Surabaya

Saiful Yatim: Ekspresi Ruang tanpa Batas

Lukisan bernuansa kontemporer menggambarkan simbol wajah-wajah menawan menarik perhatian. Perempuan dalam satu frame dengan dua mimik berbeda “My Oh My”, dan lukisan lain memunculkan “Liquid Faces From West Borneo”, bayi Borneo yang tak lain adalah cucu kesayangan sang pelukis, Saiful Yatim. Lukisan tersebut berhasil masuk dalam deretan nominasi “World Contemporary Artist” di Hong Kong.
“Terinspirasi dari wajah cucu saya yang berada di Kalimantan. Makanya banyak paduan ornamen Kalimantan di lukisan ini. Kadang saya juga keluar dari kaidah lukis, biarkan saja, it’s mine,” ujar Saiful Yatim.
Karya guru SMAN 3 Jember ini berada di antara 20 karya seniman lukis Indonesia, yang tampil dalam pameran seni rupa bertajuk “Senyawa Warna”, di Galeri Prabangkara UPT Taman Budaya Jawa Timur (TBJT), sepanjang 26 – 30 September 2017.
“Baru saja ikut kontes lukisan di “World Contemporary Artists”, yang masuk Liquid Faces from West Borneo. Tinggal nunggu pengumuman bulan depan,” ujar pria kelahiran Jember, 27 Juni 1960 ini.
Saiful Yatim nampak antusias menceritakan “Wajah-wajah cair dari Borneo Barat”, seperti sebuah cinta dan kerinduan yang meluap pada cucu tercintanya. Bagaimana ia menggambar ekspresi demi ekspresi, mengantar sebuah harapan pada ruang tanpa batas. Perpaduan warna, campuran goresan dan gesekan memancarkan harmoni, keselarasan serta keindahan tersendiri.
Ia mengaku tersanjung bisa turut serta membawa dua karya istimewanya pada pameran kali ini. Terlebih ia bisa pameran bersama siswanya, Yudi Hariyanto yang mengusung lukisan berjudul “Jowo Kuno”.
“Seorang guru yang mau pensiun merasa tersanjung bisa pameran bareng siswanya, yang juga berprofesi sebagai guru seni budaya (Yudi Hariyanto),” imbuh alumni Pendidikan Seni Rupa IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) tersebut.
Sebuah kebanggaan tersendiri ada estafet pewarisan. Hampir empat tahun sang murid menemani Saiful Yatim pameran, kecuali yang bersifat thematik maupun konsep. Menurut Saiful, sains, knowledge (pengetahuan) bahkan skillnya sudah melewati sang guru.
“Hampir empat tahun terakhir dia menemaniku pameran kecuali bersifat thematik atau konsep bisa kita tertinggal satu atau dua event. Aku juga nunggu salah satu murid yang mengikuti jejak belajarku di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), tinggal tugas pameran tunggal, syukur bisa menggantikan tugasku di SMA 3 Jember,” doanya.
Jika dikilas balik, melukis adalah obsesi Saiful Yatim yang terbentuk sejak kecil. Bahkan ia nekat kuliah ke Yogyakarta waktu itu, dan harus rela meninggalkan sang ibunda.
“Asli nekat karena, ya nekad rasanya berat bagi ibu. Namaku Yatim, karena bapak pulang ke Rahmatullah sejak ibu hamil 3 bulan,” ceritanya mengenang.
Bagi Saiful Yatim, melukis adalah dunianya. Namun ia juga memiliki kemampuan membatik yang kini menjadi brand batik Jember, kelak akan ia wariskan kepada murid – muridnya di SMAN 3 Jember. Tidak main – main, Saiful telah memiliki tiga orang siswa dengan hak cipta desain batik mereka sendiri.
“Pokoknya nglukis dan nglukis, sempat diajari membatik oleh teman sekuliahan, dan monggo buka Youtube batik Jember Indonesia, itu brand kami. Artinya brand yang bakal saya wariskan ke SMAN 3 Jember,” jelasnya.
Sederetan pameran pernah diikuti oleh bapak empat orang putra ini. Mulai Pameran Komunitas Perupa Jawa Timur (Koperjati) di Galeri House of Sampoerna, Koperjati di Griya Seni Popo Iskandar Bandung, The Creative Power Art di Taman Budaya Yogyakarta (2016), Koperjati Contemporary Galeri Yogyakarta, Festival Seni Internasional PATK Seni Budaya Yogyakarta (2016), hingga Koperjati Texas Dallas USA di Artists Show Place Gallery (2017). Serta masih banyak lagi rangkaian pameran lainnya.
Dibalik itu, prestasi kedinasan sebagai instruktur nasional mata pelajaran seni dan budaya pernah diraih oleh Saiful Yatim. Jajaran 50 guru seni budaya dalam festival seni internasional di P4TK Yogyakarta, big four desain batik Jatim oleh Disperindag (2013) serta nominator 10 besar desain batik Disperindag Jatim (2015).(Lely Yuana)

To Top