Bunda & Ananda

Berikan Rasa Nyaman

Bunda Agus Binti, Kh.

Seminggu terakhir ini, Bali sedang diuji. Semenjak status Gunung Agung berada di level Siaga IV (Awas), warga yang daerahnya terdampak diungsikan ke wilayah yang aman. Ada kekhawatiran, para pengungsi ini bisa trauma atas apa yang mereka hadapi saat ini dan apa yang akan terjadi jika gunung Agung benar-benar meletus.
Kata trauma memang sering digunakan pada sesuatu hal yang membuat orang gelisah, takut, panik. Namun menurut Psikolog Bunda Agus Binti, Kh., banyak orang salah mengartikan trauma. Bahwasanya, trauma dengan ketakutan atau kecemasan itu adalah dua hal yang berbeda. Walaupun dalam trauma itu kesemuanya itu terangkum.
Definisi secara umum, trauma adalah kondisi psikologis (tekanan psikologis) yang muncul dalam diri seseorang karena kejadian tertentu yang terkait dengan membahayakan jiwanya. Hal ini berujung pada tingkah laku yang tidak normal sebagai akibat dari tekanan psikologis yang dialaminya.
Owner Pusat Terapi dan Homeschooling Madia Center ini mengatakan, trauma ada banyak macamnya. Ada yang trauma karena pengobatan, duka cita, bencana alam, trauma karena merasa menjadi orang yang diabaikan, atau trauma yang kompleks. Misalkan trauma dalam pengobatan, bisa dikarenakan orang tersebut dalam riwayat pengobatannya pernah salah penanganan sehingga mengalami trauma secara medis. Contoh trauma karena duka cita, ini bisa dikarenakan perasaan kehilangan yang amat sangat.
“Trauma ini sangat bisa ditangani sendiri jika memang benar-benar ada kesadaran intelegensi yang bersangkutan. Jika sudah tak bisa mengatasinya, datanglah kepada ahlinya,” ujarnya.
Phobia adalah ketakutan (tidak berani) terhadap sesuatu secara berlebihan, berbeda dengan trauma. Namun jika phobia ini berlanjut sangat bisa menjadi trauma. Ada tahapan-tahapan tertentu bagaimana menghilangkan phobia, demikian juga dengan trauma.
Bunda Agus menjelaskan, untuk mengatasi segala jenis masalah yang dihadapi manusia, kita perlu mendalami/mencari akar permasalahannya (penyebab). Karena darisana kita akan bisa men-treatment dan memberikan solusi bagaimana cara sesungguhnya. Apakah nanti dengan behavioristik, humanis, psikoterapi, atau dengan teknik lain. Kuncinya ada pada diri manusia itu sendiri, mau atau tidak.
Bagi mereka yang mengalami trauma, yang bisa dilakukan orang-orang terdekatnya adalah memberikan rasa nyaman. Kenyamanan itu banyak faktor dan banyak hal. Namun yang paling perlu dipahami oleh orang-orang terdekatnya ni adalah pemicu yang mengakibatkan seseorang ini trauma.
Bunda Agus menyontohkan sebuah kasus yang sedang ditanganinya, yakni seseorang yang trauma duka cita yang akhirnya mengalami psikosomatis. Trauma ini tidak tiba-tiba muncul, sudah ada indikasi/faktor, yang mana kecerdasan emosi berpengaruh pada problem solving yang dihadapi manusia. Saat kematangan emosi itu bagus, maka ia akan lebih mudah mengolah atau menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sementara bagi mereka yang memiliki kematangan emosi yang rendah, biasanya daya juangnya rendah, tingkat keputusaasannya juga sangat rentan, dan stresnya pun rentan. Sehingga saat ia mengalami masalah, perilaku emosi negatiflah yang mendominasi, cara berpikir dan kemudian inilah yang muncul pada perilaku-perilaku.
