Kolom

FILM G 30 S PKI

Ketika film G 30 S PKI diputar lagi, muncul masalah. Ada yang tak suka karena menganggap film itu mengingatkan pada luka lama. Namun sebaliknya, banyak yang mendukung, pemutaran film itu penting, karena sejarah kita yang berdarah itu mulai kabur plus indikasi ada pihak yang mau melupakannya.
“Banyak anak muda yang pintar, menyandang gelar doktor, tapi lahir sesudah 1965 atau masih kecil di era itu, beringas menuntut keadilan karena keluarganya tertumpas dan terhukum tanpa nelalui peradilan. Mereka menuntut HAM berpihak kepada mereka. Tapi mereka lupakan saja teror dan segala intimidasi yang mengacaukan serta mengancam rakyat yang berkali-kali dilakukan PKI,” kata Amat.
“Jadi bagaimana kalau begitu, Pak?”
Amat terdiam.
“Inilah persoalan kita sekarang. Kita lebih cenderung melihat berbagai masalah dari kepentingan sendiri. Karena rasa kebangsaan kita sudah terus menipis.”
“Kenapa begitu, Pak?”
“Karena para pemimpin kita sudah terbiasa mendahulukan kepentingan kelompoknya, jadi kepentingan bersama jadi tak diurus.”
“Tapi kan sudah betul begitu? Para pemimpin memang bertugas membagiakan kelompoknya? Siapa lagi yang memperjuangkan kepentingan kelompok kalau bukan pemimpin?!”
“Betul! Tapi itu berarti kita tidak punya pemimpin nasional!”
“Ah, masak tidak?” Bapak jangan ngomong begitu, nanti didengar orang, dapat perkara kita!”
Tak terduga, malam itu juga, Amat kedatangan tamu. Tiga orang pemuda yang nampak tersinggung oleh komentar Amat.
“Pak Amat, kami ingin klarifikasi pernyataan Bapak yang hebat itu!”
Amat terkejut.
“Lho pernyataan apa?”
“Bapak bilang: kami yang lahir sesudah 1965 atau masih kecil di era itu, beringas menuntut keadilan karena keluarga kami tertumpas dan terhukum tanpa melalui peradilan. Bapak menuduh kami menuntut HAM agar berpihak kepada kami. Bapak menuduh kami melupakan saja teror dan, intimidasi yang mengacaukan serta mengancam rakyat yang berkali-kali dilakukan PKI. Betul?”
Amat heran. Bgaimana mereka sampai tahu itu? Tapi Amat mengangguk.
“Betul. Kenapa?”
Ketiga orang itu melihat satu sama lain. Kemudian berdiskusi bisik-bisik. Amat jadi tak sabar.
“Saya ulangi, itu betul. Kalian ini siapa?”
“Sebentar, Pak.”
“Kalian putra-putra atau cucu orang tua kalian yang sudah tertumpas? Dan sekarang marah mau menuntut keadilan? Ya?!”
Para pemuda masih berdiskusi. Amat mulai naik darah.
“Baik!” kata Amat dengan gemas sambil membuka bajunya.
“Orang tua kalian, atau kakek kalian itu sudah membakar rumah bapak dan membacok punggung bapak. Kalau tidak cepat diselamatkan polisi, kalian tidak akan pernah lihat si Amat ini, seperti sekarang. Jadi silakan kalau mau protes!”
Ketiga pemuda itu terkejut. Salah seorang lalu bicara.
“Pak, Amat. Kami datang bukan untuk protes. Kami datang untuk minta maaf, atas semua kesalahan, orang tua kami, kakek kami. Mari kita akhiri semua ini dengan pengertian baru … .”
Amat ternganga.

To Top