Bunda & Ananda

“Belajar sambil Bernyanyi”

Wah Alit, Dewa Putu Beratha, Gus Saka, Nonik

Dunia anak-anak adalah dunia bermain, dunia yang penuh keceriaan. Di Bali, orangtua memberikan pelajaran dan bimbingan kepada anak-anaknya selalu memakai media bermain dan bernyanyi. Sambil bermain dan bernyanyi, anak-anak diajarkan rasa toleransi dan kepekaan rasa seninya melalui sebuah lagu. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Drs. Dewa Putu Beratha, M.Si. terkait penyelenggaraan Lomba Menyanyi Lagu Bali tingkat Anak-anak dalam Bali Mandara Nawanatya II-2017.
“Pelajaran yang akan terserap lewat lirik-lirik lagu yang dihapalkannya dikenal dengan metode ‘melajah sambil mengending’ (belajar sambil bernyanyi),” ujar Beratha. Menurutnya, dalam lagu Bali, anak-anak tidak hanya bermain, melainkan dalam lagu Bali tersebut juga akan membentuk karakter anak, karena di dalamnya terkandung banyak pelajaran etika, sopan santun, mencintai lingkungan, dan menjaga keharmonisan.
Syair-syair lagu Bali banyak mengandung makna yang mengagungkan seni budaya Bali. Terkait dengan pengenalan, pemahaman dan mencintai bahasa dan budaya Bali bagi anak-anak Bali perlu dilakukan langkah-langkah konkrit yaitu melalui Lomba Menyanyi Lagu Bali tingkat Anak-anak. Melalui lomba ini, di samping membangun kepribadian dan karakter anak, kami mencoba menciptakan ruang untuk menggali dan memupuk bakat anak-anak, terutama di bidang menyanyi.
Salah seorang juri, Nonik Punkwala mengatakan merasa sangat berbahagia karena begitu banyaknya peserta yang ikut berpartisipasi dalam lomba lagu anak kali ini. “Hal ini menunjukkan adanya minat yang tinggi khususnya terhadap lagu Bali. Semoga ke depannya lahir bibit potensial untuk bisa mengajegkan lagu Bali. Semua bisa terjadi mulai saat ini dari lomba ini,” ujar arranger dan gitaris Punkwala Band ini, ditemui usai acara Lomba Menyanyi Lagu Bali tingkat Anak-Anak, Rabu (20/9) di Gedung Ksirarnawa, Art Centre, Denpasar.
Saking banyaknya peserta yang rata-rata lumayan bagus, perolehan nilai pun begitu ketat. Tapi yang namanya lomba tentu harus ada pemenangnya. “Untuk yang beruntung menang hari ini jangan besar hati jangan jumawa, tetap belajar. Tetap gali potensi yang ada agar apa yang dicitakan tercapai. Untuk yang belum beruntung masih banyak kesempatan lain, tetap berlatih dan berusaha. Evaluasi kesalahan, perbaiki semoga kedepannya bisa meningkat dan lebih bagus lagi. Ini bukan hal kalah menang tapi beruntung dan tdk beruntung saja,” pesan Nonik.
BAWAKAN LAGU ANAK SESUAI USIANYA
Catatan dari dewan juri yang lain, Gus Saka dan Wah Alit, masih ada beberapa peserta tegang yang terlihat dari raut wajahnya, demam panggung, dan lupa lirik. Ada pula yang saking semangatnya jadi tidak kontrol vocal. Ada yang fals tapi mentalnya bagus hingga bisa menyelesaikan sampai akhir lagu.
Nonik kembali menggarisbawahi dari sisi aransemen lagu. Untuk kategori anak lagu yang dibawakan sudah cukup representatif mewakili anak seperti Juru pencar, Putri Cening Ayu, Goak Maling Taluh, Ratu Anom, dll., kategori Sekar Rare. Namun aransemen musiknya terlalu berat seperti musik pop daerah dewasa, nada-nada modern serta chord yang kontra. Karenanya, perlu musikalisasi yang tinggi untuk dapat membawakannya. Dan yang akhirnya terjadi adalah banyak anak yang terjebak dengan mengikuti musik dan keluar dari jalur lagu aslinya. Ada yang sangat bagus di awal tapi fals ketika musiknya di tengah naik nada. Ada yang improvisasi yang berlebihan yang hasilnya menjadi tidak maksimal. “Untuk lomba itu sah saja, tapi perlu diperhatikan setiap detail yang dapat membantu kita untuk bisa tampil maksimal,” ujar Nonik.
Wah Alit menambahkan, sangat mengapresiasi digelarnya lomba lagu Bali anak ini, lebih khusus lagi Sekar Rare. Karena ia lihat sekarang ini banyak anak tak mengenal lagu daerahnya. “Dari beberapa peserta, meski membawakan lagu anak-anak tapi kesannya dewasa, pembawaan mereka kadang tak sesuai usianya. Namun, ada juga yang berhasil menampilkannya dengan baik yang mampu menggetarkan jiwa,” ujar penyanyi, MC, dan juga aktor FTV ini.
Seyogyanya lagu anak adalah bercerita tentang anak, ketika menyanyikannya pesan dari lagu anak tersebut bisa tersampaikan. Misalnya ketika menyebut ambu, tunjuklah awan di atas, atau ketika menyebut cunguh besil tunjuklah hidung sehingga orang awam pun mengerti tentang isi lagu yang dinyayikan.
Meski demikian, Gus saka mengatakan perkembangan lagu Bali sudah sangat baik. Malah sekarang setiap tahun lagu anak-anak album Bali Kumara diproduksi setiap tahunnya. Biasanya di album ini lagu-lagunya banyak dipakai lomba. Lagu-lagu itu pun tentang mengajegkan budaya bali. “Jadi, kini sudah semakin banyak anak-anak SD yang tertarik menyanyikan lagu berbahasa Bali,” ujar penyanyi yang masuk 10 besar Indonesia Idol audisi Bali, dan juga pengajar seni di Sanggar Cressendo Gria Musika Sukawati, Gianyar ini.
Sementara untuk lagu-lagu komersil yang bertemakan anak-anak juga diamati sudah mulai menjamur dan kerap didengarnya di radio-radio swasta. “Lagu Bali yang bertemakan anak-anak sudah mampu menjadi tuan rumah dan kita tidak lagi kekurangan lagu Bali yang bertemakan anak-anak,” ujar Bintang Radio dan Televisi RRI Denpasar, BRTV Nasional ini. (Inten Indrawati)

To Top