Kolom

G.30 S. (2)

Bu Amat terkejut.
“Bapak ternganga?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Karena biasanya anak-anak yang tidak mengalami sejarah sebelum 1965 itu, perilakunya kan sengit. Galak, meradang, menerjang seperti anjing gila, semua mau digigit untuk melampiaskan amarahnya, karena mereka yakin sudah dizolimi oleh bangsanya sendiri di tanah airnya sendiri. Tetapi mereka bertiga itu beda. Anak-anak muda itu kelihatan terdidik, cerdas, sopan serta sama sekali tak beringas, jauh dari sifat bermusuhan. Tak ada dendam, kecewa atau sinis. Mereka dengan sederhana dan rendah hati minta maaf. Aduh, dewa ratu! Orangtua mana yang tak akan luluh perasaannya, melihat perangai anak muda yang betul-betul bijak itu. Bapak jadi nelongso!”
“Kenapa harus nelongso?”
“Sebab awalnya Bapak sudah menyimpan kecurigaan yang tak masuk akal! Amarah Bapak yang hampir meledak, karena sejarah sudah diceritakan terpotong-potong menurut kepentingan penuturnya, seketika lenyap. Bahkan Bapak jadi langsung larut dalam kesedihan mereka!”
“Kesedihan apa?”
“Bapak tanyai mereka siapa Bapaknya. Ibu pasti akan terkejut kalau waktu itu ikut mendengar?”
“Siapa?”
“Pak Jendra!”
Bu Amat nyaris memekik.
“Pak Jendra, aktivis partai yang mendalangi pembakaran rumah kita dan membacok punggung Bapak itu?”
“Betul! Jendra itu! Di masa penumpasan dia balik langkah membantu menunjukkan siapa-siapa yang harus ditumpas, untuk menyelamatkan dirinya. Hampir saja ia salah tunjuk menuding kita. Bapak terpaksa buka kartunya. Dan pagi itu juga para pemuda menyelesaikannya. Begitulah. Akhirnya setelah anak-anak Jendra itu minta maaf, Bapak kemudian juga minta maaf. Nah di situ kemudian giliran anak-anak itu yang ternganga, bengong, tak percaya Bapak kok minta maaf.”
Air mata Amat tak terbendung lagi. Ia menangis, ingat pernah mengalami persahabatan yang sejati dengan Jendra.
Jendra adalah anak Pak Mandra. Seorang panutan masyarakat yang banyak perhatiannya pada kegiatan sosial. Dia pakar desa yang dihormati. Tetapi sejak masuk partai kelakuannya jadi berbeda. Ia sangat kritis terhadap semua kebijakan Pemda.
Mandra kemudian direkrut partai menduduki jabatan penting partai di Jakarta.
Sejak itu ia seperti orang hilang. Tapi semua tahu seluruh sepak-terjangnya terbaca pada benturan-benturan, pembakaran, penebangan hutan, pengacauan pembagian air pada subak, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa itu membuat masyarakat merasa hidup tak lagi aman kalau tak memasang lambang partai di depan rumah mereka.
“Akhirnya setelah mereka minta maaf, Bapak juga minta maaf. Mereka menangis tersedu-sedu karena maaf Bapak itu. Belum pernah ada orang minta maaf kepada kami, kata mereka. Akan saya sampaikan ini pada ibu. Terima kasih Pak Amat yang tidak memperlakukan kami sebagai anjing gila, tapi sebagai manusia utuh sama dengan orang lain., karena kami anak Bapak juga.”

To Top