Sosialita

Sri Sumahardani : Awali Hari dengan Senyum

Keterampilan melayani yang sempurna menjadi syarat utama di era persaingan bisnis yang tinggi. Pelayanan juga salah satu kunci suksesnya bisnis. Dunia layanan pun disebut sebagai ujung tombak dari hampir semua bisnis. Isu-isu pelayanan inilah yang tergambar saat acara “Tie Break #2 with Sri Sumahardani & Book Launch”, Selasa (10/10) di Hotel Neo, Denpasar.
Pada acara yang dihadiri oleh guru dan Ketua dan anggota Asosiasi Manajeman Indonesia Chapter (AMA) Bali, Owner dan Top Leader Uci Silver, Sang Coach I Nyoman Sukadana, dan pemilik usaha serta pimpinan instansi/perusahaan yang pernah bekerjasama, Direktur Sri Sumahardani Academy Eko Juriarto, mengatakan bahwa “Tie Break” adalah acara tahunan. Apresiasi terhadap para klien Sri Sumahardani Academy periode 1 tahun kebelakang, dan mengundang sekitar 125 perusahaan/instansi yang telah bekerja sama dalam pengembangan SDM berupa pelatihan seperti IHT, workshop, seminar, consulting hingga outing.
Dikatakan oleh Eko, “Tie Break” diadopsi dari istilah olah raga tenis, yang dalam dunia bisnis , diumpamakan seperti set ke- dua akhir penentuan dalam sebuah pencapaian target. “Tea Break” ini juga katanya diartikan sebagai. “Mari kita longgarkan dasi sejenak, agar tidak sesak nafas menghadapi tekanan tuntutan dalam pekerjaan”. Selanjutnya hadir juga teman sekolahnya Sri Sumahardani yakni Hary Angligan yang menambah warna acara itu dengan sharing cerita seru dan menarik disertai tips yang bermanfaat dari pengalaman kerjanya .
Selanjutnya hadir di panggung sang penulis buku, yakni Sri Sumahardani yang juga dikenal dengan julukan Sang Penyihir”. Perempuan satu ini, oleh teman-temannya yang memberi ulasan dalam bukunya, disebut sebagai seorang praktisi yang sekaligus berbakat mengajar. Sosok ini juga dikenal sebagai pribadi pembelajar, energik namun tetap rendah hati. Dengan pengalaman dan jam terbang yang dimilikinya ia berhasil menyederhanakan hal yang kompleks menjadi formula sukses yang simpel dan menarik.
Perempuan kelahiran Singaraja 4 September 1969, yang saat ini juga tercatat bukan hanya seorang public speaker tapi juga dosen, konsultan dan
penulis tentang teori layanan dan aplikasinya Dhanis Art In Service di Mingguan Tokoh ini berhasil meluncurkan bukunya yang diberi judul Service A La Carte

Dikisahkannya bukunya terbit efek dari saat mengajar, mereka yang membaca tulisannya seringkali tertinggal atau terlewatkan dan memintanya untuk membukukan tulisannya yang selama ini menjadi bahan briefing atau meeting pagi di industri atau bisnis bidang jasa untuk memulai layanan mereka. Hal inilah yang mendorong saya untuk menjadikan buku “Service A La Carte sehingga semua orang yang pernah mengundang kami selama ini juga bisa menerima perjalanan seorang” Service Excellent Expert” ini, kata Sri Sumahardani sembari mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang membantu hingga jadilah buku Service A La Carte tersebut.
Mengenai judul buku disebut “A La Carte” , Sri Sumahardani mengatakan artinya siapapun yang membaca bukunya tidak perlu dari awal atau halaman pertama. Namun, bacalah mana yang penting dan relevan dengan situasi kondisi kita saat itu. Sama seperti saat di restoran jika memesan menun A la Carte artinya menunya dihidangkan hanya yang di pesan itu saja, ujarnya.

Selanjutnya Sri Sumahardani juga mengupas beberapa poin dari isi bukunya. bukunya. Mulai dari A la Carte ke 1 yang mengupas bahwa senyum adalah sihir yang halal. Di sini ia sedikit bernostalgia. Betapa dengan modal tersenyum ia berhasil “mencuri” start dalam sebuah lomba nyanyi. Dalam tulisannya juga ia menyampaikan tentang mengawali hari dengan tersenyum. Senyum adalah gerakan refleksi yang dibiasakan dan senyum adalah lengkungan yang meluruskan banyak masalah.

Berikutnya Sri Sumahardani yang memiliki pengalaman di dunia perbankan lebih dari 25 tahun ini, menyinggung A La Carte yang ke 10, tentang “Mantra Sang Penyihir Bahwa seorang pelayan, pelaku layanan harus memiliki mantra .
Disebutnya kalau mantranya berbentuk pujian yakni memuji orang lain
Dengan membiasakannya setiap kali bertemu orang lain

Sri Sumahardani pun melanjutnya dengan menyinggung A La Carte ke 11 perihal Bullying Berantai yang memang seringkali terjadi.”Pembullyan yang berakar sangat sering terjadi dan di lakukan oleh pelaku pelayanan. Bulying juga seringkali mulai dari pimpinan yang membuly bawahannya. Selain itu banyak pimpinan yang meminta bawahannya agar memberikan pelayanan yang baik pada customer -nya namun sang pimpinan sendiri tidak bisa melayani dengan baik customer internalnya, tutur Juara Bintang Radio tahun 1990-an ini.

Perempuan Inspiratif Tokoh tahun 2016 ini juga menyinggung kondisi layanan saat ini. Sebagai prtaktisi pelayanan ia menyatakan ada yang sangat menurun namun ada juga yang jauh meningkatnya. Banyak yang berusaha meningkatkan penjualannya dengan cara melayani, utamanya pada usaha yang kecil.
Namun, usaha yang besar , seperti BUMN dan hotel bintang lima justru menurun. Sebab menurut pengamatannya kebanyakan mereka melayani hanya sesuai dengan SOP.
Sementara service excellent, katanya tidak hanya mengacu pada standar layanan yang benar. Mereka yang melaksanakannya sebatas SOP hanya sebagai robot.
Pentingnya pelayanan dengan seorang pimpinanannya sebagai model dan melakukannya secara konsisten.

“Dengan adanya buku Service “A La Carte bisa menjadi referensi jika kita berbicara tentang service mengingat langkanya buku yang mengupas tentang service atau pelayanan ini. Buku ini juga bisa bermanfaat dan berkontribusi bagi kelangsungan usaha mereka yang membacanya. Semoga semua perkembangan bisnis di Bsali akan menjadi lebih hebat lagi, sebab ujung-ujungnya semua mengacu pada layanan, tandasnya. ( Sri Ardhini)

To Top