Edukasi

Sekolah Alam Sinergi dengan Alam sebagai Sumber Belajar

Sekolah yang satu ini memang lain dibandingkan sekolah pada umumnya. Suasana alamiah dan nyaman terasa sekali menggambarkan lembaga pendidikan anak ini. Pepohonan rindang menghias halaman dan sesekali terdengar kicauan burung-burung liar berterbangan diantara ranting pepohonan. Dua orang guru tampak sedang mengajar. Mereka adalah Teacher Yuli dan Teacher Eka.
Kepala sekolah yang juga pemilik Cempaka Kids, Ni Putu Suri Darmayanti mengatakan lembaga yang ia kelola khusus untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Terpadu dan Tempat Penitipan Anak. “Predikat identitas Sekolah Alam ini sangat melekat karena salah satu misi sekolah kami “menggunakan alam dan potensi lokal sebagai sumber belajar”. Karena itu sekolah didukung suasana lingkungan alam perdesaan dengan berbagai macam tumbuhan,” ujar perempuan yang akrab disapa Teacher Sarita ini tentang sekolah yang berlokasi di pinggiran Utara Kota Amlapura, Karangasem ini.
Sekolah Alam ini satu-satunya di Karangasem dan berdiri sejak Februari 2016. Kehadirannya memberikan nuansa baru yang inovatif bagi PAUD khususnya di Karangasem. Sekolah tersebut merupakan pengembangan dari PAUD yang telah didirikannya sejak sepuluh tahun silam di Banjar Tampuagan, Amlapura.
Sekolah Alam memiliki 85 siswa dengan 9 guru/pengasuh. Kealamiahan sekolah sangat terlihat dari seluruh pagar keliling halaman sekolah terbuat dari bambu setinggi dua meter. Tak terdengar bisingan deru kendaraan motor seperti halnya di kota. Halaman sekolah tak ada menggunakan paving, sehingga kalau hujan hampir tidak ada genangan air, air hujan semua terserap ke tanah. Halamannya menggunakan batu krikil dihiasi taman-taman kecil. Penyejuk sekolah dari pepohonan kecil dan besar bukan saja tumbuh di halaman sekolah, juga di sekitar tetangga areal sekolah tanah masih berupa tegalan, belum ada bangunan.
Delapan ruang kelas tempatnya anak belajar, tidak menggunakan ruang kelas gedung bertembok yang tertutup seperti halnya sekolah lain pada umumnya. Kelas belajar Cempaka Kids menggunakan ruang bangunan kelas terpisah-pisah satu lainnya seperti bangunan Bali Saka Pat tanpa tembok. Pelindung ruangan pembatasnya hanya menggunakan bahan bambu ukuran setengah badan. Di ruangan kelas, siswa lesehan dengan alas di lantai, mereka tampak sangat riang saat belajar dan bermain. Luasnya halaman sekolah, anak-anak saat istirahat belajar dapat leluasa bermain-main dengan alat-alat permainan perorangan maupun berkelompok.
Makan juga disediakan oleh sekolah. Anak-anak diajak makan bersama secara lesehan di kebun sekolah halaman bawah pohon. “Makan bersama dalam suasana alam sangat menyenangkan bagi anak-anak sehingga mereka lebih banyak makannya,” ujar istri dari I Nyoman Budiarta dan ibu dari Ni Putu Cetana Sri Handayani serta I Made Diva Adhi Wiguna ini.

MEMBUAT PUPUK KOMPOS
Beberapa program khusus yang menjadi unggulan sekolah ini antara lain pengenalan alam sekitar sekolah melalui kegiatan berkebun, memilah sampah sekolah, membuat pupuk kompos, menyiram tanaman serta memberi makan hewan peliharaan. Anak-anak secara berkala juga diajak melakukan program outing/outbound untuk melatih kebersamaan dan leadership.Terkait kerusakan lingkungan alam yang disebabkan oleh sampah anak-anak diedukasi peduli memanfaatkan sampah menjadi berkah. Anak dianjurkan membawa sampah yang ada di rumahnya ke sekolah untuk ditabung di Bank Sampah yang disediakan di sekolah atas kerjasama Cempaka Kids dengan Bank Sampah BaliKu (Bali Kumara) Amlapura.
Anak-anak juga diberikan pemahaman manfaat berbagi dan berempati melalui kegiatan bakti sosial, mengumpulkan uang koin dan green bazaar yang hasilnya disumbangkan kepada anak-anak yang ekonominya kurang mampu.
Cempaka Kids memberikan tambahan pengenalan bahasa Inggris yang sederhana sejak dini kepada anak didik, misalnya, nama-nama benda yang sering dilihatnya di rumah, nama sebutan keluarga, atau nama lainnya yang sering didengarnya.
Kegiatan sosial lainnya, yang disebut family program. Staf guru/pembimbing berkala berkunjung ke rumah tempat tinggal anak bertemu dengan orangtuanya untuk pengenalan/menjalin hubungan kekeluargaan kebersamaan antara sekolah dengan orangtua anak. Pertemuan tersebut bagi Teacher Sarita upaya memberikan edukasi kepada keluarga agar antara program sekolah dengan pendidikan keluarga bersinergi.
Bagi Teacher Sarita, Sekolah Alam adalah impian lamanya sejak mulai mendirikan PAUD sepuluh tahun lalu. “Ini sekolah inovasi PAUD, proses pendidikan secara dini anak langsung didekatkan dengan alam untuk bersinergi dan dijadikan sahabat sejati, bukan hanya dalam cerita, kalau kita cinta alam, alam pun cinta kepada kita,” ungkapnya.
Sarita menambahkan, di lembaganya pernah mengasuh anak bermasalah dari berbagai latar belakang seperti berkebutuhan khusus, hiperaktif, berkata-kata kasar/galak, pendiam/pemurung dan lainnya. Bahkan ada anak asuhnya biasa minum tuak, karena anak tersebut sering melihat bapaknya peminum tuak. Untuk menanggulangi anak demikian, ia menggunakan terapi sentuhan keibuaan, cinta kasih, menanamkan kata-kata positif pada bawah sadarnya, dan selalu berkoordinasi dengan orangtua anak, untuk mengetahui bagaimana sifat-sifat dan perilaku anak di rumah. (Pasek Antara)

To Top