Kolom

G30 S (4)

Bu Amat diwawancarai wartawan:
“Ibu yang meninggal itu telah dikremasi. Ketiga anaknya kembali Moscow. Tapi berjanji akan kembali ke Indonesia untuk mengabdi NKRI. Terus bagaimana, Bu?”
“Tak lama berselang kemudian, sejumlah aparat negara menggerayangi rumah kami. Seluruh sudut rumah diteliti. Semua barang diperiksa. Foto-foto diusut. Celemek kotor untuk ngepel WC pun dipertanyakan, kenapa warnanya merah. Apakah itu bekas bendera? Saya bingung. Tapi Bapak tenang saja. Sama sekali tidak bertanya apa yang dicari para petugas itu. Ia juga tidak protes atau menanyakan surat tugas, Bahkan justru berusaha memberikan service terbaiknya.
“Apa lagi yang bisa kami bantu, Pak?” tanya Amat tulus pada petugas.
“Oh, Pak Amat sudah kooperatif sekali. Cuma saya masih belum jelas tentang beberapa hal.”
“Silakan, Pak.”
“Maaf Pak Amat. Ini hanya saya secara pribadi ingin bertanya. Apa hubungan Bapak dengan almarhumah!”
“Seperti sudah saya bilang, saya adalah sahabat suaminya. Kami satu kelas di SMP.”
“Apa yang dibisikkan almarhumah kepada Bapak sebelum kena serangan jantung malam itu?”
“Itu saya tak tahu karena suaranya kembali hilang.”
“Kira-kira?”
“Malam itu semuanya terjadi cepat sekali. Saya belum sempat berpikir dia sudah jatuh.”
“Tapi kata banyak saksi dia menunjuk-nunjuk Pak Made? Kenapa?”
“Perhatian saya waktu itu, pada ketiga anaknya. Yang laki-laki menarik ibunya tapi yang perempuan malah mendorong.”
“Kata saksi almarhumah menunjuk Pak Made seperti bilang: ini dia, ini orangnya! Betul?”
“Wah, saya tidak tahu kalau soal itu, Pak.”
“Baik, kalau begitu. Terima kasih.”
Mereka salaman.
Kembali Bu Amat dan wartawan.
“Setelah Pak Petugas itu pergi, malam harinya Pak Made datang bersama istrinya. Mereka membawa apel. Saya heran tak biasa-biasanya mereka ramah begitu. Mereka memuji-muji kami karena sudah membantu mengkremasi almarhumah. Lalu menanyakan apakah suami saya bersedia ikut pilkada. Suaminya mencalonkan diri jadi Bupati dan menawarkan kalau suami saya mau mendampingi sebagai wakil.”
Amat dibujuk Pak Made.
“Pak Amat, Ini kesempatan emas Pak Amat. Akibat tindakan Pak Amat mau membantu mengkremasi bekas Gerwani itu, medsos memuji Pak Amat sebagai calon pemimpin yang dibutuhkan masyarakat sekarang untuk memasuki babak baru dengan menutup kisah lama tuntas, sehingga kita bisa bersatu bergotong-royong tidak lagi saling mencurigai. Saya memilih Pak Amat sebagai wakil saya untuk maju pikada tahun ini. Setuju?”
“Terima kasih Pak Made. Tapi saya bukan orang politik.”
“Lho Pak Amat kok agak berubah setelah ketemu petugas itu? Apa mereka menceritakan sesuatu yang jelek pada diri saya?”
“Sama sekali tidak!”
“Apa dia bilang saya ini dulu pernah jadi ketua PR? Jangan percaya. Umurnya paling juga baru 40 tahun, waktu 1965 dia belum lahir!! Tahu apa dia?!”
Kembali pada wartawan yang mewawancarai Bu Amat.
“Jadi Pak Made itu bekas pemimpin Pemuda Rakyat??”
“Saya tidak tahu. Saya tidak ngerti politik. Tapi
“Kalau betul dia bekas PR mengapa malam itu dia mengerahkan para pemuda untuk menangkap almarhumah?”
“Saya tidak tahu, tapi ketika ketiga anak almarhumah pamitan sebelum berangkat kembali ke Rusia kalau tak salah ada info:
Ketiga anak almarhumah pamitan pada Amat.
“Terima kasih Pak Amat dan Ibu. Besok kami kembali ke Moscow dulu. Yang penting ibu kami sudah tenang.
“Inilah yang dirindukan ibu kami siang malam di Moscow. Kembai ke pangkuian Ibu Pertiwi.”
“Ibu selalu menyesali keputusan Bapak dulu yang sudah terjerat mimpi-mimpi muluk, sampai mengabaikan keselamatan keluarga. Ibu sudah hampir mau lari tapi takut karena diancam Bapak!”
“Otak Bapak kami sudah dicuci Pak Made, jadi segalanya jadi terbalik.”
“Siapa?”
“Stttt!”
“Ya! Kata ibu, orang itu juga yang memaksa Bapak berbalik melaporkan kawan-kawannya dulu bahkan juga melaporkan Pak Amat!”
“Makanya bekas bacokan di punggung Pak Amat itu tidak asing bagi kami. Jadi… .”

To Top