Kolom

ANAK HEBAT, ORANGTUA TERLIBAT

I Nyoman Tingkat

Dalam rapat komite sebuah SD, Pak Gede Tombong, salah satu orangtua siswa menggugat kebijakan sekolah yang menerima siswa inklusi. Alasannya, mengganggu pelayanan anak mereka yang normal. Pelayanan menjadi lambat karena guru sibuk mengurus anak inklusi.
Menghadapi gugatan itu, Bu Wayan, Kepala SD itu menjawab dengan tenang seraya membalik pertanyaan. “Andaikan Bapak punya anak inklusi, apakah tega tidak mendapat pelayanan sebagaimana layaknya anak normal ?” Pertanyaan balik Bu Wayan membungkam Gede Tombong dan tersadarkan seketika lebih-lebih dengan tambahan argumentatif yang ditunjukkan Kepala SD itu.
Dari anak inklusi itu, kata Bu Wayan telah berhasil mengangkat nama baik SD ini di pentas nasional dalam ajang olimpiade olahraga anak berkebutuhan khusus (ABK) tingkat nasional. Anak inklusi kalau ditangani dengan benar, tampaknya sama hebatnya, bahkan lebih prestius daripada anak normal. Inilah yang harus kita sadari bersama.
Bu Wayan mengajak, marilah kita bergandengan tangan bahu-membahu untuk kemajuan pendidikan anak-anak di sekolah ini, tanpa diskriminasi dalam pelayanan. Bila perlu, bapak/ibu para orangtua membantu mencarikan kami jalan keluar terhadap permasalahan yang dihadapi sekolah. Tidak mesti dengan uang, boleh dengan apa saja asalkan dilakukan penuh keikhlasan. Orang bijak mengatakan, “Semua pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas, hasilnya akan optimal. Cinta yang ikhlas melahirkan anak yang berkarakter positif, sebagai anak yang suputra, sebaliknya cinta terpaksa melahirkan anak bermasalah, bahkan bisa menjadi anak yang durhaka. Pelayanan yang ikhlas akan terpatri di hati anak yang kelak bisa bersinar ke mana-mana”.
Pemaparan ibu kepala sekolah itu ternyata mampu mengetuk hati Bu Ida, ketua komite di sekolah itu. Walaupun tidak kaya secara materi, Bu Ida bersedia menjadi relawan mengomunikasikan ke atasannya di tempat kerja terkait dengan penanganan anak inklusi. Hasilnya, dalam waktu kurang dari seminggu, SD Bu Wayan didatangi seorang pemillik villa seraya memberikan bantuan kursi roda dan beasiswa kepada seluruh anak inklusi di SD itu. Di tengah kampanye sekolah gratis, Bu Wayan selaku kepala sekolah di SD telah berhasil mengetuk gravitasi kesadaran para orangtua siswa yang tergabung dalam wadah komite sekolah. Sinergi sekolah dengan komite sekolah menguatkan misi untuk maju bersama dan hebat semua sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013.
Kurikulum ini memandang semua anak adalah hebat dengan keunggulannya masing-masing. Tugas guru dan orangtua adalah memupuk dan menyuburkan kehebatannya. Ibarat tanaman, jangan sampai tunas yang baru tumbuh dipotong yang pada akhirnya gagal berbuah sehingga tidak ada yang dipanen. Panen raya pendidikan terbesar adalah terfasilitasi keunggulan masing-masing anak sehingga mereka tumbuh dan berkembang menjadi generasi emas sebagai modal dasar pembangunan ke depan.
Untuk mewujudkan generasi demikian perlu keterlibatan tripusat pendidikan. Orangtua di rumah, guru di sekolah sebagai wakil pemerintah, dan masyarakat perlu bahu-membahu dalam penguatan pendidikan karakter sesuai dengan amanat Perpres Nomor 87 Tahun 2017. Kajian akademik di luar negeri dan di dalam negeri menunjukkan keterlibatan orangtua dalam pendidikan anak berdampak positip terhadap prestasi anak di sekolah. Lebih tegas lagi kemitraan trisentra pendidikan diyakini memperkuat dan memperkokoh pilar pendidikan dalam mengembangkan olah otak (kecerdasan), olah hati (cinta, spiritual, dan empati), olahraga (otot dan fisik), dan olah rasa (keindahan).
Dalam konteks revolusi mentalnya Jokowi, pendidikan menjadi jantung utamanya dalam mengantisipasi berbagai kekerasan (ujaran kebencian, penistaan), penyalahgunaan narkoba, peredaran pornografi, tindakan amoral, dan berkembangnya paham radikal. Antisipasi terhadap ancaman itu pertama kali mulai ditumbuhkan dari keluarga, dikuatkan di sekolah, disuburkan di masyarakat. Dengan sinergi penguatan tripusat pendidikan harapan terwujudnya generasi emas akan tercapai dan pemahaman terhadap pendidikan menjadi lebih komprehesif. Gugatan orangtua terhadap program sekolah yang belum dipahami secara utuh perlahan akan mendapatkan solusi.
