Kolom

Batik Makin Dieksplorasi dan Makin Aksi

Dyahtri. N.W. Astuti

Tak ada di antara kita yang tidak kenal batik. Karena secara tidak langsung batik telah diperkenalkan dan dipakai sejak usia dini. Selain digunakan sebagai pakaian seragam batik juga jadi alternatif termudah dan aman yang dipilih jika seseorang sedang bingung akan menghadiri suatu acara/resepsi, ketika penyelenggara tidak mencantumkan “dress-code”.
Patut disyukuri bahwa sejak 2 Oktober 2009 yang lalu, UNESCO telah menetapkan batik sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Non Bendawi (Masterpiece of the Oral and Heritage of Humanity ) milik bangsa Indonesia. Tanggal tersebutlah yang kini diperingati sebagai Hari batik Nasional.

Perkembangan Teknik Batik
Secara etimologis, batik berasal dari bahasa Jawa, “tik“ yang berarti titik/matik (membuat titik ) yang kemudian berkembang jadi istilah batik. Menurut kamus wikipedia orang, batik adalah kain bergambar yang pembuatannya secara khusus dengan menuliskan atau menerakan malam (semacam lilin ) pada kain, kemudian pengolahannya diproses secara tertentu yang memiliki ke-khasan.
Dari penelitian arkeolog akan sejarah, diketahui batik ada sejak zaman Majapahit dan menjadi popular hingga akhir abad ke-19. Saat itu semua batik dikerjakan secara manual sehingga disebut batik tulis.Setelah era Perang Dunia I, sekitar tahun 1920-an muncul: batik cap, sesuai dengan proses pembuatannya. Pembuatan batik cap tentunya membuat efisiensi di segala sektor baik waktu, tenaga juga biaya.
Pertengahan 1960-1970 an teknik “ hand print “ sablon menambah proses produksi batik. Hand print memakai tinta cetak “water base“ yang jauh lebih murah dan dapat diproduksi dalam jumlah besar. Walau efisien diberbagai segi, batik printing dianggap kurang estetis dan bernilai.
Keadaan sedikit berubah saat “ producer meet artist “. Seniman-seniman batik muncul dengan ide baru. Awal 1980-an muncul “ batik colet “. Proses batik cap diselesaikan dengan pewarnaan menggunakan kuas, satu demi satu motif oleh sang artis. Sentuhan artistik secara manual ini membuat nilai estetik batik membatik. Demikian pula pada tahun-tahun berikutnya ditemukan teknik prada (emas dan perak) serta teknik “ air brush “.

Geger “Batik Cina”
Dua dasa warsa terakhir pasar tekstil nasional heboh dengan serbuan batik cina. Produsen tekstil negeri tirai bambu itu ternyata lebih jeli melihat peluang pasar batik di Indonesia. Jadilah kain batik dengan warna-warni cantik menyerbu pasar domestik dengan harga menarik Masyarakat awam yang hampir tidak tahu “kain batik“ yang sebenarnya dan yang mana “kain motif batik“ inilah yang jadi sasaran.
Selama ini kain batik di Indonesia diproduksi diatas bahan serat alam, seperti : sutera, katun, mori halus, linen dan rayon (campuran serat alam lainnya). Sedangkan “batik cina“ ini diproduksi diatas semua jenis kain yang selama ini “dianggap tabu“ oleh produsen batik Indonesia. Batik mereka umumnya diproduksi memakai bahan yang tidak menyerap air dengan baik, tapi tampilannya bagus. Masyarakat pun terpincut dengan warna dan motif sering menomorduakan kenyamanan.
Karena ekspansi batik cina, akhirnya produsen batik printing domestik pun menggeliat bangkit. Mereka turut meramaikan kancah perang pasar dan batik print dalam rangka merebut posisi untuk jadi “tuan rumah di negeri sendiri“. Skalanya bukan lagi pengusaha “hand print” tapi perusahaan dan pabrik yang mesin printingnya sekaligus menghasilkan ribuan yard.

