Kolom

G 30 S (3)

Sejumlah pemuda tiba-tiba masuk ke rumah Amat.
“Pak Amat! Tidak apa-apa?”
Amat terkejut.
“Lho, memang kenapa?”
“Ada info rumah Pak Amat diserbu anak-anaknya PKI!”
“Info dari siapa itu?”
“Pokoknya begitu infonya! Betul?”
Amat berpikir.
“Maksudnya anak-anak muda yang datang bertiga itu?”
Para pemuda itu berembuk mencocokkan informasinya..
“Jadi mereka bertiga Pak Amat?”
“Ya bertiga. Laki-laki dua perempuan satu.”
“Di luar berapa orang?”
“Kurang tahu, ya.”
“Paling tidak lima kali ada, ya, Pak Amat.”
“Ada yang bawa senjata?”
“Senjata apa?
“Senjata api atau senjata tajam.”
“O, tidak.”
“Palu-arit?”
“Tidak.”
“Bapak diancam?”
“Kenapa?”
“Karena kita dianggap menumpas orangtuanya tanpa melampaui keputusan peradilan. itu dianggap melawan HAM!”
“Tapi mereka juga kan suka meneror dan mengintimidasi kita lebih dahulu. Rumah saya dibakar karena tidak mau ikut mengganyang tuan tanah. Punggung saya dibacok. Lihat masih ada tanda matanya!”
Amat membuka baju menunjukkan bekas bacokan. Semua berdecak.
“Tapi Bapak jangan panik, kami akan menjaga Bapak. Tidak ada yang akan berani membacok, Bapak lagi!”
“Bapak tidak perlu dijaga.”
“Kalau orangnya kembali bagaimana?”
“Mereka tidak akan kembali.”
“Jangan menganggap mereka sepele, Pak. Mereka semua orang-orang militan, Pak.”
“Tapi dalam kasus Bapak ini ada perkecualian!”
“Perkecualian?”
“Ya! Mereka datang bukan mau protes atau nuntut keadilan Mereka datang untuk minta maaf!”
Semua tercengang.
“Minta maaf kepada siapa?”
“Kepada kita semua!”
“Masak? Cantik nian itu!”
“Lho sebagai orang yang beradab. Kalau ada orang minta maaf, Bapak jadi ikut latah minta maaf.”
Semua terkejut.
“Ah? Yang bener aja! Masak Bapak, orang yang kami tuakan sekaligus kami junjung tinggi. Sudah minta maaf pada anak-anak Gestapu yang mau menimbun mayat kita ke sumur tua?! Nggak salah itu Pak Amat?”
“Begini. Sejarah itu tak boleh dipotong-potong.hanya yang menguntungkan dan kita sukai yang dilestarikan, sisanya dibuang ke kotak sampah! Itu namanya korupsi dan seenak perut sendiri. Tapi sebaliknya, sejarah juga tidak boleh ditambah-tambah biar serem dan memuliakan kita! Itu juga sama saja: korupsi dan kriminal. Nah sejarah adalah cermin ke masa lalu, bekal untuk merajut masa depan. Bukan masa depan itu sendiri. Jadi…
Ketiga pemuda-pemudi itu muncul lagi. Kini disertai ibu mereka.
“Selamat malam semua. Malam Pak Amat dan para pemuda. Ini ibu kami yang ingin bertemu dengan Pak Amat.”
“Ibu ingin mengucapkan terimakasih atas perlakuan bapak yang bijaksana dan mengharukan itu, sehingga ibu seperti bangkit lagi hasrat hidupnya. Setelah puluhan tahun hanya tergolek di tempat tidur tak berdaya, ibu tiba-tiba mampu berdiri lagi.”
“Ya, kebetulan kita bertemu semua di sini. Sekalian kami mohon diizinkan, kami minta maaf atas kekhilafan bapak dan kakek kami.”
“Betul, Pak Amat. Saya bermimpi semalam ketemu bapaknya anak-anak dan Bapak saya. Dia menyuruh sata harus datang ke Pak Amat meminta ampunan atas kekhilafannya di masa lalu. Saya….”
Perempuan itu tak mampu melanjutkan. Ia menangis dan hampir ambruk. Untung anak-anaknya sempat menggapai. Amat jadi ikut repot mengambil bantal. Sementara para pemuda, diam-diam satu per satu pergi. Muka mereka nampak tegang.

To Top