Gugatan itu tidak akan terjadi lagi seperti dialami Bu Wayan di SD yang dipimpinnya seiring dengan prestasi yang mulai bersinar. Kuncinya, terletak pada kepiawaian Bu Wayan berkomunikasi secara humanis. Selain mampu membungkam aktor antagonis dalam rapat, berhasil pula menyentuh hati para orangtua siswa untuk ikut bergerak dari kedalaman hati mencari solusi terhadap masalah sekolah. Di sini Bu Wayan juga telah melakukan kolaborasi untuk mengembangkan kreativitas di tengah wacana kritis yang berkembang di kalangan orangtua siswa.
Sejumlah pelajaran bisa dipetik dari rapat komite yang dilakukan di SD Bu Wayan dalam memajukan sekolah. Pertama, SD yang dipimpin Bu Wayan memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada peserta didik tanpa diskriminasi sesuai dengan undang-undang. Pasal 1 Permendiknas Nomor 70 Tahun 2009 menyebutkan pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan peserta didik pada umumnya. Landasan yuridis ini sejalan dengan prinsif demokrasi dalam dunia pendidikan. Siswa sebagai anak didik dipandang memiliki keunikan dan keunggulan berbeda-beda. Tugas guru di sekolah menggali potensi unggul itu untuk dikembangkan menjadi bintang yang bersinar.
Kedua, Bu Wayan selaku Kepala SD berhasil melibatkan orangtua untuk berpartisipasi memajukan sekolah. Walaupun orangtua siswa tidak tergolong kaya, tetapi niatnya memajukan sekolah dengan merangkul pihak ketiga patut diacungkan jempol. Pertanyaannya, mengapa pihak ketiga mau membantu ? Inilah berkah ikhlasan yang dijadikan pegangan oleh Bu Wayan dalam memberikan pelayanan kepada anak. Anak yang normal dilayani tanpa mengabaikan anak inklusi. Ia memperlakukan semua siswa tanpa diskriminasi dalam pelayanan. Gelombang pikiran positif mewarnai aura sekolah sehingga mampu bertengger di puncak prestasi.
Ketiga, Bu Wayan berhasil membumikan konsep trisentra pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Keterlibatan sekolah, orangtua, dan pemerintah menjadi keniscayaan yang tidak hanya diwacanakan, tetapi diaplikasikan dalam kenyataan sebagai satu kesatuan ekosistem pendidikan. Semua elemen dari ekositem itu dilibatkan dan diberdayakan sehingga semua berperan sesuai dengan kapasitas masing-masing untuk saling mendukung. Di sini Bu Wayan telah membumikan kembali gagasan besar Ki Hadjar Dewantara.
Keempat, Bu Wayan sebagai kepala sekolah berhasil mengeliminasi distorsi informasi yang sering membuat sekolah galau. Syukurnya distorsi itu muncul dalam rapat resmi komite sehingga segera kentara dan segera dicegah dampak buruknya. Pencerahan terhadap orangtua yang egois ingin hanya memenangkan anaknya tanpa rasa empati dan toleransi terhadap anak inklusi dapat dilakukan dengan gemilang. Dengan demikian, rapat komite telah mampu mengedukasi orangtua untuk ikut mengembangkan sekolah secara bersama-sama. Rapat Komite tidak hanya mencari solusi terhadap masalah anak di sekolah tetapi juga ajang silaturahmi sesama orangtua siswa untuk saling memahami dan saling menghargai untuk anak hebat. Anak hebat lahir dari orangtua terlibat.
Kelima, Bu Wayan berhasil mengubah pola pikir orangtua siswa dalam rapat komite sekolah. Biasanya setiap kali rapat komite sekolah, orangtua selalu berpikir bahwa urusannya uang sekolah anak-anak. Rapat komite yang dipimpin Bu Wayan berhasil membumikan bahwa urusan anak di sekolah adalah urusan cinta kasih yang tidak ternilai harganya. Bu Wayan telah berhasil mengimplementasikan baris cinta puisi Kahlil Gibran, ”Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang, Ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan.”
Pendidikan yang bersemi dalam iklim kasih sayang menempatkan nilai-nilai kemanusiaan di atas segala-galanya. Lebih-lebih di SD yang porsi pendidikannya lebih besar daripada pengajaran yaitu 60 : 40. Sebagai bagian dari pendidikan, pengajaran menjadi salah satu pilar yang memerlukan keterlibatan semua komponen dalam ekosistem pendidikan. Orangtua sebagai salah satu komponen wajib hukum terlibat dalam pendidikan anak karena anak hebat lahir dari orangtua terlibat.

I Nyoman Tingkat
Guru SMAN 1 Kuta Selatan

To Top