Inilah yang terjadi pada kliennya. Padahal secara intelektual, ia lulusan cumlaude pada sebuah perguruan tinggi ternama, istri seorang pejabat yang pastinya berkecukupan dalam segala hal. Bahkan dari latar belakang keluarga yang disiplinnya tinggi, yang secara logika seharusnya mentalnya lebih kuat. Namun nyatanya juga bisa mengalami trauma.
Orang-orang yang lemah, dikatakannya lebih mudah mengalami goncangan psikologis. Dan segala sesuatu itu ada pada semua manusia. Yang membedakan adalah pencetusnya, potensi-potensi yang dimiliki dari kematangan emosi. Kasusnya adalah kehilangan ibunya. Rentetannya ada kejadian bahwa ia merasa didzolomi oleh suami dengan kondisi ibunya sakit, ia merasa sebagai objek penderita, dan segala perasaan negatif lainnya. Ibunya mendapat serangan jantung dibawa ke rumah sakit, dan ia mendapat kabar bahwa ibunya meninggal.
Kondisi duka cita ini membuat perubahan drastis pada dirinya. “Ia tak berani memasuki rumah. Ia sudah ke dokter dsb., dan datang ke saya dalam kondisi tremor dengan suhu badan dingin. Dan setelah kami menggali akar permasalahannya, baru kami bisa melalukan treatment. Syukurnya sekarang sudah ada kemajuan,” tuturnya.
Dalam kasus ini, trauma berat yang dipicu dari tekanan-tekanan berat ini meyebabkan psikologis dan psikis ini berubahan drastis, ada perubahan tingkah laku menjadi abnormal yang bisa berakibat ke penyakit-penyakit fisik. Sampai-sampai kliennya ini tak bisa bernapas, tremor, dan berpikir dia mau mati. Setiap orang pasti akan pernah mengalami suatu kejadian yang misalkan sangat menakutkan, respons pertama pasti ada, cemas. Orang yang cara berpikirnya dewasa pasti tidak akan terbawa ke emosinya.
Bunda Agus mengisahkan pengalaman pribadinya saat berusia 6 tahun yang setiap malam selalu mimpi buruk. Tapi yang jelas itu berpengaruh pada perilakunya dulu, ketika sudah mulai gelap ia mulai tidak nyaman sampai akhirnya takut tidur. Awalnya adalah rasa yang wajar, karena ketidakpahamannya saat itu, akhirnya berkelanjutan. Kaitannya dengan orang terdekat, apakah mereka bisa membaca kondisinya? .”Jika orang-orang terdekat bisa membaca kondisi tersebut, artinya harus membuat kondis nyaman, entah caranya seperti apa sesuai dengan tahapan usia. Bisa jadi ditemani tidur, dikeloni, dsb.,” tuturnya.
Terkait dengan kondisi para pengungsi gunung agung ini, ia mengatakan sangat perlu dipahami bagaimana kehidupan mereka sebelumnya, sebelum mengungsi. “Jadi istilahnya, kita hanya memindahkan tempat saja untuk sementara. Jangan sampai setelah di tempat pengungsian mereka hanya duduk diam tanpa mengerjakan apa-apa, seperti halnya bayi yang disuapi. Jangan malah melemahkan mental, tapi mari berdayakan mereka,” ucapnya.
Pemilihan kegiatan yang akan diberikan kepada para pengungsi ini pun dikatakannya goalnya harus jelas. Misalkan kegiatan untuk anak bisa diberikan permainan-permainan yang bisa memberikan mereka pemahaman dari kondisi nyaman menjadi tidak nyaman, mengungsi itu seperti apa (dengan pemilihan kata yang sederhana), yang bisa menumbuhkan daya juang dan mental anak. “Bisa dengan melakukan outbond dengan alam. Anak-anak tetap fun dan nanti dengan sendirinya akan muncul daya juang anak saat berhadapan dengan kondisi alam, karena kita sudah dibekali Tuhan untuk itu,” tandasnya. (Inten Indrawati)

To Top