Adik bicara, terus-terang Bapak terpesona. Bahasa Indonesia sekarang kok begitu tangkas dan indah!”
Wartawati itu terkejut.
“O, ya, Pak?”
“Gagasan menyelamatkan Bahasa Indonesia ini, hanya bagian dari seremoni memperingati 89 tahun Soempah Pemoeda atau keprihatinan yang, maaf, dibuat-buat? Kenapa hanya menjelang HUT ke-89 Soempah Pemoeda diprihatinkan?”

To Top