Kolom

SETELAH 3 TAHUN

“Bagaimana rasanya setelah 3 tahun, Bu?” tanya Amat.
“Apanya?”
“Pemerintahan Jokowi-JK.”
“Ya, bagus.”
“Apa lagi?”
“Apa ya?”
“Ya, apa jawab saja dengan jujur!”
“Jujur?”
“Ya! Artinya jangan disembunyikan kalau bagus, bagusnya apa. Kalau jelek, kurangnya apa. Kita harus jujur! Bukan hanya pemimpin yang dituntut harus jujur bicara apa adanya, rakyat juga. Sehingga akan terjadi sinergi untuk kepentingan kita bersama. Jangan seperti yang menamakan dirinya oposisi itu. Sebetulnya karena tidak terima kalah, meskipun menurut azas demokrasi memang kalah, hatinya nggak mau kalah. Dengan pakai masker oposisi dia terus merecoki jalannya pemerintahan dengan berbagai cara. Apalagi di masa-masa mendekati pemilu seperti sekarang. Perang dingin terus dilancarkan untuk menjatuhkan. Karena pengertian oposisi sudah diartikan memusuhi. Merecoki. Menjaili. Padahal arti sebenarnya dari oposisi dalam ketatanegaraan kan memberikan perimbangan, kontrol, agar rakyat yang sudah memilih tidak dirugikan. Tidak hanya dicatut namanya saja. Rakyat tetap pemilik negeri ini. Penguasa hanya abdi yang bekerja untuk rakyat. Jangan dibalik, rakyat dijadikan abdi seperti di masa feodal. Ingat bagaimana dulu waktu Barack Obama dari Partai Demokrat di Amerika, menang pemilu mengalahkan partai Republik. Langsung waktu pelantikan Obama, saingannya dari partai Republik memimpin acara. Itu namanya legawa. Itulah demokrasi yang sudah matang. Jangan malah berkoar menghujat orang seenak perut dengan kedok demokrasi, kebebasan bersuara, giliran nginjak orang minta maaf pun tidak sudi! Begitulah politik, Bu. Jadi bagaimana?”
Amat menoleh, tapi Bu Amat sudah mendengkur di kamar. Amat tak sampai hati nyusul. Ia tahu istrinya siang tadi kerja keras membersihkan rumah.
“Tapi saya penasaran, setelah tadi mendengarkan di TV pujian terhadap kinerja presiden kita raja blusukan itu,” kata Amat kemudian nyamperin tetangganya, Pak Made, yang kebetulan sedang cari angin di beranda rumahnya.
“Saya tahu Pak Made dulu tidak mendukung Pak Jokowi, tapi justru karena itu, saya ingin tahu komentarnya. Soalnya Pak Made tahu sendiri, sekarang tinggal hanya dua pilihan. Memuji atau mencela. Yang mendukung umumnya pasti akan memuji. Yang tak mendukung mau tak mau akan mencela. Itu sudah ada dalam prediksi saya. Tapi Itu tak bisa dipegang sebagai penilaian yang obyektif. Nah di situlah timbul ide saya, adakah yang dulu mendukung, kini mencela? Dan sebaliknya mungkinkah yang dulu mencela kini memuji? Artinya terjadi pergeseran penilaian? Dan kenapa? Nah itulah ..”
“Pakkkk!” terdengar panggilan Bu Made dari dalam rumah,”ada tikus masuk kamar, Pak!”
Pak Made yang sedang memegang HP cepat berdiri.
“Maaf Pak Amat, ada kucing masuk kamar!”
“Cepat Pakkkk!”
Tanpa menunggu jawaban Amat, Pak Made bergegas masuk ke rumah. Amat bengong.
“Bapak tak percaya ada tikus atau kucing masuk ke dalam kamarnya! Pasti di SMS istrinya untuk manggil masuk ” kata Amat esoknya curhat di rumah Ami.
“Soalnya Bapak penasaran, mengapa rakyat tidak pernah menjadi rakyat yang profesional?”
Ami mengernyitkan dahi.
“Maksud Bapak?”
“Kita rakyat, termasuk ibumu, Pak Made dan semua orang itu, kenapa mereka hanya menuntut pemimpin itu harus begini, begitu! Dan oposisi harus begini, begitu! Tapi mengeluarkan suara sebagai pemilik negeri untuk menilai kinerja abdi yang kita angkat sebagai penguasa, kok tidak mau? Tidak bisa atau tidak mau? Tapi kok tidak ada suara? Sebab bagaimana kekuasaan akan tahu kinerjanya kalau rakyat tidak menjadi cermin tempat mereka berkaca, heee tunggu, jangan pergi dulu!” teriak Amat ketika Ami hampir saja mau menyelinap.
“Habis Bapak mau ngobrol atau ceramah?”
“Ngobrol!”
“Soal apa?”
“Setelah 3 tahun pemerintahan Jokowi-JK. Sebab ..”
“Stop!”
Amat terpaksa tutup mulut.
“Bapak mau tahu pendapat saya?”
“Ya!”
“Jawaban saya, baik.”
“Tapi apa… .”
“Stop!”
Amat tutup mulut lagi
“Baik. Kalau masyarakat diam, itu artinya baik. Titik!”

To Top