Edukasi

Pengungsi Pelajar Diterima tanpa Syarat di Sekolah Terdekat

Drs. Gede Suyasa, M.Pd.

Peningkatan status Gunung Agung dari level siaga ke level awas membuat seluruh warga yang berada di zona merah harus dievakuasi. Masyarakat yang tinggal dalam radius 12 km dari kawah Gunung Agung terpaksa mengungsi ke beberapa wilayah di Bali yang dinyatakan aman dari bahaya erupsi. Salah satu kabupaten yang menjadi tempat pengungsian warga Karangasem adalah Buleleng. Dari beberapa titik yang menjadi tempat pengungsian di Buleeng, ada dua titik yang menjadi pusat pos pengungsia, yaitu di Desa Lesa dan Desa Tembok di kecamatan Tejakula.
Atas kondisi tersebut, pemerintah Kabupaten Buleleng telah mengkoordinasikan kondisi saat ini bersama OPD dan stakeholder terkait. Hal ini mengingat pengungsian ini akan berlangsung dalam waktu lama dan jumlahnya akan terus meningkat. Koordinasi diperlukan untuk penanganan yang lebih komprehensif.
Salah satunya dengan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) Kabupaten Buleleng terkait dengan pengungsi yang berstatus sebagai pelajar. Ketika ditemui disela-sela rapat koordinasi di Rumah Jabatan Bupati, Jumat (22/09) Gede Suyasa mengungkapkan akan segera berkoordinasi dengan Kepala Unit Pelaksana Pendidikan Kecamatan Tejakula. Menurutnya pengungsi yang berstatus pejar jenjang SD dan SMP akan mulai belajar pada Senin (25/9) lalu.
Dikonfirmasi kembali, berdasarkan hasil pendataan, terdapat 439 siswa dengan rincian jenjang SD sebanyak 291, SMP sebanyk 102 dan SMK sebanyak 46 siswa yang harus mendapatkan pelayanan pendidikan di pengungsian. Bahkan beradasarkan hasil rapat dengan Kepala Unit Pelayanan Pendidikan Kecamatan Tejakula, semua kepala sekolah siap untuk menampung para siswa tersebut.
Berdasarkan hasil rapat dengan Kepala UPP Tejakula, pihaknya menginstruksikan seluruh kepala sekolah baik jenjang SD, SMP, SMA/SMK terdekat untuk menerima para siswa yang berstatus pelajar tanpa syarat. “Saya sudah rapat dengan KUPP, bahwa ada 439 nama yang ada di pengungsian harus mendapatkan pelayanan pendidikan yang tersebar di empat Desa yakni Les, Tembok, Sambirenteng dan Penuktukan. Kemudian mendata sekaligus memetakan bahwa mereka besok akan diterima di sekolah. Dan masuknya tanpa syarat, tak meski pakai sepatu, pakaian maupun buku” ujar Suyasa.
Selain pendidikan secara formal, Disdikpora Buleleng juga mengerahkan guru TK untuk menghibur anak-anak usia Paud. Nantinya setiap posko pengungsian akan diisi oleh guru TK per hari. Mereka akan ditugaskan untuk menggugah semangat anak-anak.”Kita juga tugaskan guru konseling untuk memotivasi anak-anak. Karena guru konseling kan belajar psikologi. Jadi itu bagus untuk membangun motivasi mereka” terangnya.
Suyasa menegaskan status siswa yang belajar di sekolah-sekolah terdekat di Tejakula hanya sebagai siswa titipan. Jika pengungsian berlangsung lama, ia menghimbau agar pemerintah Karangasem bersedia memutasi anak-anak didiknya. Mengingat beberapa bulan lagi merupakan pergantian semester, jika status siswa hanya titipan pihaknya tidak bisa membantu dalam hal administrasi. “Kalau statusnya menitipkan kami tidak bisa membantu dalam adminstrasi nanti, jika waktu pengungsian lama sebaiknya dimutasi agar ketika pergantian semester kami bisa buatkan raport. Setelah pengungsian berakhir kalau memang mau kembali lagi ke Karangasem tidak menjadi masalah,” pungkasnya. Wiwin Meliana

To Top