Dara

Seniman Buleleng Peduli Pengungsi Gunung Agung

Sejak ditetapkan di level awas, warga yang berada di radius 12 km dari Gunung Agung mulai mengungsi ke beberapa tempat yang dinyatakan aman. Ribuan warga Karangasem juga mengungsi dikawasan Desa Les dan Desa Tembok Kecamatan Tejakula, Buleleng. Banyaknya jumlah pengungsi di Buleleng bagian timur itu tidak saja menjadi perhatian pemerintah daerah, bahkan berbagai elemen masyarakat juga turut berpartisipasi untuk meringankan beban saudara-saudara dari Karangasem.
Mulai dari organisasi-organisasi di daerah, perusahaan, pihak swasta, masyarakat biasa bahkan kumpulan musisi yang ada di Buleleng. Kegiatan yang mengambil tema Peduli Lewat Nada merupakan bentuk respon dari musisi dan para seniman Buleleng untuk membantu meringankan beban saudara-saudara di pengungsian.
Acara yang diadakan di Pantai Penimbangan (24/09) ini melibatkan beberapa komunitas musik dan seni, bahkan dihadiri hampir semua perwakilan musisi band di Buleleng berkumpul, menyanyi, berpuisi, dan menampilkan beberapa acara spontan. Acara tersebut dibarengi dengan penggalangan dana dibeberapa spot keramaian. Selain untuk penggalangan dana, acara spontan tersebut juga sebagai ajang silahturahmi musisi Buleleng yang sangat jarang berkumpul. “Buleleng ini kan kaya sekali dengan musisi-musisi dan seniman, melalui ajang seperti inilah kita dapat berkumpul hampir semuanya,” ungkap Dedy Yastika penggagas dan penggerak acara Peduli Lewat Nada tersebut.
Pria yang akrab disapa Melor ini mengungkapkan dari hasil penggalangan dana, donasi yang dikumpulkan berupa materi sebanyak Rp. 13.791.000, sedangkan 46 dus aneka bahan makanan dan pakaian layak pakai juga ikut dikumpulkan. Rencananya, bantuan tersebut telah didistribusikan 28 September ke beberapa wilayah di Buleleng Timur. “Selain bantuan, kami juga akan mengajak beberapa musisi dan seniman turut hadir dalam penyerahan bantuan tersebut sembari ikut menghibur di sana. Mereka juga butuh hiburan untuk mengembalikan psikis mereka yang tengah trauma,” imbuhnya.
Ditambahkan oleh Dedy, bencana yang tidak tahu kapan berakhirnya ini tentu akan membuat masyarakat bertahan lebih lama di posko pengungsian sehingga kebutuhan logistik juga akan terus bertambah. Dirinya khawatir jika bantuan datang hanya di awal terjadinya bencana saja namun akan semakin berkurang seiring lamanya waktu pengungsian. “Pergerakan ini tidak berhenti sampai di sini karena kita tidak pernah tahu kapan bencana ini berakhir dan pastinya bantuan akan semakin menipis, maka dari itu harus tetap bergerak,” tandasnya.(Wiwin Meliana).

To Top