Kolom

DUKUNGAN PSIKOLOGIS SAAT DAN PASKABENCANA ALAM

Bencana alam adalah salah satu hal yang tidak pernah terprediksi dengan akurat dalam kehidupan kita. Ketika terjadi, kadang semuanya berlangsung begitu tiba-tiba dan cepat. Kejadian tersebut dapat mengganggu kehidupan kita dan mengakibatkan ketidaknyamanan bahkan penderitaan yang melampaui kapasitas kita dalam mengatasinya. Individu satu dengan yang lainnya akan merespon secara berbeda-beda ketika menghadapi bencana alam. Hal ini menjadikan besar dan beratnya ketidaknyamanan tidak dapat dipukul rata pada setiap individu.
Bencana alam memiliki dampak dalam kehidupan seseorang. Kerugian materi seperti tempat tinggal, kepemilikan lahan, dan harta benda adalah hal yang paling sering dirasakan paska bencana alam terjadi. Secara fisik, seseorang dapat mengalami penurunan dan masalah kesehatan. Adanya ketidaknyamanan karena harus mengungsi, berpisah dengan anggota keluarga, ataupun karena masa penyesuaian dengan kelompok dan situasi baru juga sering dialami. Tidak hanya itu, teman-teman di pengungisian juga merasakan emosi-emosi negatif, keresahan, kegelisahan, dan ketakutan. Seseorang juga dapat menjadi “mati rasa”, karena bingung semuanya terjadi begitu cepat. Hal lain yang dapat terjadi adalah stres hingga trauma.
Gejala-gejala ketidaknyamanan maupun masalah psikologis yang nampak bisanya berupa ketakutan, kecemasan, perasaan yang kuat dan tidak dapat diprediksi, menjadi lebih sensitif, suasana hati menjadi fluktuatif, kebingungan dalam membuat keputusan, masalah tidur dan makan, munculnya keluhan fisik seperti pusing, mual, berdebar, atau sesak, serta selalu teringat situasi bencana yang dialami. Rentangan permasalahan psikologis seseorang paskabencana alam sangat bervariasi. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya adalah pengalaman menghadapi situasi bencana terdahulu, besarnya kerugian yang berdampak pada individu paska bencana, kesehatan fisik dan usia, daya lenting atau kemampuan individu untuk pulih dan kembali adaptif, sumber dukungan yang dimiliki seperti keluarga atau teman, serta tidak terlepas dari budaya dan tradisi.
Apa yang dapat kita lakukan selama masa transisi dan pemulihan? Kita dapat memperhatikan kesejahteraan psikologis dari teman-teman penyintas bencana alam. Menciptakan situasi dan kondisi yang nyaman menjadi hal yang utama. Kenyamanan dapat diciptakan dengan memberikan bantuan sesuai dengan kebutuhan termasuk kebutuhan psikologis. Salah satu bentuk bantuan adalah dengan memberikan dukungan psikologis untuk memfasilitasi perasaan-perasaan negatif seperti kekosongan, merasa kurang beruntung dibandingkan dengan yang tidak mengalami bencana alam dan perasaan kehilangan.
Berikutnya, yakin dan hargailah bahwa masing-masing individu memiliki kemampuan yang hebat untuk pulih. Setiap individu memiliki kemampuan untuk bangkit dan pulih dari keterpurukan yang dialami. Kapasitas yang dimilki oleh seseorang untuk dapat bangkit terdiri dari beberapa aspek. Pertama, pengalaman individu misalnya pengalamannya ketika menghadapi situasi bencana serupa yang membuatnya lebih cepat tanggap terhadap situasi yang dihadapi. Selanjutnya adalah keterampilan individu dalam merencanakan, pengelolaan dan menyelesaikan masalah yang baik akan membantu individu lebih adaptif. Berikutnya adalah interaksi dan relasi sehingga hubungan dan dukungan sosial dari orang lain tetap terjalin. Berikan bantuan sesuai dengan kemampuan kita dan tetap memahami bahwa pemulihan membutuhkan waktu.
Melakukan kegiatan bersama, saling berhubungan, berbagi dan membantu. Kegiatan bersama yang dilakukan diantara teman-teman yang memiliki pengalaman musibah bencana yang sama akan memberikan kesan dan makna tersendiri. Bentuk kegiatan bersama dapat berupa hiburan, memasak untuk bersama, memperbaiki fasilitas bersama, membuat kerajinan atau beribadah. Ketika menjalani aktivitas bersama biasanya akan muncul kebersamaan, kelekatan dan perasaan saling mendukung satu sama lainnya. Kegiatan yang dilakukan bersama-sama membuat teman-teman di pengungsian dapat menjalin interaksi sosial seperti berbagi cerita, bertukar isi pikiran, menyampaikan perasaan yang mengganjal. Dinamika tersebut dapat membantu teman-teman menjadi lebih produktif, berkualitas dan bermakna.yang mengarah pada pemulihan.
Berikutnya, cobalah untuk mencari informasi yang valid dan terpercaya dalam menyikapi situasi kebencanaan. Hindari isu-isu dari sumber yang tidak dapat dipercaya kebenarannya. Belajar dari pengalaman dan berlatih untuk lebih tenang dalam menghadapi hari misalnya dengan berlatih mengatur nafas dan berdoa atau kegiatan lainnya yang dirasa nyaman. Jika ketidaknyamanan psikologis dan fisik pada teman-teman penyintas tidak berangsur membaik, kita dapat membantu dengan menghubungi profesional sehingga mendapatkan pertolongan yang lebih komprehensif dan intensif.

Made Padma Dewi Bajirani
(Mahasiswi Magister Psikologi
Profesi Bidang Klinis,
Universitas Gadjah Mada)

To Top