Kreasi

Tato: Ekspresi dari Imajinasi

Tato tak hanya sebuah seni gambar, tetapi juga merupakan ungkapan rasa indah. Sebab, membuat tato tak hanya meniru gambar yang sudah ada, tetapi juga membuat baru berdasarkan imajinasi lewat rekaman pengalaman. Apalagi memiliki budaya tradisi yang kental, gambar akan tampak lebih hidup. “Membuat tato tanpa memiliki dasar seni dan budaya akan tampak kaku, seperti tak memiliki jiwa, ” kata Wayan Suartana, pemilik Balinesia Tattoo.
Gambar-gambar tato yang menjadi hasil karyanya, tak hanya indah, tetapi juga memiliki sebuah spiritualitas dan ekspresi dari kreasi setiap gambarnya. Itu karena setiap tukang tato memiliki keahlian tersendiri, dan tentu masih kuat dengan budaya Balinya. Imajinasi sangat tinggi, sehingga antara tato yang satu dengan yang lain memiliki keunggulan masing-masing. Baik dalam bentuk gambar, warna dan kualitas ketahanannnya. “Walaupun sama-sama sebagai tukang tato, tetapi kami mengutamakan kebersihan yang menggunakan alat-alat yang disteril. Itu karena kami sangat profesional, sehingga hasilnya bagus,” ucapnya serius.
Dalam prakteknya, Wayan Tagel – demikian sapaan Suartana yang juga sebagai pengusha villa mengajak 6 orang tukang tato untuk memperkuat Balinesia Tattoo. Para tukang tato asli Bali itu, sangat ramah disamping memiliki kepiawaian dalam berekspresi seni. Goresannya lebih bagus dan gambar menjadi tampak lebih hidup. Demikian pula dalam memberikan warna, baik warna hitam putih atapun aneka warna lainnya pasti tampak terlihat serasi. Bentuknya bervariasi, sehingga ada banyak pilihan. Ada yang realis (portret), oriental, biomechanical model dan banyak lagi lainnya. “Khusus Balinese still ada yang berbentuk barong, rangda, tari Bali, seperti Legong dan Topeng,” paparnya.
KEDEPANKAN ETIKA
Meski telah memiliki pakem gambar tersendiri, namun para pelanggan juga bisa membawa desain sendiri ataupun ide yang akan diwujudkan dalam gambar tato. Khusus bagi pecinta Bali, mereka memilih gambar berupa simbol-simbol Agama Hindu di Bali, seperti Ong Kara. “Tamu menyukai simbol-simbol Agama Hindu karena tertarik dengan ajarannya, seperti ada baik dan buruk, konsep rwa bhineda, keyakinan terhadap Tuhan,” ujar pelukis otodidak asal Ubud Gianyar ini kalem.
Kalau membuat simbol-simbol agama itu, para tukang tato ini tetap mengedepankan etika dan tanggung jawab moral. Mereka tidak mau membuatnya di bagian tubuh di bawah pusar. “Meski ini hanya sebuah gambar, kami tidak mau membuatnya dari pusar ke bawah. Sebelum menggmbar, kami juga memberikan pemahaman, informasi terhadap bentuk yang akan digambar, baik arti dan fungsinya, sehingga mereka bisa mengerti” imbuh seniman yang sudah biasa menjual lukisan sejak kecil itu.
Dewa Sandiasa, asisten artist di Balinesia Tattoo mengatakan, banyak juga tamu yang membawa desain sendiri dari negaranya. Karena itu, para artis ini bisa melukis langsung (freehand), selain dengan cara menempel gambar yang sudah ada. “Mereka senang dengan gaya Balinesia Tattoo, sehingga ada yang membuat tato setiap datang ke Bali. Ada yang 6 kali membuat tato secara berturut-turut di sini. Dalam setahun itu bisa tiga kali membuat tato. Konon ini sebagai kenang-kenang ketika berwisata di Pulau Dewata,” ujarnya.
Ia menambahkan Balinesia Tattoo dan cabangnya mengedepankan konsep friendly, mudah bergaul dan selalu ramah. Setiap pelanggan yang datang dianggap seperti saudara sendiri, bukan sebagai pembeli. Karena itu berbagai penghargaan pernah diraih Balinesia Tattoo, diantaranya Bali Tatto Artis Club, Dinas Kesehatan Sanitasi Propinsi Bali, serta pernah meraih juara I Tattoo Show Ubud Tatto Kontes (2015), sebagai peserta pameran di Bali, Bandung, Yogyakarta dan mengikuti Expo di Australia 2017 serta banyak lagi lainnya. (Darsana)

To Top