Eksplorasi Motif dan Warna
Ada istilah motif batik klasik,yaitu motif kuno yang turun temurun telah dibuat oleh nenek moyang kita yang mengandung falsafah dan filosofi kehidupan. Transmigrasi dan penyebaran penduduk pulau Jawa ke seluruh pelosok negeri juga berandil besar dalam pengembangan motif batik. Meraka yang berprofesi sebagai perajin batik menggarap ragam hias dari unsur budaya setempat yang juga mengandung filosofi dan kearifan budayanya. Sekarang telah ada batik Jambi, batik Palembang, batik Lampung, batik Bali, batik Kaltim, batik Sulut bahkan batik Papua. Batik telah dieksplorasi menggunakan ragam hias daerah-daerah lain.
Kalau sebelumnya nama-nama besar seperti Batik Semar, Batik Danar Hadi, Batik Keris, Batik Kencana Wungu dan Batik Parang Kencana hingga Iwan Tirta telah lama berjaya di dunia perbatikan, sejak tahun 1990- an puluhan bahkan ratusan nama rumah batik dan desainer batik bermunculan. Semua menggarap ragam hias batik dengan ciri khas masing-masing.
Desainer-desainer dan rumah batik baru ini lebih berani bereksplorasi dalam motif dan warna. Mereka mencoba warna-warna cerah untuk menarik perhatian segmen market yang lebih mudah dan fleksibel terhadap order. Misalnya saja menerapkan warna-warna pastel dan motif yang lebih kecil untuk pangsa pasar dari Jepang dan sebagian negara-negara Eropa yang lebih menyukai motih batik tidak penuh dengan warna sesuai dengan trend musim negeri mereka. Tidak hanya Van Notten, beberapa fashion designer ternama Eropa juga memasukkan beberapa moltif batik dalam rangkaian koleksinya. Misalnya Castelbajag, Marni dan Prada.

Eksplorasi Target
Dulu ada anggapan “baju batik adalah baju orang tua“ sekarang tidak lagi. Dalam tiga dekade terakhir, istilah tersebut telah berubah. Apalagi kalau bukan karena promosi. Sekali lagi “promotion is biggest power “. Tak dana promosi yang digelontarkan oleh para penyandang nama besar produsen batik, dimana pemerintah pun ambil bagian dalam rupa pesan layanan masyarakat untuk cinta produksi dalam negeri.
Beberapa nama besar merek batik telah berani mematok foto model ternama dari usia anak-anak hingga dewasa sebagai “duta“ produk. Tentu saja dimana pun model tersebut berada, nama produsen/merek batik itu tak lupa ia gaungkan. Eksistensi model sebagai publik figur sangat berpengaruh terhadap raihan angka target. Selain itu event Beauty Pageant juga dianggap sebagai sarana tepat promosi, karena batik selalu di tampilkan dan ambil peranan dalam kostum mereka.

Eksplorasi Objek
Mula pertama, batik dikenal sebagai produk sandang, untuk “jarit“ kain bawahan setelan kebaya wanita Jawa/Sunda. Lalu berkembang menjadi busana pria, wanita, anak-anak, selendang scarf, kerudung, dasi, dll. Lalu ekspansi ke kain-kain rumah tangga taplak meja, sprei, bed cover, kain interior, home decoration seperti kap lampu, sofa, horden dan lukisan.
Barang-barang untuk berpergian seperti travelling bag, ransel, aneka tas hingga pouch tempat kosmetik. Umumnya semua dibuat dengan teknik batik cap atau printing. Motif batik merambah lebih luas lagi hingga stasionery. Saat ini dengan mudah dijumpai map, paper bag, amplop, kotak pensil hingga pulpen motif batik.
Dengan kata lain produsen mencari-cari objek apa lagi yang bisa di “batik“ in. Sekarang souvenir-souvenir dari kayu pun sudah banyak yang dihias dengan motif batik. Kotak tisu kayu, peralatan makan, hingga kelorn. Motif batik tidak lagi hanya di atas tekstil, tapi booming diatas berbagai produk.
Sebagai salah satu pernyataan cinta akan aset bangsa yang satu ini, tak pelak sebuah maskapai penerbangan swasta nasional yang beroperasi sejak 3 Mei 2013 menggunakan nama Batik Airlines. Pada bagian ekor tiap pesawat udara bermotif batik. Pramugarinya juga anggun dalam balutan kebaya putih dan rok panjang bersilvet “ jarit” warna maroon bulgundy.
Melihat perkembangan perjalanan panjang batik di negara kita, tak berlebihan bila bisa disimpulkan bahwa batik (dan motif batik ) telah menjadi aset bangsa yang dicintai dan dibanggakan oleh masyarakatnya. Perjuangan untuk mendapatkan pengakuan dari UNESCO adalah salah satu bukti.
Tugas kita sekarang adalah memelihara dan tetap mengembangkan batik agar tetap di hati masyarakat Indonesia dan makin melebarkan sayap hingga terkenal dan di terima mancanegara.

Selamat Hari Batik Nasional !

Dyahtri. N.W. Astuti
Fashion Writer & Illustrator
Papercrafter

To Top