Kreasi

Fotografi Lawas yang Bikin Puas

Gung Ama saat memotret

Dunia fotografi mengenal berbagai macam aliran atau model. Pilihan pun menjadi beragam. Salah satu yang kini banyak diminati adalah fotografi model kuno atau lawas. Teknik warna menjadikan objek serasa berada di zaman lampau. Nama fotografer Gusti Agung Wijaya Utama, S.Sn. alias Gung Ama menjadi salah satu referensi untuk fotografi lawas ini.
Gung Ama menuturkan dirinya mulai memotret tahun 2006 bersamaan dengan kuliahnya di Jurusan Fotograsi ISI Denpasar. “Saya merasa tidak punya skill khusus. Di sisi lain, saya tidak terlalu senang teori. Sukanya praktik. Pilihan pun ke fotografi karena banyak praktik. Saya lebih banyak belajar di lapangan,” ungkapnya.
Orangtua Gung Ama sempat melarang Gung Ama menekuni fotografi. Namun, ia berhasil meyakinkan orangtuanya, banyak hal yang bisa dieksplor dari fotografi. Masing-masing fotografer akan memiliki cirinya sendiri dan bidangnya beragam.
Sebagai langkah awal, Gung Ama menekuni fotografi jurnalistik. “Saya punya cita-cita memotret di daerah peperangan. Untuk menunjang kiprah di fotografi jurnalistik, saya bergabung dengan media Magic Wave kemudian Magic Ink. Banyak hal yang berhasil saya pelajari,” kenang suami Putu Ayu Suma Lestari ini.
Kuliah sambil kerja di media ternyata tak membuat skripsinya berkaitan dengan jurnalistik. Gung Ama memilih fotografi underwater sebagai tema skripsinya. Biota laut khususnya kuda laut dijadikan objek. Skripsi ini mengantarkan Gung Ama meraih gelar sarjana fotografi tahun 2011.
Tamat S1, ia melanjutkan kuliah S2 di ISI. Setelah jalan beberapa waktu, kuliahnya terhambat. Idenya membuat tesis tentang alat bantu pemotretan untuk kaum disabilitas mengalami kendala. “Saya ingin berbagi kebahagiaan dalam fotografi, salah satunya dengan membuat alat bantu. Ternyata ada kendala. Kuliah pun terhenti. Semoga nanti ada kesempatan lagi untuk kuliah,” ujar ayah dari Gusti Agung Kanaya Utama dan Gusti Istri Agung Indira Laksmi Utama ini.
PROYEK IDEALIS
Gung Ama sempat berhenti memotret 2012. Ia merasa tidak punya ciri khas. Pria asal Tegaltamu, Batubulan, Gianyar ini tidak mau jadi follower. Ia ingin sesuatu yang berbeda, lain dari yang lain. Waktu kosongnya dipakai untuk membuka usaha soto di Bencingah Batubulan. Usaha food truck ini diberi nama Sotography dan kini sudah berpindah ke Celuk.
Di masa-masa rehatnya, Gung Ama berkeinginan membuat buku tentang fotografi yang bisa menjadi hadiah. Buku ini akan membawa kita bernostalgia ke masa lalu. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Gung Ama bertemu Gung De Emoni yang akan menikah. Gung Ama menawarkan diri untuk membuat foto prewedding untuk Gung De.
“Waktu saya nikah, Gung De dan Emoni tampil menghibur undangan. Giliran saya untuk memberikan sesuatu untuk Gung De. Karena saya di bidang fotografi, saya buatkan konsep fotografi lawas. Ternyata Gung De setuju. Dia jadi “kelinci percobaan” saya. Sebelumnya saya sudah riset kecil-kecilan. Di luar dugaan, hasil foto prewedding ini mendapat respons luar biasa. Banyak yang berminat. Tone pertama yang saya publikasikan di media sosial banyak yang minat,” kenang Gung Ama.
Dari langkah awal ini, ide untuk menekuni fotografi lawas pun menggelora. Gung Ama merancang proyek idealisnya dengan Rekonstruksi Bali 1930. Pemilihan tahun 1930 didasarkan pada referensi Bali sudah agak “maju” dan tidak kuno-kuno amat. Bioskop sudah ada pada zaman itu. Sejatinya Gung Ama merancang rekonstruksi untuk foto-foto kerajaan yang ada di Bali. Ia ingin menggambarkan kembali suasana zaman kerajaan kala itu, Raja dikelilingi para punggawa dan masyarakat.
Gung Ama kemudian bertemu Marlowe Bandem yang menjadi mentornya. Mereka sama-sama punya keinginan merekonstruksi Bali masa lampau. Dari sini, Gung Ama mempersempit tema fotonya. Ia fokus pada tarian masa lalu, khususnya legong. Legong ini pun memiliki banyak versi. Salah satu penari yang terkenal adalah Ni Polok dengan Legong style Kelandis. Referensi pun didapat dari buku peninggalan istri pelukis Lemayour ini.
“Buku rekonstruksi Ni Polok ini jadi Oktober 2017 yang diluncurkan sekaligus dengan pameran di Jakarta. Ni Polok diperankan model, ada yang anak-anak dan ada yang dewasa,” ungkap Gung Ama.

BAWA KLIEN KE MASA LALU
Ia menambahkan proyek idealis fotografi rekonstruksi ini dipersembahkan bagi seniman-seniman lawas Bali. Ini sebagai bukti kreativitas mereka pada masanya. Di sisi lain, Gung Ama menerima pemotretan jadul untuk prewedding dan pemotretan khusus bayi. Sisi idealis dan komersil jalankan untuk keseimbangan.
Kini di akun Instagram Gamaphoto1930 banyak ditemukan foto-foto karya Gung Ama. Dengan tagline “Mekenyem Sube Biase” ia memperlihatkan berbagai model dan tone warna fotografi lawas yang membuat klien puas.
“Untuk membuat konsep foto lawas, saya bisa bertemu klien dua sampai tiga kali. Saya arahkan pikiran mereka ke masa lalu biar matching sama suasana. Secara teknik, sama seperti fotografi umum. Hanya saat mengedit itu perlu teknik khusus untuk milih tone yang sesuai warna masa lalu,” jelas Gung Ama. Klien bisa memilih model kerajaan atau yang casual era 1970-an dengan biaya mulai Rp 3 juta.
Ke depan, Gung Ama masih berharap bisa menyelesaikan alat bantu pemotretan untuk kaum disabilitas dan menyelesaikan buku Rekonstruksi Bali 1930 sebagai sumbangsihnya. (Ngurah Budi)

To Top