Sosialita

Ayu Saraswati: Belajar dari Wayang

Tampil maksimal dalam segala kegiatan merupakan keharusan baginya. Apapun yang dikerjakan harus tuntas. Tipikal pekerja keras ini sudah melekat dalam diri Ayu Saraswati, perempuan Bali yang multitalenta. Bahkan ia mengaku stres kalau tidak diberi pekerjaan.
Perbincangan dengan pemilik nama lengkap Ni Wayan Ayu Yuliani berlangsung usai ia dan timnya mengunjungi dan memberi bantuan kepada pengungsi erupsi Gunung Agung di kecamatan Tejakula, Buleleng, Jumat (6/10).
“Saya kagum dengan solidaritas masyarakat Bali. Para pengungsi diterima dengan baik layaknya saudara. Semua didata agar memudahkan distribusi bantuan. Nama pengungsi, pekerjaan pun didata. Distribusi bantuan dikelola pihak banjar dengan sistem piket. Teman yang dari Jakarta yang ikut mengunjungi pengungsi juga salut melihat kebersamaan dan kesolidan masyarakat Bali,” ungkap Ayu.
Ia menuturkan apa yang dialami masyarakat pengungsi dari sekitar Gunung Agung membuatnya bernostalgia dengan masa lalu. Ayu memulai kariernya sebagai penyiar di Radio Suara Widya Besakih tahun 1997. Pilihannya untuk menjadi penyiar di Bumi Lahar sempat ditentang sang ibu. Alasannya, jarak Denpasar-Karangasem cukup jauh.
Suatu ketika, Ayu yang lahir bertepatan dengan Hari Raya Saraswati ini sakit cacar. Sang ibu menangis ketika mendapat kabar, putri sulungnya sakit langsung ke Karangasem menjemput. “Saya dipulangkan paksa. Masih dalam kondisi cacar, akhirnya saya pulang ke Sidakarya. Tapi, jiwa penyiar saya sedang menggelora. Akhirnya dari SWiB saya pindah ke Radio AR biar lebih dekat dari rumah,” kenang putri pasangan I Made Dendi- Ni Wayan Rabin ini.
Perjalanan sebagai penyiar radio terus berlanjut. Dari Radio AR, Ayu pindah ke Pro 2 FM lalu ke Radio Pak Oles FM hingga 2009. Selain menjadi penyiar, alumnus SMEA Negeri Denpasar ini juga menjadi akunting di peruasahaan milik orang Taiwan. Pagi sampai sore sebagai akunting, sore sampai malam siaran.
Ketika mulai masuk Krisna Group tahun 2009, ia melepaskan diri dari aktivitas siaran. “Dunia siaran yang membuat saya masuk ke dunia nyanyi. Saya pertama kali nyanyi sama Intan Dewata Record tahun1997, di Taro. Ceritanya, mbok Dek Jun pemilik Intan Dewata Record mendengar suara saya saat siaran. Saya dicari, dibawakan lagu dan gitar. Karakter suara saya dibilang seksi. Lagu “Megantung tanpa Cantel” dibuatkan khusus untuk saya. Akhirnya jadilah saya penyanyi,” ujar Ayu yang sudah menghasilkan album solo berjudul “Sing Bani Mati” ini.
Lagu-lagu lain pun mulai ia nyanyikan, di antaranya “Duka Lara”, “Mebunga-bunga”. Perempuan kelahiran 27 Mei 1979 ini juga duet dengan Eka Jaya dan Raka Sidan. Prestasinya di dunia tarik suara membuat ia mengoleksi berbagai penghargaan dari Gita Denpost Award dan Bali Music Award. Raihan prestasinya ini mengingatkan ketika ia pernah ditanya gurunya saat SMP. “Saya bercita-cita jadi penyanyi. Guru dan teman-teman saya ketawa. Saya bersikukuh ingin jadi penyanyi. Maunya bilang artis, biar sekalian. Ternyata apa yang saya cita-citakan terwujud,” ujar artis yang juga kerap menjadi MC ini. Pengalamannya menjadi MC bahkan mengantarnya bisa bekerja sama dengan MC kondang seperti Choky Sitohang dam Raffi Ahmad.

KENAL WAYANG SEJAK KECIL
Sosok Ayu Saraswati yang multitalenta ini juga dikenal sebagai dalang. “Saya maunya masuk SMKI tetapi karena jauh akhirnya milih SMEA yang dekat rumah. Tetapi, jiwa seni saya tak terbendung. Kuliah pun saya ambil Jurusan Pedalangan di ISI Denpasar,” ujar sinden dari grup wayang Ceng Blong ini.
Ayu mengenal wayang sejak kecil. Ia sering diajak kakeknya, Ketut Renduh untuk nonton wayang. Pesan yang selalu disampaikan kakeknya adalah, menonton wayang membuat kita pintar karena banyak filosofi yang disampaikan. Karena sudah terbiasa, Ayu pun mencintai dunia pewayangan. Baginya wayang itu merupakan bayangan dari kehidupan. Orang pun bisa mereka-reka apa yang bisa terjadi dalam kehidupan ini.
Ia pun mendapat pelajaran, dalang adalah orang yang luar biasa. Dalang ibarat sutradara yang mengatur lakon dari awal sampai akhir. Manajemen pertunjukkan harus dikuasai. Siapa yang akan dimainkan, apa perannya, bagaimana dialognya, dan bagaimana penataan wayang setelah pentas. Dalang juga harus hapal cerita dan siap lahir batin. “Apa yang saya dapatkan di dunia pedalangan bisa saya terapkan di perusahaan. Ajik Cok mempercayakan saya untuk menjadi Operational Manager Krisna Holding Company. Ini tanggung jawab besar yang harus dilakoni,” ujar Ayu.
Ketika harus memilih, sebagai penyanyi atau dalang, Ayu mengatakan pilih menyanyi. Sebagai dalang wanita, ada hal yang tak bisa dihindari, misalnya saat datang bulan. Karena itu, ia cukup selektif ketika ada yang nanggap dirinya untuk mendalang. Ayu juga menceritakan pengalaman pertama kali mendalang di Puri Satria. Ia sempat nervous tetapi akhirnya bisa menuntaskan tugasnya.
Sebagai penyanyi pun kadang ia selektif. Padatnya jadwal kerja membuat ia hanya bisa menyanyi di sekitaran Denpasar. “Saya ingin tampil maksimal dan tak mau mengecewakan pengundang. Kalau waktunya cocok dan jaraknya dekat, saya mau,” ujar Ayu.
Darah seni perempuan yang aktif di kegiatan sosial ini ternyata menurun pada putranya, Sathya Saskara. Buah hatinya ini les gender, les gitar dan sudah punya video klip lagu “Aku Indonesia” yang diciptakan Lanang “Mr. Botax”. Ayu mengaku tidak memaksakan anaknya menjadi musisi atau artis. Ia malah ingin anaknya menjadi dokter yang memiliki jiwa seni.
“Karena jadwal kerja saya padat, jadwal sekolah anak juga padat, saya selalu berusaha membuat quality time dengan anak. Kalau di rumah, ponsel saya matikan. Saya bercanda dengan anak. Kalau ada liburan, kami pergi berlibur. Tidak hanya dengan anak. Keluarga besar pun saya ajak jalan-jalan. Saya selalu berpesan kepada yang muda-muda, hormati orangtua. Jangan sia-siakan kesempatan melayani orangtua agar tidak menyesal di kemudian hari,” tegas Ayu. (Ngurah Budi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

code

Paling Populer

To Top