Inspirasi

Yanti Pusparini: Mendulang Kesuksesan dengan Berinspirasi

Putu Yanti Pusparini dengan karyanya

Demi meraih kesuksesan dalam hidup, selain usaha dan kerja keras rupanya harus ada sesuatu yang dikorbankan. Meniti karier hingga menghasilkan karya-karya yang diakui oleh masyarakat, Putu Yanti Pusparini harus melewati berbagai tantangan yang tidak saja melelahkan fisik tapi juga psikisnya.
Siapa sangka, desainer berbakat dari Kota Singaraja ini mengawali karier dari keputusasaannya mencari pekerjaan. Menikah diusia muda, membuat Yanti sapaan akrabnya memilih untuk berhenti kuliah. Kala itu dirinya tengah menempuh kuliah semester III Jurusan Tata Busana di Undiksha. keputusan untuk mengakhiri studinya karena dia berpikir ketika hamil dan memiliki anak tidak akan bisa lagi fokus kuliah. “Kuliahnya gak sampe lulus hanya semester tiga saja itu karena saya menikah dan takut tidak bisa membagi waktu,” tuturnya saat sedang mengerjakan pesanan pelanggannya.
Bermodal ketekunan dan keuletan, Yanti mencoba mendalami ilmu yang pernah didapat di kampus. Meskipun hanya sempat belajar tentang pecah pola dan ilmu dasar dalam tata busana, perempuan kelaharian tahun 1980 tersebut giat belajar secara otodidak. Tahun 2003 ketika dirinya mulai belajar menjahit kebaya, dirinya sudah menggarap pesanan kebaya modifikasi. “Tahun 2003 saya sudah memiliki dua pegawai,” ungkapnya.
Menjadi seorang desainer selama puluhan tahun, nama Yanti saat ini semakin dikenal melalui karya-karyanya sering diikutsertakan dalam event-event besar di Buleleng seperti Buleleng Festival dan pemilihan Putra-Putri Kampus di Undiksha. Melalui brand Diah Mode, perempuan asal desa Tejakula itu tengah memfokuskan bisnis yang dijalani selama ini dengan menerima pembuatan kebaya, seragam, dan baju kerja. “Saya kan belajarnya secara otodidak ya sekarang ingin memfokuskan apa yang sudah bisa dan ada,” imbuhnya.
Menjadi seorang desainer professional bukanlah hal yang mudah ditengah banyaknya bermunculan desainer-desainer muda lainnya. Akan tetapi Yanti selalu bisa membuat para pelanggannya puas dengan hasil kerjanya. Menurutnya banyak orang yang bisa menjahit akan tetapi tidak bisa dalam penalaran sehingga tidak ada inovasi dan kreatifitas sehingga akan menimbulkan kebosanan. “Kita harus bisa melihat tahun ini trend model seperti apa yang akan diminati, karena setiap tahun trend nya beda baik itu dari bahan maupun warna,” jelasnya. Selain itu, dirinya juga selalu menggunakan kain-kain tradisional sebagai bahan dalam membuat karyanya. Kain tradisional seperti Endek menurutnya masih sangat diminati sehingga hanya perlu dibuatkan model yang lebih spesifik sesuai dengan motif dan fungsinya.
Ibu dari empat orang anak ini tidak pernah merasa tinggi hati dengan apa yang telah ia raih. Bahkan ketika jasanya banyak dicari dari berbagai kalangan dirinya tidak pernah mengangkat harga untuk pelanggan. “Pelanggan tidak perlu takut datang kesini, harga yang kami berikan tidak berbeda jauh dengan penjahit biasa tapi kami berani memberikan kualitas yang jauh beda,” ungkapnya. seperti diawal, dirinya bercerita bahwa setiap kesuksesan harus ada sesuatu yang dikorbankan. Menjadi seorang penjahit tentu tidak akan memiliki banyak waktu untuk keluarga, sehingga apa yang dikerjakan jangan sampai sia-sia. Dirinya mengaku telah membuktikan hasil kerja kerasnya dengan mengikuti dan mendapat kepercayaan dalam berbagai pagelaran. “Saya tidak ingin apa yang saya korbankan dulu sia-sia dan kini saya harus buktikan bahwa saya tidak akan menyesal dengan pilihan hidup,” tutupnya. (Wiwin Meliana).

To Top