Bunda & Ananda

Perlukah Anak Ikut Bimbel?

Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si.

Dalam sebuah obrolan santai para orangtua murid ketika menunggui anak-anaknya mengikuti ekstra, muncul topik bimbingan belajar (bimbel). Sebagian besar dari mereka mengikutkan anak-anaknya bimbel dengan berbagai alasan. “Saya ikutkan anak saya bimbel biar tidak ketinggalan pelajaran,” ucap Bu Rasmi yang anaknya duduk di kelas 2 SD. Ada juga karena latar belakang kesibukan orangtua sehingga tidak ada waktu mendampingi anak-anaknya belajar
“Kalau saya lebih mending mengikutkan anak-anak saya kegiatan nonakademis, senam, sepakbola, berprestasi syukur, tidak juga tidak apa-apa,”ujar Ibu Voni yang memiliki pendapat yang berbeda. Menurutnya, anak-anak diikutkan bimbel agar mendapatkan nilai tinggi terutama ketika ujian nasional. “Jika tujuannya hanya untuk mencari nilai tinggi saat ujian, buat apa ikut bimbel, beli saja soal dan kunci jawaban, banyak kok yang jual, kan sekolah juga ingin menjaga nama baik dan reputasi sekolah,” ucapnya sinis.
Pengamat pendidikan Prof. Dr. Ir. Putu Rumawan Salain, M.Si. mengatakan, apapun alasannya, prinsipnya ada di tataran belajar. Seperti istilah “belajar sepanjang hayat”, itu pun dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya dengan bimbel. Belajar formal dilakukan di sekolah, ada juga belajar nonformal, dan pendidikan vokasi. Belajar tambahan ini yang dulu disebut les, jika terstruktur, sekolah juga ada menyelenggarakannya semacam ada jam tambahan. “Mungkin memang ada beberapa anak yang membutuhkan les dengan beberapa alasan, untuk menuntun anak belajar karena orangtuanya sibuk,” ujarnya.
Selain, ia juga melihat materi pelajaran sekarang ini sudah melompat jauh jika dibandingkan dengan orangtua mereka yang kurikulumnya sudah sangat berbeda, yang belum tentu bisa diselesaikan orangtua atau kakak-kakak kelasnya, karena perubahan itu cepat sekali. Dan, ada juga yang memang memberi kesibukan pada anak-anak, agar mereka terbiasa belajar.
“Jadi menurut saya, sah-sah saja anak diikutkan bimbel. Hanya saja bagi anak-anak di tingkat kelas 1 sampai 3 SD aktivitas bermainnya yang tinggi. Tidak perlu semua mata pelajaran diikutkan, tapi ada pelajaran tertentu yang mendukung.
Kalau bisa, jangan hanya pelajaran berhitung (matematika) atau bahasa Inggris yang diberikan pada anak, yang lebih penting lagi jika ada guru yang memberikan bimbingan etika-moral sehingga anak-anak itu dari dasar sudah diberikan cekokan landasan bergaul-beretika termasuk beragama,” paparnya.
Hal ini, dikatakannya sering tidak dilakukan, karena dianggap bisa dilakukan di rumah dengan orangtuanya, padahal materi (muatan) ini yang perlu diberikan tambahan. Sehingga, anak tak hanya memiliki kecerdasan intelektual, namun juga kecerdasan emosional dan spiritual, semua seimbang. “Saya berpikir, perlu juga ada bimbel di bidang itu. Perlu diberikan jam tambahan di bidang itu. Etika itu yang paling penting, karena sedikit sekali dapat waktu disana,” tegasnya.
Lalu, siapa yang berhak menjadi guru tersebut? Rumawan Salain melihat yang paling pas itu guru bimbingan konseling (BK). Karena itu, ia berharap dalam hal ini peran guru BK lebih dimaksimalkan lagi.
KUATKAN PEMAHAMAN LOGIKA
Di kelas 1-3 SD, karena di titik ini anak-anak lebih banyak bermain dan penyesuaian (bersosialisasi). Karena itu jika orangtua ingin memberikan pelajaran tambahan pada anaknya, jangan terlalu banyak. Sepanjang keinginan les tersebut tumbuh dalam diri anak, entah itu karena melihat temannya ikut sehingga ingin ikut juga, Rumawan Salain mengatakan itu sah-sah saja, intinya adalah belajar. Permasalahannyanya, tidak semu orang punya uang untuk membayar guru bimbel. Nanti pada suatu saat ketika mereka berlari toh anak-anak akan sampai di finish semuanya. Namun, kecerdasan yang didapat disini hanya sesaat, mereka mendapat nilai 10. Belum tentu yang dapat nilai 5 itu tidak mampu. Pada titik tertentu si anak ini akan mencapai kemampuan yang sama.
Karena sebenarnya pendidikan yang menurutnya penting di luar segmen ilmunya itu adalah pemahaman di logika. “Jadi anak-anak yang bermain di logikanya kuat itulah yang sebenarnya memberi warna tingkat kecerdasan, dan anak akan memenangkan lomba dalam kehidupan,” ujarnya.
Sejauh ini banyak anak yang belajar dengan hapalan, tunduk kepada guru dan beorientasi kepada satu guru. Bagaimana jika tingkatan sekolahnya berubah, si anak tak lagi menemukan panutan, dia tak akan berniat lagi untuk belajar. Sama dengan kita ketika mencari dokter, senangnya dengan dokter A, tapi ketika yang ada dokter B, kita bisa tidak mau masuk.
Karena itu, Rumawan Salai kembali menegaskan, tidak masalah anak diikutkan ikut les sepanjang anak tidak dipaksa. Carilah jam-jam memadai untuk anak-anak, sehingga di dalam pertumbuhan itu tidak ada perlawanan karena paksaan belajar, sehingga anak masih sempat bermain.
Dalam pengamatannya, tujuan bimbel sebenarnya membantu orangtua memasilitasi pelajaran yang saat ini sudah sedemikian berubah, sementara orangtua sendiri sudah tidak mampu mengajarkan pelajaran sekarang, selain orangtuanya sibuk. Bahkan, sekarang banyak pilihan tempat bimbel dan orang-orang yang berkompeten di bidangnya sebagai pengajar. “Walaupun tidak dapat nilai 10 tapi dasar belajarnya lain yang didapatkan anak,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top