Life Story

Zainul Majdi “Dipaksa” Jadi Ketua OIAA Indonesia

Gubernur NTB (paling kanan depan) saat mendampingi Presiden RI dalam kunjungan kerjanya ke NTB

Dalam kunjungan kerjanya ke Nusa Tenggara Barat yang baru lalu, Presiden Republik Indonesia, Ir. H. Joko Widodo sekaligus menutup kegiatan Konferensi Internasional Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar dan Multaqa Nasional IV Alumni Al-Azhar Cabang Indonesia yang diselenggarakan di Islamic Center NTB.
Penutupan tersebut ditandai pemukulan Bedug oleh Presiden RI didampingi Wakil Ketua WOAG yang juga Mantan Menteri Waqaf Mesir, Prof. Dr. Muhammad Abdul Fadhiel El-Qoushi, Gubernur NTB, Dr. TGH. M. Zainul Majdi selaku Ketua Umum Organisasi Internasional Alumni Al Azhar (OIAA) cabang Indonesia, Mustasyar, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA dan Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifudin. Disaksikan pula para ulama dari berbagai negara dan ribuan santri. Hadir juga sejumlah mentri mendampingi kunjungan Presiden di Bumi Seribu Masjid ini.
Kegiatan Multaqa Nasional IVAlumni Al Azhar Mesir mengagendakan salah satunya adalah pemilihan ketua organisasi internasional Alumni Al Azhar Cabang Indonesia. Ketua Alumni Al Azhar Mesir Cabang Indonesia saat itu, Prof. Dr. Quraish Shihab tiba-tiba menunjuk TGB sebagai ketua yang akan menggantikan dirinya. “Jika saya dipaksa untuk terus menjadi ketua, maka saya akan menunjuk orang yang menggantikan saya,” ujarnya seraya menunjuk Dr. TGH. M Zainul Majdi. Mendapat penunjukkan langsung tersebut, gubernur yang dikenal dengan julukan Tuan Guru Bajang (TGB) ini terlihat terkejut. Atas penunjukkan langsung ini ia segera mengembalikannya pada Prof. Dr. Quraish Shihab. Seraya memohon agar apa yang disampaikannya tadi dapat dijelaskan lebih lanjut.
Tanggapan datang dari salah satu peserta muktamar, Ikhwanul Kiram Mashuri dan didukung oleh seluruh peserta yang secara aklamasi kemudian menunjuk Gubernur NTB ini, untuk menerima amanah sebagai Ketua OIAA Cabang Indonesia sesuai penunjukan dari Prof. Dr. Qurais Shihab. “Banyak perubahan dan keberhasilan yang telah dicapai selama memimpin NTB,” ungkap Quraish Shihab, Profesor Ahli Tafsir Al Qur’an tersebut.
Majdi lalu menerima amanah sebagai Ketua Ikatan Alumni Al Azhar Indonesia. Pada saat menutup kegiatan ini, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa dengan pemikiran besar dari para alumni Al Azhar Kairo Mesir ini, maka alumni-alumni Al-Azhar dapat membangun pemahaman masyarakat tentang moderasi dan toleransi. Karena moderasi dan toleransi merupakan hal penting bagi sebuah bangsa dengan masyarakat yang penuh keberagaman, baik agama, suku maupun bahasa.
Presiden RI lalu mengisahkan pertemuan-pertemuannya dengan presiden, perdana menteri, atau kepala pemerintahan serta tokoh-tokoh dunia pada konferensi dan summit apa pun, bahwa ia kerap menceritakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Selain itu Presiden Jokowi menyampaikan kepada kepala-kepala negara di dunia adalah, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, sekitar 250 juta jiwa, 17 ribu pulau, dan lebih 1.100 bahasa. “Banyak yang terkaget-kaget saya ceritakan ini,” ungkap Jokowi di hadapan sekitar seribu masyarakat dan peserta konferensi yang hadir.
Negara yang besar ini lanjut Jokowi, dengan kemajemukan masyarakatnya seperti perbedaan agama, suku dan bahasa merupakan karunia Allah SWT yang harus disyukuri. Sehingga perlu dirawat dengan sungguh-sungguh dan dikelola dengan baik serta penuh kehati-hatian. “Ada pesan beliau yang masih saya ingat, kalau ada gesekan kecil segera selesaikan,” ungkap Jokowi ketika menceritakan pesan Presiden Afganistan kepadanya saat bertemu dalam sebuah konferensi.

