Kolom

REVOLUSI MENTAL

“Bila tidak ada komentar, rakyat diam-diam saja seakan tidak terjadi apa-apa, itu bukan tandanya rakyat apatis. Cuek atau ‘memang gue pikirin’, tapi itu tanda rakyat puas, tenang dengan kepemimpinan yang ada! Sama seperti kalau dalam penberitaan internasional, bila Indonesia tidak disebut-sebut, bukan berarti kita tidak penting, tapi berarti indonesia aman! Begitu caranya mengartikan keadaan sekarang ini, Pak!” kata Ami memarahi Amat.
Amat ingin mendebat. Tapi ia takut, kalau diikutkan, darah anak perempuannya yang temperamental itu, akan mendidih. Bisa sebulan ia tidak boleh ketemu cucu.
Namun di rumah, Amat masih punya pendengar setia. Lalu ia bersikap sangat manis, tidak banyak omong dan penurut. Bu Amat yang sudah hapal kelakuan suaminya langsung menolak ketika Amat dengan sukarela menawarkan diri mau memijit.
“Tidak usah merayu! Katakan saja mau apa! Tapi ini masih sore, tahu!”
Amat bersorak dalam hati.
“Itu, soal revolusi mental, Bu! Kok orang pada lupa membahas!”
“Apa pula itu?”
“Nah, lupa kan?”
“Kalau sudah mulai menyebut-nyebut kata revolusi, pasti politik! Kenapa sih semua orang laki pada keranjingan politik. Mbok kalau kebanyakan waktu luang, cari obyekan untuk dongkrak asap dapur! Ngapain main politik, ngabis-ngabisin waktu, ngabisin duit juga ngabisin persaudaraan!”
Amat langsung sengit
“Dengerin dulu! Revolusi Mental itu, jiwa kepemimpinan Presiden Jokowi. Revolusi mental yang diaplikasikan pada profil kekuasaan mengakibatkan adanya ‘desakralisasi’ kekuasaan. Artinya penguasa, pejabat, pemimpin dan pada puncaknya presiden bukan lagi raja yang maha kuasa, feodalistik, angker, ditakuti, tetapi ‘abdi’ rakyat yang sudah bekerja sepenuhnya untuk rakyat seluruhnya, bukan yang sudah mendukungnya. Citra itu juga sempat nongol di era Gus Dur. Tetapi sayang beliau tak lama memimpin bangsa.”
“Bukan itu saja. Eforia pencitraan penampilan Indonesia sudah digantikan dengan kebutuhan kesejahteraan, melalui pembangunan infrastruktur, fasilitas kesehatan masyarakat, peningkatan kepercayaan dunia, pertumbuhan ekonomi dan berbagai upaya dalam penyelesaian ‘konflik politik’ lokal yang berhasil berakhir damai. Itu adalah pencapaian yang menunjukkan ada kecerdasan, kesabaran dan kemampuan seorang negarawan yang tekun, fokus, merakyat dan juga berani.”
Amat menoleh. Lagi-lagi ia sudah ngomong sendiri. Bu Amat kedengaran menguap di dalam kamar.
Amat penasaran. Sembari ngomel ia masuk kamar
“Kenapa jadi politik jadi ditabukan dalam rumah? Keamanan negara dan kesehatan ekonomi sangat ditentukan kedamaian sosial-politik. Hubungannya dengan rumah dan asap dapur, jelas! Bukan hanya laki-laki, kaum ibu pun harus punya apresiasi terhadap politik, Bu! Kalau tidak, hidup akan pincang!”
Amat masuk kamar beringas. Ia ingin mendesak istrinya untuk memahami, hidup tak mungkin tanpa kesadaran poitik.Tapi begitu masuk kamar, Amat terkejut.
Bu Amat sedang membaca “Di Bawah Bendera Revolusi”. Kumpulan tulisan Bung Karno.

To Top