Inspirasi

When Legend Meet Fashion

Keberadaannya berawal dari sosok sederhana bernama I Wayan Budarmaja (alm), yang memiliki keinginan meningkatkan taraf hidupnya. Lelaki yang berasal dari Apuan, Baturiti, Tabanan ini kemudian memberanikan diri merantau untuk menambah pengalaman hidup. Ia pun memulai langkahnya dengan bekerja di areal Sanur, di bagian dapur sebagai seorang cook helper.
Pengalaman kerja di bidang hospitality yang dilakoninya selama belasan tahun membuat pria kelahiran 20 Juli 1955 ini menjadi yakin untuk membuka sebuah usaha kecil. Ia pun mendirikan warung dengan menu utama hasil laut yang mudah didapat. Warung pertama itu juga berlokasi di pesisir pantai Nusa Dua.
“Bapak itu simple sekali, saat membuka warung pertamanya dia melihat local
content yang ada di sekitarnya. Selanjutnya bapak berpikir bagaimana cara meningkatkan level penyajian agar dapat diterima para wisatawan,” ucap Ayu Maha, putri pertama dari pendiri Restoran Ulam tersebut.
Peranan sang istri, Ni Ketut Kemarhainis yang juga sering disebut dengan Ibu Ulam tersebut, ternyata tidak kalah penting dalam pembangunan Ulam Grup.
“Apalagi sejak awal karakter mereka saling melengkapi satu sama lainnya,” imbuh Komang Adi Darmaja yang berhasil menyelesaikan pendidikan di bidang culinary di Australia dan Singapura ini, seraya menyampaikan perihal keterlibatan sang ibu di usaha keluarga yang sedang dalam masa perpindahan ke generasi kedua tersebut.
“Ilmu dapat dibagi, namun tidak dapat dicuri” kutipan tersebut menjadikan Mr. Wayan Ulam (alm) dan Ibu Ulam fokus terhadap investasi pendidikan kepada seluruh generasi kedua Restoran Ulam, bahkan hingga ke beberapa negara di luar Indonesia. Hal ini juga yang memicu dan memotivasi munculnya semangat anak-anaknya untuk meneruskan usaha yang telah dirintis dengan baik oleh sang ayah.
Maka, sekembalinya para putra-putri Ulam ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikan Pendiri dari Restoran Ulam tersebut menunjuk seorang konsultan standar international di bidang hotelier agar seluruh ilmu yang di dapat generasi kedua selama di negeri seberang dapat diaplimentasikan dalam usaha keluarga mereka dan sekaligus dapat berkembang sesuai dengan minat masing masing.

RATUSAN IKAN KELUAR DARI FOTO
Hingga kini Restoran Ulam yang merupakan Seafood Icon di kawasan Nusa Dua ini terus mengalami penyesuaian. Semua itu berlangsung sesuai dengan perkembangan zaman tanpa meninggalkan spirit awal yang telah dibangun (alm) Budarmaja yang meninggal tahun 2014.
Putra ketiganya yang juga merupakan desainer perhiasan, yakni Tri Darmaja mendesain artwork khusus untuk menghormati orangtuanya. Semangat mantan Ketua Umum HIPMI serta senator JCI tersebut memajang art work tersebut di areal utama. “Saya mendesain sedemikian rupa agar menampakkan ratusan ekor ikan hasil pahatan tangan yang bermunculan dari foto almarhum sebagai sosok Icon Seafood Restaurant di Indonesia, ” tegas anak muda yang biasa di sapa Mang Tri ini. Ia juga mengusung konsep when legend meet fashion menjaga eksistensi restoran ini.
Restoran yang berdiri sejak tahun 1986 itu juga memberi contoh nyata, bahwa setiap usaha keluarga memerlukan “visi dan misi” yang kuat agar spirit awal yang sudah dibangun sedemikian rupa dapat dilanjutkan oleh para generasi penerus berikutnya sesuai dengan perkembangan dan kondisi pasar yang ada.
Sejak dibuka 31tahun lalu, Restoran Ulam berhasil memikat pencinta kuliner dari berbagai belahan dunia, Mereka tidak hanya dari kalangan pejabat bahkan selebriti pun tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menyantap makanan khas Ulam Restaurant seperti Seafood Basket ataupun Seafood Rijstafel yang disajikan secara apik dengan filosofi lokal.
Mang Tri juga mengatakan kalau market Korea makin hari makin meningkat, apalagi setelah salah satu ruangan yang ada di Restoran Ulam sempat dijadikan sebagai salah satu lokasi syuting drama Korea yang dibintangi para aktor papan atas Negeri Ginseng tersebut.
Dikisahkannya juga jika nama “Ulam” sendiri diambil dari bahasa Bali yang berarti maincourse atau lauk pauk. “Kami sempat berbincang dengan pengunjung dari Filipina dan ternyata dalam bahasa Tagalog arti dari Ulam juga sama dengan bahasa di Bali,” imbuh Wahyu Darmaja Putri, anak terakhir dari keluarga Ulam tersebut melengkapi cerita Mang Tri saat ditanya tentang arti nama Ulam.
Sebagai generasi penerus, melanjutkan mengelola restoran dengan menu utama yang sudah familiar dengan konsumen menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga Darmaja ini. Salah satunya yang terlihat yakni adanya sentuhan lifestyle serta seni yang terlihat mendominasi pada interior selain pada penampilan menunya.
“Background saya sebagai seorang desainer perhiasan menjadikan ide–ide saya makin mengalir untuk terus meremajakan restoran ini dari segala bidang,” cetus Mang Tri.
Mang Tri yang bangga, terhadap usaha dan kerja keras yang dicurahkan orangtuanya untuk mengembangkan sebuah bisnis dari bawah dan berhasil hingga saat ini akhirnya merancang langsung beberapa peralatan makan bersama seniman keramik terkemuka di Bali. Ia juga menambahkan ornamen Budha yang merupakan sebutan kecil ayahanda dan akan membuat lukisan sang ibunda di salah satu areal makan utama “Buda Kembar menjadi konsep dasar sentuhan seni nantinya. dimana Buda diambil dari nama Budarmaja dan kembar dikarenakan ibu yang juga terlahir kembar,” pungkasnya. (Sri Ardhini)

To Top