HIDUP HARMONIS

Konferensi Internasional dan Multaqa Nasional Alumni Al-Azhar Mesir di Indonesia yang diselenggarakan selama tiga hari, mulai tanggal 17 sampai 19 Oktober 2017, di Provinsi Nusa Tenggara Barat, menghadirkan para narasumber pada konferensi itu yang memaparkan 45 kertas kerja yang mendiskusikan berbagai isu keislaman. Para pembicara memberikan apresiasi kepada Al-Azhar dan Imam Besar Prof. Dr. Ahmed El-Tayeb, Syaikh Al-Azhar atas upaya-upaya yang telah dilakukan dalam menyebarkan moderasi Islam (wasathiyah).
Konferensi Internasional Alumni Al-Azhar ini menegaskan bahwa, Wasathiyah dalam Islam adalah sikap seimbang dalam pemikiran dan perilaku yang ditandai antara lain dengan hidup harmonis dengan berbagai komponen masyarakat. Rasulullah telah memberikan contoh hidup berdampingan dengan rukun dan damai dalam masyarakat Madinah di bawah konsep “al-muwathanah” (kesamaan kedudukan sebagai penduduk dan warga negara). Setiap warga, baik Muslim, Yahudi, maupun Nasrani, memiliki hak dan kewajiban yang sama, seperti yang tercantum dalam Piagam Madinah.
Selain itu Agama Islam melalui Al-Quran dan Hadis telah secara sangat jelas menanamkan keimanan kepada semua ajaran dan kitab suci samawi ke dalam hati para pemeluknya. Islam juga menjamin kebebasan beragama kepada setiap warga yang tinggal di dalam satu wilayah dan satu negeri yang sama, sesuai firman Allah SWT, tidak ada paksaan dalam beragama. Islam menjamin rasa aman bagi setiap orang yang berada di wilayahnya, tanpa melihat latar belakang agama, etnik dan golongan yang dianutnya.
Lalu, dalam pandangan Islam manusia berasal dari satu nenek moyang yang sama. Kesamaan itu meniscayakan perlunya saling mengenal yang pada gilirannya membuahkan kerja sama dalam melakukan kebajikan. Kesamaan itu juga meniscayakan perlunya memelihara kehormatan, darah, dan harta setiap manusia, apa pun agama yang dianutnya, selama tidak dalam kondisi peperangan. Termasuk pula Al-Azhar telah mengemban misi wasathiyah Islam selama lebih dari seribu tahun, dan terbukti mendapat sambutan hangat di seluruh belahan bumi. Hal itu karena metode yang dikembangkan dan diajarkan dibangun di atas dua pilar utama; ilmu-ilmu tekstual berdasarkan Al-Quran dan Hadis dan ilmu-ilmu kontekstual yang sejalan dengan akal pikiran manusia. Dengan demikian, para alumni Al-Azhar berkeyakinan bahwa wahyu tidak bertentangan dengan akal. Al-Azhar juga mengajarkan budaya menghormati keragaman, mengembangkan hidup harmoni dan menghormati pendapat serta prinsip-prinsip dalam hubungan antar umat beragama.
Para peserta kemudian merekomendasikan beberapa hal terkait hal tersebut yakni, perlunya memperluas jaringan alumni Al-Azhar dengan membuka cabang di seluruh belahan dunia, untuk secara bersama-sama dan bahu membahu memerangi pemikiran ekstrem dan radikal, antara lain pemikiran yang menghalalkan darah dan tindakan kriminal dengan mengatasnamakan agama. Juga dinilai perlunya menyusun rencana dan langkah kongkrit terkait wacana keagamaan kontemporer yang melandasi kerukunan hidup umat manusia, menjauhi ujaran kebencian dan tindak kekerasan, menghormati sesama manusia, memelihara kehormatan jiwa, mencintai tanah air dan bela negara, serta mengukuhkan sikap moderat dan toleran.
Di samping itu perlu membuat perencanaan dan langkah-langkah kongkrit melalui pelatihan para dai dalam menghadapi fenomena ekstremisme, radikalisme dan fanatisme beragama, serta isu-isu terkait dan perlunya menyebarluaskan secara massif respons ulama Al-Azhar terkait isu-isu yang mengancam kehidupan beragama yang moderat melalui jaringan alumni dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. (Naniek I. Taufan/hms)

To Top