Kreasi

Kadek Krisna “Rockefeller”: From Zero to Hero

Anak-anak di pengungsian Balai Serba Guna Desa Adat Tegak, Klungkung, Sabtu (14/10) sumringah saat ada pengumuman potong rambut gratis. Mereka pun mendaftarkan diri agar bisa potong rambut dengan gaya trendi.
Tiga “tukang cukur” sudah bersiap dengan peralatannya. Mereka adalah Kadek Krisna Adi Permana, I Putu Agus Edwin Sujayana, dan Verry Anwar dari Rockefeller Barbershop Bali. Sekitar 2 jam, mereka bergantian memotong rambut anak-anak pengungsian.
“Kami senang bisa motong rambut anak-anak di pengungsian. Ini merupakan bagian dari keseimbangan hidup. Kita saling berbagi,” ujar Kadek Krisna yang juga pemilik Rockefeller. Bahkan ada anak-anak yang minta tanda tangan Kadek karena pernah melihat aksi Kadek di acara The Cuts Indonesia.
“Saya menjadi tukang cukur karena perlu pekerjaan untuk menghidupi keluarga. Ternyata tukang cukur yang dulu dipandang sebelah mata kini sudah mulai diperhatikan,” ungkap sarjana lulus jurusan Administrasi Publik Universitas Parahyangan, Bandung tahun 2014 ini. Ia pun menuturkan sempat merantau ke Jakarta selama tiga bulan setelah lulus. Namun, tak satu pun pekerjaan ia dapatkan. Selama kuliah di Bandung ia pernah kerja paruh waktu di distro dan bengkel. Sekali waktu ia diminta memotong rambut teman-temannya.
Karena tak ada pilihan lain, Kadek pun pulang ke Bali dan menikah. Sebagai kepala keluarga, Kadek berpikir keras, pekerjaan apa yang akan diambil. Ia pun memutuskan untuk kursus dasar potong rambut di salon Rudy Hadisuwarno sambil membuka barber shop bernama Rockefeller. Ia berasumsi, pengalaman tren di Bandung biasanya mendahului Bali. Karena itu, barber jadi pilihan bisnisnya.
“Saya mengagumi John D. Rockefeller, orang kaya di Amerika Serikat yang memonopoli bisnis minyak tetapi sangat dermawan. Saya pun punya visi seperti Rockefeller,” ujar suami dari Intan Kusuma Wardani dan ayah dari Ni Putu Alindra Kieran Permana dan Ni Made Biandra Ayodhya Permana ini.
Rockefeller Barber Bali buka pertama kali di Sidakarya tahun 2015. Ia mengajak satu anak buah sembari belajar bagaimana berkomunikasi dengan customer. Tiga bulan berjalan, anak buahnya minta kenaikan gaji. Kadek pun mempersilakan anak buahnya untuk keluar. Barber ini pun tutup dua minggu. Akhirnya pria yang juga penggemar olahraga otomotif ini “turun gunung”. Ia menjadi tukang cukur, tukang bersih-bersih, kasir, sekaligus marketing.
“Saya bisa seperti sekarang berkat dukungan keluarga dan teman-teman. Bangga rasanya bisa berkiprah di dunia barber. Bagi saya ini peluang bagi seniman Bali di bidang tata rambut untuk menunjukkan kreasinya,” ujar Kadek yang selalu mengucapkan “sugra” atau “permisi” sebelum mulai memotong rambut customernya.
Ia mengaku senang bisa ngobrol dengan customer dan mendapat banyak cerita. Keramahan khas Bali inilah yang menjadi tagline barbernya, “Gentlemen’s looks with local taste”. Media sosial pun dijadikan ajang berpromosi. Hasilnya tak mengecewakan. Pelanggannya bukan hanya orang Bali tetapi ada orang bule. Pemain Bali United seperti Agus Nova dan Made Andhika juga menjadi customer Rockefeller Barber Bali.
Kadek mengaku memotong rambut customer sesuai karakter dan bentuk wajah. “Saya belajar otodidak untuk modelnya. Prinsip dasarnya adalah memahami bentuk wajah, arah tumbuh rambut, “usuan”, dan dasar tengkorak kepala. Kalau sudah menguasai semuanya, mudah untuk memotong rambut,” jelas pria kelahiran 15 Juni 1990 ini. Ia juga menegaskan tidak ada yang namanya salah potong. Yang ada adalah salah komunikasi antara customer dan barber. Karena itu sangat penting untuk menyampaikan keinginan kepada barber tentang bentuk cukuran yang diinginkan. Atau, barber harus proaktif bertanya.

FINALIS THE CUTS INDONESIA 2017
Keaktifkan Kadek di media sosial dalam mengunggah hasil karyanya ternyata terpantau dari Jakarta. Tim The Cuts Indonesia 2017 yang melakukan audisi tertutup untuk salon dan barber langsung melakukan kunjungan sekaligus syuting.
“Saat dikunjungi dan syuting, saya tampil apa adanya. Motong rambut customer sambil ngobrol dan menjawab pertanyaan tim audisi. Semacam multitasking lah,” ujarnya sembari tersenyum. Ternyata Kadek dinyatakan lolos untuk masuk 15 besar dan diundang ke Jakarta.
Selama syuting acara yang baru pertama kali dilaksanakan ini, ia bolak-balik Denpasar-Jakarta. Saat show, semua peserta bersaing menunjukkan kemampuannya. Tetapi, di luar show, semuanya bersahabat.
Masuk babak 8 besar, Kadek mendapat tantangan membuat potongan rambut berbentuk buah stroberi. Ia pun berpikir keras untuk membuat model stroberi. Usahanya ternyata tidak memuaskan juri yang terdiri dari Rudy Hadisuwarno, Wak Doyok, dan Alex Abbad ini. Kadek pun tereliminasi. Namun, ajang The Cuts Indonesia ini melambungkan namanya sebagai “tukang cukur”.
“Saya termasuk barber yang diundang sebagai bintang tamu di ajang Hair Expo 2017 di JCC. Bangga rasanya jadi orang kampung yang bisa naik panggung, ibarat from zero to hero. Saya juga pernah sharing pengalaman sampai ke Kalimantan,” ujar putra pasangan I Nyoman Sukarma-Ni Ketut Rai Anggreni dari Desa Rejasa, Penebel, Tabanan ini.
Impian Kadek setelah memiliki Rockefeller di Sidakarya dan Jln. Supratman Denpasar adalah menjadikan memajukan industri barber di Bali dan seniman barber naik kelas. Ia pun bangga ada mantan karyawannya sudah bisa membuka usaha sendiri. Pesannya, antara pemilik, barber, dan customer harus berkomunikasi dengan baik. (Ngurah Budi)

To Top